Korsel Diselamatkan UEA, Dapat Akses Minyak tanpa Antre saat Dunia Terblokir


Penulis:  Gana Buana - 19 March 2026, 13:54 WIB
Dok. AFP

PEMERINTAH Korea Selatan berhasil mengamankan komitmen krusial dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk menjadi prioritas utama penerima pasokan energi di tengah kelumpuhan jalur pelayaran global. Kesepakatan ini menjadi "napas buatan" bagi Seoul saat 70% jalur impor energinya terputus akibat penutupan total Selat Hormuz.

Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Duta Khusus Kerja Sama Ekonomi Strategis Korsel, Kang Hoon-sik, menegaskan bahwa posisi Korea Selatan kini berada di urutan terdepan dalam daftar distribusi minyak UEA.

Hal ini merupakan hasil diplomasi tingkat tinggi melalui surat pribadi Presiden Lee Jae-myung kepada Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al-Nahyan.

Prioritas Mutlak tanpa Antre

Dalam pernyataan resminya, Kang Hoon-sik mengungkapkan klausul tegas dalam kesepakatan tersebut yang menjamin ketahanan energi nasional.

"Tertulis dengan sangat jelas, tidak ada negara yang akan menerima minyak sebelum Korea Selatan. Kami adalah prioritas utama," tegas Kang dilansir dari Antara, Kamis (19/3).

Langkah agresif ini diambil menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini bertengger di level kritis.

Harga minyak Brent terpantau melonjak hingga 3,44 persen ke level US$111,07 per barel, sementara WTI menembus US$98,61 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang kian memanas pada Maret 2026.

Strategi Tembus Blokade: 24 Juta Barel via Rute Alternatif

Untuk mengatasi kebuntuan di Selat Hormuz yang de facto tertutup bagi pelayaran komersial, kedua negara telah menyepakati pengiriman darurat sebanyak 18 juta barel minyak melalui berbagai rute alternatif yang menghindari titik konflik.

Ditambah dengan pengiriman sebelumnya, total pasokan darurat yang berhasil diamankan Korsel mencapai 24 juta barel.

Teknis pengiriman akan melibatkan armada tanker raksasa dari kedua negara:

  • 3 Kapal Tanker UEA: Mengangkut 6 juta barel.
  • 6 Kapal Tanker Korsel: Mengangkut 12 juta barel.

Selain minyak mentah, satu kapal tanker yang membawa nafta, bahan baku vital bagi industri petrokimia Korsel, dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju semenanjung. Langkah ini krusial mengingat indeks KOSPI sempat tertekan akibat kekhawatiran pasokan bahan baku industri.

Aliansi Strategis dan Keamanan Warga

Bukan sekadar transaksi dagang, kesepakatan ini mempertegas kemitraan strategis "Aliansi Seabad" yang telah diperkuat sejak akhir tahun lalu. Selain jaminan energi, UEA juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi evakuasi warga negara Korea Selatan dari kawasan Teluk dengan selamat.

Ke depan, Seoul dan Abu Dhabi sepakat menjajaki kerja sama jangka panjang melalui nota kesepahaman (MoU) untuk membangun rantai pasok minyak permanen yang tahan terhadap disrupsi global. Langkah ini dipandang sebagai upaya Korsel untuk melepaskan ketergantungan pada jalur pelayaran konvensional yang rentan terhadap sabotase geopolitik di masa depan. (Ant/Z-10)