Perundingan Nuklir Macet, Trump tidak Senang dengan Sikap Iran
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap sikap Iran dalam perundingan nuklir terbaru di Jenewa yang berakhir tanpa kesepakatan. Ia menegaskan belum mengambil keputusan apakah akan menggunakan kekuatan militer terhadap Teheran.
"Saya tidak senang dengan fakta bahwa mereka tidak bersedia memberi kami apa yang harus kami miliki. Jadi saya tidak senang," kata Trump dikutip dari BBC.
Trump menekankan bahwa ia tidak ingin menggunakan kekuatan militer, tetapi tidak menutup kemungkinan tindakan tersebut.
"Saya tidak ingin menggunakan kekuatan militer terhadap Iran, tetapi terkadang Anda harus melakukannya," ujarnya.
Ketegangan yang meningkat memicu sejumlah negara mengeluarkan peringatan kepada warganya di kawasan Timur Tengah. Amerika Serikat mendesak warganya di Iran untuk segera meninggalkan negara itu.
Kedutaan Besar AS di Israel juga mengizinkan sebagian staf non-darurat dan keluarga mereka untuk meninggalkan negara tersebut selama penerbangan komersial masih tersedia.
Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, yang memediasi perundingan, mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya, sehingga mengurangi kekhawatiran terkait produksi senjata nuklir.
"Jika Anda tidak dapat menimbun material yang diperkaya maka tidak ada cara Anda benar-benar dapat membuat bom," kata Albusaidi.
Ia sebelumnya menyatakan kedua pihak telah mencapai "kemajuan signifikan" dalam pembicaraan berisiko tinggi tersebut, dan negosiasi akan dilanjutkan dalam waktu dekat, termasuk pembahasan teknis di Wina pekan depan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah terjadi "kemajuan baik" dalam perundingan, meski masih terdapat perbedaan pada sejumlah isu. Ia menambahkan negosiasi lanjutan akan dilakukan dalam waktu kurang dari satu pekan.
Sementara itu, Trump menegaskan posisi keras Washington terkait pengayaan uranium Iran.
"Saya mengatakan tidak ada pengayaan... saya pikir itu tidak beradab," katanya.
Pemerintah AS juga meningkatkan tekanan terhadap Iran dengan menetapkan negara tersebut sebagai "negara sponsor penahanan yang salah", sebuah langkah yang memungkinkan Washington menjatuhkan sanksi tambahan.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio kembali memperingatkan warga Amerika di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut.
"Kami menegaskan kembali seruan kami agar warga Amerika yang saat ini berada di Iran segera pergi," katanya.
Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance mengatakan opsi militer tetap dipertimbangkan, meskipun diplomasi masih menjadi pilihan utama.
"Saya pikir kita semua lebih memilih opsi diplomatik. Tetapi itu sangat bergantung pada apa yang dilakukan dan dikatakan Iran," ujarnya.
Dalam beberapa pekan terakhir, Amerika Serikat telah mengirim ribuan tentara, kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengisian bahan bakar ke kawasan Timur Tengah. Trump bahkan menyebut pengerahan itu sebagai sebuah "armada".
Ia sebelumnya memperingatkan Washington harus mencapai kesepakatan yang berarti dengan Iran atau menghadapi konsekuensi serius.
"Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, maka hal-hal buruk akan terjadi," kata Trump.
Di sisi lain, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan keprihatinannya setelah tidak diizinkan mengakses fasilitas pengayaan uranium Iran sejak serangan terhadap lokasi nuklir Iran pada Juni lalu. Badan tersebut menegaskan inspeksi harus dilakukan tanpa penundaan untuk memastikan transparansi program nuklir Iran.
Kebuntuan negosiasi dan peningkatan aktivitas militer meningkatkan kekhawatiran global terhadap potensi konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun kedua pihak masih membuka peluang bagi solusi diplomatik. (Ndf/I-1)