Donald Trump Jadwalkan Kunjungan Bersejarah ke Tiongkok 14 Mei usai Tertunda Perang Iran


Penulis:  Thalatie K Yani - 26 March 2026, 12:53 WIB
White House

PRESIDEN Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada 14-15 Mei 2026. Pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping ini akan menjadi kunjungan pertama Presiden AS ke Negeri Tirai Bambu dalam hampir satu dekade terakhir.

Rencana perjalanan ini sebelumnya sempat tertunda dari jadwal awal pada 31 Maret akibat eskalasi konflik militer antara AS-Israel dengan Iran. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu (25/3/2026), Trump menyatakan bahwa para pejabat sedang mematangkan persiapan untuk "Kunjungan Bersejarah" tersebut. Selain kunjungannya ke Beijing, Trump juga dijadwalkan menjamu Xi Jinping di Washington DC akhir tahun ini.

Penundaan Akibat Krisis Selat Hormuz

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi penundaan dilakukan karena prioritas AS saat ini terfokus pada operasi tempur di Timur Tengah. Ketegangan memuncak bulan lalu setelah serangan AS dan Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran, yang memicu serangan balasan dari Teheran ke wilayah Teluk.

Konflik tersebut berujung pada penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur air vital bagi pasokan minyak dan gas alam dunia. Dampaknya, krisis bahan bakar global tak terhindarkan. Trump sendiri telah mendesak sekutu AS untuk membantu membuka blokir selat tersebut dan mengancam akan menyerang infrastruktur energi Iran jika akses jalur air tidak segera dibuka.

Terkait durasi perang, Leavitt memberikan estimasi optimis bahwa konflik mungkin akan mereda saat kunjungan ke Tiongkok berlangsung.

"Kami selalu memperkirakan (operasi) sekitar empat hingga enam minggu, jadi Anda bisa menghitungnya sendiri," ujar Leavitt dalam pengarahan pers.

Harapan Easing Tensi Geopolitik

Kunjungan terakhir seorang Presiden AS ke Tiongkok terjadi pada November 2017, yang juga dilakukan oleh Trump pada masa jabatan pertamanya. Sejak saat itu, hubungan kedua negara terus dibayangi gesekan perdagangan, kompetisi teknologi, hingga ketegangan geopolitik.

Meski Beijing belum memberikan respons resmi terkait tanggal pasti yang disebut Trump, media pemerintah Tiongkok mulai menunjukkan nada positif. Editorial Global Times menekankan pentingnya pertukaran antar-warga dan kunjungan tingkat tinggi yang sempat vakum lama.

"Sejarah telah berulang kali menunjukkan Tiongkok dan AS sama-sama untung jika bekerja sama, dan rugi jika berkonfrontasi," tulis editorial tersebut.

Pertemuan Trump dan Xi di Beijing nanti akan diawasi ketat oleh dunia internasional sebagai sinyal apakah kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini mampu meredakan ketegangan di tengah gejolak global yang sedang berlangsung. (BBC/Z-2)