Waspada, Paparan Polusi Udara Ibu Kota Berpotensi Pangkas Usia Harapan Hidup
PAPARAN polusi udara, khususnya partikel halus PM2,5, kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Ibu Kota. Tingginya kadar polutan ini disebut berpotensi memangkas angka usia harapan hidup warga Jakarta.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa, mengungkapkan bahwa partikel PM2,5 memiliki karakteristik yang sangat berbahaya karena ukurannya yang mikro.
“PM2,5 itu partikel yang sangat kecil dan di dalamnya mengandung sub-partikel beracun. Ketika terhirup, dia masuk ke saluran pernapasan hingga paru-paru,” ujar Erni di Jakarta Pusat, Rabu (5/3).
Korelasi Kematian Dini dan Penyakit Kronis
Berdasarkan temuan Global Expert Mortality Model, terdapat kaitan erat antara paparan polusi udara dengan peningkatan risiko kematian dini. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas udara buruk tidak hanya menyebabkan penyakit ringan seperti batuk dan pilek, tetapi juga berdampak pada indikator vital usia harapan hidup.
Erni menambahkan, penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) juga memperkuat adanya korelasi kuat antara PM2,5 dengan gangguan kesehatan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). “PM2,5 itu memang satu partikel yang di dalamnya banyak sekali sub-partikel sangat kecil dan beracun,” imbuhnya.
Kelompok rentan, seperti balita dan lansia, menjadi pihak yang paling berisiko. Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus dapat memicu penyakit kronis hingga mematikan. “Sudah banyak disampaikan bahwa dampaknya sampai ke risiko kanker. Jadi kalau ditanya pengaruhnya terhadap usia harapan hidup, tentu ada kaitannya,” tegas Erni.
Tantangan Sosialisasi dan Kesadaran Publik
Saat ini, Pemprov DKI terus memantau kualitas udara melalui Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang datanya dapat diakses publik melalui aplikasi JAKI. Namun, Erni mengakui bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk membatasi aktivitas saat polusi tinggi masih menjadi tantangan besar.
Ia menceritakan kendala di lapangan, seperti keberatan dari pihak sekolah saat diminta mengurangi aktivitas luar ruang karena alasan penilaian olahraga siswa. “Ini jadi PR kami untuk sosialisasi lebih masif. Karena memang ketika kualitas udara buruk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi,” jelasnya.
Bahkan, dampak nyata polusi ini juga dirasakan oleh pejabat publik. Erni menceritakan pengalaman seorang wakil gubernur yang mengalami sesak napas saat berolahraga di kawasan Sudirman-Thamrin.
“Beliau merasa engap. Setelah dicek di stasiun, memang PM2,5-nya tinggi saat itu. Beliau tidak berani lagi lari di sana karena terpapar,” pungkas Erni. (Far/P-2)