AS-Israel Serang Iran, Dua Anggota Kataeb Hezbollah Tewas di Irak
KETEGANGAN di Timur Tengah terus meluas hingga ke wilayah Irak. Serangan udara dilaporkan menghantam pangkalan militer Jurf al-Sakher (yang juga dikenal sebagai Jurf al-Nasr) di Irak Selatan pada Sabtu (28/2/2026).
Insiden ini menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai beberapa lainnya. Itu terjadi tepat saat Amerika Serikat dan Israel meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.
Detail Serangan di Jurf al-Nasr
Sel keamanan pemerintah Irak mengumumkan bahwa serangan udara tersebut terjadi pada pukul 11:50 pagi waktu setempat. Wilayah Jurf al-Nasr menjadi sasaran beberapa proyektil yang mengakibatkan kerusakan signifikan pada fasilitas militer di lokasi tersebut.
Pangkalan itu merupakan markas bagi Hashed al-Shaabi atau Pasukan Mobilisasi Populer (PMF), kelompok paramiliter yang kini telah terintegrasi ke dalam struktur tentara reguler Irak. Namun, pangkalan khusus ini diketahui menampung faksi Kataeb Hezbollah, kelompok pro-Iran yang memiliki pengaruh besar di kawasan tersebut.
- Dua anggota Kataeb Hezbollah dinyatakan tewas (martir).
- Tiga hingga lima orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
- Identitas korban belum dirilis secara resmi oleh otoritas medis.
Siapa Pelakunya?
Hingga berita ini diturunkan, belum ada klaim tanggung jawab resmi. Sumber internal Hashed al-Shaabi menyatakan bahwa belum jelas apakah serangan tersebut dilakukan oleh pesawat tempur Amerika Serikat atau Israel. Mengingat Presiden AS Donald Trump baru saja bersumpah untuk menghancurkan aset angkatan laut dan rudal Iran, spekulasi mengenai keterlibatan Washington sangat kuat.
Kataeb Hezbollah merupakan bagian dari Poros Perlawanan yang didukung Teheran. Kelompok ini memiliki reputasi bertindak secara otonom dan sering terlibat dalam konfrontasi langsung dengan pasukan AS di Irak dan Suriah.
Ancaman Perang Panjang
Menanggapi agresi ini, pihak milisi telah mengeluarkan peringatan keras kepada Washington. Kelompok tersebut mendesak para pejuangnya untuk bersiap menghadapi perang yang berpotensi panjang di wilayah tersebut. Mereka mengancam akan memberikan kerugian besar bagi aset-aset Barat jika eskalasi terus berlanjut.
Serangan ini menandai babak baru ketidakpastian keamanan di Irak, di mana wilayah kedaulatannya kembali menjadi medan tempur antara kekuatan global dan proksi regional. (I-2)