Kim Jong Un Buka Peluang Damai dengan AS, Namun "Haramkan" Hubungan dengan Korsel


Penulis:  Thalatie K Yani - 26 February 2026, 06:51 WIB
KCNA

PEMIMPIN tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, memberikan sinyal mengejutkan terkait arah kebijakan luar negerinya. Dalam penutupan kongres partai yang bersejarah, Kim menyatakan negaranya bisa saja "berhubungan baik" dengan Amerika Serikat (AS), namun di saat yang sama ia menegaskan Korea Selatan tetap menjadi musuh "paling berbahaya" bagi negaranya.

Pernyataan ini disampaikan Kim melalui laporan kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA) pada Kamis waktu setempat. Kim mendesak Washington untuk menghormati status Korea Utara sebagai kekuatan nuklir jika ingin memperbaiki hubungan diplomatik.

"Jika Washington menghormati status negara kami saat ini sebagaimana yang diatur dalam Konstitusi... dan menarik kebijakan bermusuhannya... tidak ada alasan bagi kami untuk tidak bisa berhubungan baik dengan Amerika Serikat," tegas Kim.

Menutup Pintu bagi Seoul

Berbeda dengan sikapnya terhadap AS, Kim Jong Un justru menutup rapat peluang rekonsiliasi dengan tetangganya, Korea Selatan. Ia menyatakan akan "mengecualikan secara permanen" Seoul sebagai bagian dari saudara sebangsa.

Langkah ini mempertegas amandemen konstitusi Korea Utara pada tahun 2024 yang untuk pertama kalinya mendefinisikan Korea Selatan sebagai "negara musuh". Kim bahkan menyebut upaya damai yang dilakukan Seoul belakangan ini sebagai tindakan yang "menipu".

"Korea Utara sama sekali tidak memiliki urusan dengan Korea Selatan, entitas kami yang paling bermusuhan," ujar Kim.

Diplomasi Donald Trump dan Bayangan Pertemuan

Sikap melunak Kim terhadap AS terjadi di tengah upaya pendekatan yang dilakukan Presiden AS Donald Trump. Dalam tur Asia tahun lalu, Trump menyatakan keterbukaannya untuk bertemu kembali dengan Kim.

Trump bahkan mendobrak kebijakan AS yang telah berjalan selama puluhan tahun dengan mengakui secara tersirat bahwa Korea Utara adalah "semacam kekuatan nuklir". Muncul spekulasi bahwa keduanya mungkin akan bertemu di sela-sela kunjungan Trump ke China pada April mendatang.

Parade Militer Megah

Penutupan Kongres Partai Buruh, peristiwa lima tahunan yang menentukan kebijakan luar negeri hingga perencanaan perang, ditandai dengan parade militer besar-besaran.

Parade ini menjadi ajang bagi Pyongyang untuk memamerkan persenjataan terbaru mereka. Bagi dunia internasional, parade semacam ini merupakan momen langka untuk mengintip sejauh mana kekuatan dan kecanggihan angkatan bersenjata negara tertutup tersebut. (AFP/Z-2)