Strategi Memompa ASI saat Puasa: Jadwal dan Tips Produksi Lancar
MENJALANKAN ibadah puasa Ramadan bagi ibu menyusui (busui) memerlukan strategi khusus agar kebutuhan nutrisi si kecil tetap terpenuhi. Salah satu kunci utama menjaga kelancaran produksi ASI adalah dengan manajemen pengosongan payudara yang konsisten melalui teknik memompa yang tepat.
Bidan sekaligus doula pendiri Bumilpamil, Jamilatus Sa’diyah, membagikan sejumlah langkah strategis bagi para ibu yang ingin tetap memberikan ASI eksklusif sembari menunaikan ibadah puasa. Menurutnya, prinsip utama yang harus dipegang adalah pemenuhan energi, hidrasi yang cukup, serta kondisi psikologis ibu yang rileks.
Jadwal Optimal Memompa ASI saat Puasa
Untuk menjaga ritme produksi, ibu menyusui tidak disarankan membiarkan payudara penuh terlalu lama. Jamila menyarankan jadwal pemompaan dilakukan pada waktu-waktu berikut:
- Setelah sahur.
- Siang hari.
- Menjelang berbuka puasa.
- Malam hari sebelum tidur.
Frekuensi memompa ASI yang ideal adalah setiap dua sampai tiga jam sekali, atau sekitar 8 hingga 12 kali dalam sehari jika bayi masih dalam usia sangat kecil (newborn). Konsistensi ini sangat penting untuk mengirimkan sinyal ke tubuh agar terus memproduksi ASI meskipun asupan makanan terbatas di siang hari.
Teknik Stimulasi Oksitosin dan Kompresi
Selain jadwal, teknik memompa juga menentukan volume ASI yang dihasilkan. Pengosongan payudara akan lebih optimal jika ibu menggunakan corong pompa yang sesuai dengan ukuran payudara. Penggunaan ukuran yang salah dapat memicu lecet dan menghambat keluarnya ASI secara maksimal.
Ibu juga disarankan menerapkan teknik kompresi payudara, yakni dengan meremas payudara secara lembut menggunakan tangan saat memompa. Hal ini berfungsi merangsang refleks pengeluaran ASI (Let-Down Reflex) serta memijat ringan untuk menstimulasi sekresi oksitosin.
Untuk memicu hormon oksitosin yang memperlancar aliran ASI, ibu perlu menciptakan kondisi yang nyaman:
- Berusaha tetap rileks dan menghindari stres.
- Berada di lingkungan yang tenang dan nyaman.
- Melihat foto atau video bayi saat sedang memompa.
- Melakukan kontak kulit ke kulit (skin-to-skin) saat menyusui langsung (DBF).
Kapan Ibu Menyusui Harus Membatalkan Puasa?
Kesehatan ibu dan bayi adalah prioritas utama. Jamila mengingatkan para ibu untuk tidak memaksakan diri jika tubuh menunjukkan tanda-tanda bahaya. Segera batalkan puasa dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika mengalami:
- Tanda dehidrasi: Urine berwarna sangat pekat, jarang buang air kecil, kepala pusing hebat, dan tubuh lemas luar biasa.
- Tanda hipoglikemia: Tubuh gemetar dan muncul keringat dingin.
- Penurunan berat badan secara drastis dalam waktu singkat.
Perhatikan juga kondisi bayi. Jika bayi tampak tidak puas setelah menyusu, rewel terus-menerus, bibir bayi kering, atau frekuensi buang air kecil bayi menurun (kurang dari enam kali ganti popok basah per hari), itu merupakan indikasi bahwa asupan nutrisinya tidak tercukupi.
Menyusui pada malam hari dan menjelang sahur sangat membantu menjaga produksi ASI tetap stabil selama ibu berpuasa. Pastikan kebutuhan cairan ibu terpenuhi dengan segera minum air putih dalam jumlah cukup saat berbuka hingga waktu sahur berakhir. (Ant/H-3)