Krisis Selat Hormuz, Starmer dan Trump Desak Pembukaan Jalur Energi Dunia


Penulis:  Thalatie K Yani - 23 March 2026, 10:15 WIB
White House

PERDANA Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, dan Presiden AS, Donald Trump, menggelar pembicaraan intensif mengenai urgensi pembukaan kembali Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah yang kian memanas. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas pasar energi global yang terguncang hebat.

Sejak perang Iran pecah pada 28 Februari lalu, lalu lintas di Selat Hormuz telah merosot hingga 95%. Iran secara efektif memblokade jalur tersebut setelah serangan yang diluncurkan AS dan Israel ke negara itu. Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak 45% hingga menyentuh angka US$106 per barel.

Juru bicara Downing Street menyatakan dalam percakapan pada Minggu malam, kedua pemimpin "setuju bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz sangat penting untuk memastikan stabilitas di pasar energi global."

Ancaman Militer dan Ketegangan Meningkat

Situasi kian genting setelah Presiden Trump, melalui unggahan media sosial pada Sabtu lalu, mengancam akan "melenyapkan" pembangkit listrik Iran jika selat tersebut tidak dibuka dalam waktu 48 jam. Menanggapi gertakan tersebut, media pemerintah Iran melaporkan Teheran siap menargetkan situs-situs energi yang berafiliasi dengan AS di seluruh kawasan Teluk.

Di sisi lain, Inggris mulai meningkatkan keterlibatan militernya. Pada Jumat lalu, pemerintah London sepakat mengizinkan AS menggunakan pangkalan-pangkalan Inggris untuk meluncurkan serangan ke situs-situs Iran yang menargetkan Selat Hormuz. Sebelumnya, izin penggunaan pangkalan hanya terbatas pada operasi defensif.

Dampak Ekonomi dan Pertahanan Inggris

PM Starmer dijadwalkan memimpin rapat darurat COBRA pada Senin ini untuk membahas dampak perang terhadap biaya hidup. Rapat tersebut akan dihadiri Gubernur Bank of England Andrew Bailey, Menteri Luar Negeri, serta Menteri Energi.

Menteri Perumahan Steve Reed mengonfirmasi adanya serangan rudal Iran yang menargetkan Diego Garcia, pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Kepulauan Chagos. "Iran menembakkan dua rudal balistik ke Diego Garcia; satu gagal dan jatuh sebelum mencapai target, sementara yang lainnya berhasil dicegat," ungkap Reed kepada BBC.

Meskipun ancaman senjata Iran disebut mampu menjangkau hingga 4.000 km, Reed menegaskan belum ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan wilayah daratan Inggris secara langsung. Saat ini, pemerintah Inggris telah menyiapkan paket bantuan senilai £53 juta bagi rumah tangga yang terdampak lonjakan harga minyak pemanas akibat krisis ini. (BBC/Z-2)