Tren Ekonomi Syariah di Jabar Terus Meningkat


Penulis:  Bayu Anggoro - 07 March 2026, 22:42 WIB
Dok. MI

GELIAT ekonomi  syariah di Jawa Barat (Jabar) terus menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini tercermin dari kokohnya ekosistem industri halal di wilayah tersebut, mulai dari sektor busana hingga kuliner yang kini semakin terintegrasi dalam rantai pasok global.

Salah satu potret nyata geliat tersebut tampak pada gelaran Indonesia Hijabfest 2026 yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha, Bandung, 5-8 Maret. Ajang tahunan ini tidak hanya menjadi magnet bagi ribuan pengunjung, tetapi juga menjadi bukti nyata kolaborasi antara otoritas moneter, pemerintah daerah, dan pelaku usaha dalam memperkuat ekonomi kerakyatan.

​Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Muhamad Nur, menegaskan bahwa potensi pengembangan ekonomi syariah di Jawa Barat sangat strategis. Dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jawa Barat memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat untuk memimpin sektor usaha halal.

"Kegiatan ini bukan sekadar ajang promosi produk, melainkan ruang penguatan ekonomi kerakyatan. Potensi syariah di Jabar sangat besar dan menjadi peluang strategis untuk terus mendorong pertumbuhan sektor usaha halal secara inklusif," kata Muhamad Nur.

Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengungkapkan bahwa capaian Jawa Barat di sektor ekonomi syariah telah diakui secara nasional. Beberapa prestasi membanggakan telah diraih sepanjang 2025 seperti juara umum Adinata Syariah.

Jabar menjadi provinsi terbanyak dengan jumlah produk bersertifikat halal terbanyak nasional. ​"Dengan 97,3% penduduk muslim dan kreativitas generasi muda yang tinggi, momentum ini harus dijaga. Pengembangan ekonomi syariah memerlukan sinergi hulu hingga hilir yang berkelanjutan," kata Erwan.

​Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti pentingnya membangun sistem rantai pasok yang terintegrasi di Kota Bandung. Menurutnya, julukan Paris van Java harus dimanifestasikan melalui pengembangan industri dari bahan baku, konveksi, hingga desain akhir.

​"Kita perlu membangun sistem yang kuat. Tidak hanya desainer, namun seluruh ekosistem dari hulu hingga hilir harus dikembangkan di Bandung," tegas Farhan.

Founder Hijabfest, Sheena Krisnawati, mengenang awal mula gerakan ini pada 2012 yang kini telah bertransformasi menjadi industri raksasa. Keterlibatan pelaku usaha lokal, termasuk tenant legendaris dari Pasar Cihapit, menunjukkan bahwa ekonomi syariah mampu merangkul seluruh lapisan pedagang.

"Melalui dukungan penuh perbankan syariah dan kebijakan BI, diharapkan UMKM di Jawa Barat dapat naik kelas dengan standarisasi produk halal," katanya.

Tak hanya itu, dia berharap UMKM dapat memperluas jejaring pasar di tingkat nasional dan internasional. "Juga memperkuat kapasitas usaha melalui literasi keuangan syariah yang aman," katanya.

​Partisipasi aktif berbagai pihak dalam Indonesia Hijabfest 2026 diharapkan memberikan efek berganda bagi penguatan ekonomi daerah. "Ujungnya kan menjadikan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat lebih inklusif dan dirasakan langsung oleh masyarakat luas," katanya.

Pada sisi lain, aspek digitalisasi menjadi kunci inklusi. Dalam Hijabfest 2026, Bank Indonesia bersama Bank Syariah Indonesia (BSI) gencar melakukan edukasi pembayaran digital. Pengunjung dapat menikmati pengalaman tebus murah menggunakan QRIS dengan hanya Rp47.  (H-3)