FTUI Lakukan Misi Kemanusiaan dan Pemetaan Pascabanjir Bandang di Aceh Tengah
FAKULTAS Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menjalankan misi kemanusiaan sekaligus pemetaan pascabencana banjir bandang di Desa Kala Segi dan Desa Toweren, Kabupaten Aceh Tengah. Kegiatan ini dilakukan melalui Satuan Tugas Kebencanaan FTUI sebagai bentuk kepedulian dan kontribusi akademisi dalam mendukung penanganan serta pemulihan wilayah terdampak bencana.
Misi kemanusiaan tersebut dipimpin langsung oleh Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, dan dilaksanakan bersama Posko Rakyat Aceh Tengah serta Ikatan Alumni FTUI (ILUNI FTUI). Selain menyalurkan bantuan, tim juga melakukan pemetaan kebutuhan lapangan untuk mendukung perencanaan pemulihan jangka menengah dan panjang.
Di Desa Kala Segi, FTUI menyalurkan bantuan alat tulis dan perlengkapan kebersihan guna mendukung pemulihan aktivitas pendidikan dan lingkungan warga. Sementara di Desa Toweren, masyarakat menerima bantuan mesin pemotong kayu yang akan dimanfaatkan secara bersama untuk mendukung rehabilitasi infrastruktur serta pemulihan ekonomi pascabanjir.
Tim Satgas Kebencanaan FTUI juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk mengidentifikasi potensi kontribusi berbasis keilmuan, teknologi, dan keahlian multidisiplin. Langkah ini menjadi bagian dari upaya FTUI dalam memastikan proses pemulihan dilakukan secara terencana dan berkelanjutan.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, FTUI menggelar pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah yang diwakili Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, serta Kepala Dinas PUPR, Pijas Visara. Pertemuan membahas hasil awal dan rencana asesmen terkait fenomena sinkhole serta potensi longsor di sejumlah wilayah terdampak.
Diskusi juga menekankan pentingnya analisis kondisi tanah dan geologi sebagai dasar penguatan mitigasi bencana ke depan.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek kebencanaan, tetapi juga penataan kawasan di luar wilayah Danau Laut Tawar dengan mempertimbangkan prinsip keselamatan, tata ruang, dan keberlanjutan lingkungan. Potensi pengembangan pariwisata Danau Laut Tawar yang terintegrasi dengan perencanaan wilayah, termasuk penguatan kapasitas sumber daya manusia pemerintah daerah di bidang pariwisata, turut menjadi agenda diskusi.
Wakil Bupati Aceh Tengah menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk memfasilitasi kolaborasi dengan ILUNI FTUI, khususnya dalam pendampingan teknis dan penerapan mitigasi bencana secara berkelanjutan.
“Kami menyambut baik keterlibatan Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang tidak hanya hadir dengan bantuan kemanusiaan, tetapi juga dengan pendekatan keilmuan dan teknologi. Kolaborasi ini sangat penting untuk memperkuat mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan Aceh Tengah yang lebih aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kampung Toweren, Kecamatan Lut Tawar, menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang menyapu permukiman dan area persawahan di empat desa, yakni Toweren Toa, Toweren Uken, Toweren Antara, dan Toweren Uwaq. Kerusakan fasilitas serta terganggunya aktivitas ekonomi warga menjadi perhatian utama dalam dialog antara FTUI, masyarakat, dan pengelola posko yang berlangsung di meunasah setempat.
Dekan FTUI, Prof. Kemas Ridwan Kurniawan, menekankan pentingnya kolaborasi dalam proses pemulihan pascabencana.
“Mesin dan alat yang disalurkan diharapkan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh masyarakat yang membutuhkan. Pemulihan pascabencana membutuhkan kolaborasi, solidaritas, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Prof. Kemas juga meninjau rumah adat di Desa Toweren yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Bangunan bernilai sejarah dan budaya ini memerlukan perhatian khusus agar tetap terlindungi di tengah proses pemulihan wilayah terdampak bencana.
Sebagai tindak lanjut, akademisi FTUI merencanakan analisis kondisi tanah di sejumlah lokasi terdampak, menyusul kekhawatiran warga terhadap stabilitas tanah pascabanjir. Beberapa wilayah, seperti Umang Isaq, Serule, dan kawasan Pondok Balek di Kecamatan Ketol, dilaporkan mengalami retakan dan lubang besar yang berpotensi memicu bencana susulan. Analisis ini diharapkan menghasilkan rekomendasi teknis terkait keamanan permukiman dan mitigasi risiko ke depan.
Diskusi bersama warga dan pemangku kepentingan setempat juga memunculkan gagasan pembentukan Posko Alumni Universitas Indonesia di Takengon sebagai wadah keterlibatan alumni UI dalam mendukung penanganan kebencanaan secara berkelanjutan di Aceh Tengah. Bersamaan dengan itu, tim peneliti FTUI melakukan observasi lapangan serta penyaluran bantuan tanggap darurat di wilayah terdampak lainnya.
Melalui kegiatan ini, FTUI menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai mitra strategis masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi serta memulihkan dampak bencana secara berkelanjutan dan berkeadilan. (E-4)