Biaya Perang Membengkak, Kongres AS Khawatir Stok Senjata Menipis


Penulis: Ferdian Ananda Majni - 09 March 2026, 11:18 WIB
Centcom

BIAYA operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran melonjak hingga sekitar US$6 miliar atau lebih dari Rp101 triliun dalam sepekan pertama perang. 

Sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk amunisi dan sistem pencegat rudal guna menahan serangan balasan Teheran, sementara Washington mulai mempertimbangkan tambahan dana untuk melanjutkan operasi.

Angka tersebut terungkap dalam pembahasan bersama anggota Kongres pekan ini. 

Dalam pertemuan itu, pejabat senior pertahanan juga mengisyaratkan kemungkinan pemerintah akan mengajukan tambahan anggaran guna mempertahankan operasi militer sekaligus mengisi kembali stok persenjataan yang mulai berkurang.

Dalam laporan yang sama disebutkan sekitar 4.000 target militer Iran telah diserang sejak operasi dimulai. Target-target itu meliputi peluncur rudal, kapal angkatan laut, hingga sistem pertahanan udara yang disebut telah secara signifikan mengurangi kemampuan Teheran melakukan serangan balasan.

Komandan United States Central Command (CENTCOM), Brad Cooper, mengatakan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama sekutunya memberikan dampak besar terhadap kekuatan militer Iran.

"Peluncuran rudal balistik Iran telah menurun 90% sejak hari pertama pertempuran," kata Cooper.

Ia juga menyebut bahwa serangan drone yang diluncurkan Iran mengalami penurunan signifikan. "Serangan drone Iran menurun tajam, dengan tingkat penurunan mencapai 83%," ujarnya.

Meski demikian, Pentagon menegaskan Iran masih memiliki kekuatan militer yang cukup besar. Negara itu diperkirakan masih mempertahankan sekitar 50% dari kemampuan program rudalnya.

Lonjakan biaya perang yang terjadi dalam waktu singkat kini menjadi perhatian serius di Washington. Anggota parlemen diperkirakan akan segera menerima permintaan tambahan anggaran dari pemerintah dalam beberapa pekan mendatang.

Besarnya pengeluaran militer ini memicu sorotan dari berbagai pihak di Kongres, baik dari kalangan Partai Demokrat maupun Republik. 

Sejumlah pengkritik menilai penggunaan sistem pencegat rudal yang sangat mahal berpotensi membebani industri pertahanan AS.

Selain itu, konsumsi senjata yang sangat cepat dikhawatirkan dapat menyebabkan kekurangan persenjataan di wilayah strategis lainnya.

Konflik ini bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target militer Iran. Namun situasi kemudian meluas di kawasan Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan balasan berupa rudal balistik dan drone.

Serangan tersebut menargetkan pangkalan militer, fasilitas diplomatik, serta personel militer Amerika Serikat di berbagai negara kawasan. 

Beberapa kota di Israel juga menjadi sasaran, sehingga memaksa AS dan sekutunya menggunakan sistem pertahanan udara berbiaya tinggi untuk mencegat proyektil yang masuk. (Anadolu/Z-2)