Beras di Tasikmalaya masih Tinggi meski Ada Pasar Murah SPHP


Penulis:  Kristiadi - 04 March 2026, 08:43 WIB
MI/Kristiadi

UPAYA Pemerintah Kota Tasikmalaya menggelar Pasar Murah Rakyat melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) belum memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga. Hingga Selasa (3/3), harga beras premium dan berbagai komoditas sayuran di Tasikmalaya terpantau masih tinggi dan dikeluhkan masyarakat.

Beras SPHP yang disediakan pemerintah daerah bersama Bulog tersebut dibanderol seharga Rp57.500 per kemasan 5 kilogram. Namun, fakta di lapangan menunjukkan harga beras premium di tingkat pengecer atau warung warga masih tertahan di angka Rp17.000 per kilogram, sementara di pasar tradisional dijual Rp14.000 per kilogram.

Beban Ekonomi dan Kelangkaan Beras Medium

Janah, 32, warga Kampung Bojongnangka, Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, mengatakan kenaikan harga beras yang terjadi secara persisten sejak tahun 2023 hingga 2026 menjadi beban berat bagi masyarakat. Apalagi, beras kualitas medium yang biasanya mudah didapat kini mulai mengalami kelangkaan.

"Kami baru kali ini membeli beras murah dari Bulog seharga Rp57.500 per 5 kg. Sebelumnya selalu membeli di warung kualitas premium seharga Rp17 ribu per kg. Kenaikan beras ini membuat beban kebutuhan lain ikut merangkak naik," ujar Janah saat ditemui di lokasi Gerakan Pangan Murah (GPM) Kecamatan Purbaratu, Selasa (3/3).

Antrean Panjang dan Pembatasan Stok

Kondisi sulit juga dirasakan Titik, 60, warga Singaparna. Untuk mendapatkan satu kupon beras murah, ia terpaksa mengantre sejak pukul 08.00 WIB. Meski permintaan tinggi, pemerintah membatasi pembelian hanya satu kantong per orang.

"Kenaikan beras sekarang terasa karena banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran. Apalagi mau masuk bulan Ramadan, kebutuhan pokok naik luar biasa. Bagi rakyat, yang penting harga murah dan stoknya ada, tidak perlu mahal," tutur Titik.

Daftar Kenaikan Harga Pangan di Tasikmalaya:

  • Beras Premium: Rp17.000/kg (Pengecer)
  • Cabai Domba: Rp70.000/kg (Sebelumnya Rp40.000)
  • Jamur: Rp32.000/kg (Sebelumnya Rp14.000)
  • Waluh Kecil: Rp12.000/kg (Sebelumnya Rp3.000)
  • Kembang Kol: Rp10.000/kg (Sebelumnya Rp5.000)

Pedagang Siasati Penjualan dengan Kemasan Kecil

Selain beras, lonjakan paling drastis terjadi pada komoditas jamur dan cabai domba. Harga jamur yang pada awal menjelang Ramadan masih di angka Rp14.000 kini melonjak hingga Rp32.000 per kilogram.

Untuk menjaga daya beli konsumen yang terus menurun, para pedagang di pasar tradisional terpaksa menyiasati penjualan dengan cara mengemas sayuran dalam ukuran kecil atau paket hemat. Sistem ini dinilai lebih terjangkau bagi pembeli meskipun secara nilai per kilogram harga tersebut tetap tinggi.

Meski pemerintah daerah terus berupaya melakukan intervensi melalui pasar murah, pantauan di beberapa titik menunjukkan tingkat kunjungan pembeli ke gerai GPM masih belum merata, padahal harga yang ditawarkan berada di bawah harga pasar reguler. (AD/E-4)