Perang Salju di New York Berujung Konflik: Wali Kota Mamdani vs NYPD
APA yang bermula sebagai permainan bola salju yang tampak tidak berbahaya di tengah badai salju New York City, kini justru memicu konflik panas antara Wali Kota Zohran Mamdani dan jajaran pimpinan kepolisian New York (NYPD).
Insiden yang terjadi pada Senin sore di Washington Square Park ini terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terlihat kerumunan orang di taman yang awalnya menikmati salju mulai menargetkan petugas kepolisian dengan lemparan bola salju saat petugas hendak kembali ke kendaraan mereka.
Polisi Alami Cedera, Empat Orang Diburu
Pihak NYPD melaporkan serangan tersebut bukan sekadar permainan. Pada Selasa, kepolisian merilis foto empat pemuda berusia sekitar 18 - 20 tahun yang diduga melakukan penyerangan terhadap petugas. Juru bicara NYPD menyatakan para pelaku "dengan sengaja memukul petugas berkali-kali dengan salju dan es di bagian kepala, leher, dan wajah hingga menyebabkan cedera."
Akibat kejadian tersebut, sejumlah petugas harus dilarikan ke rumah sakit dan saat ini dalam kondisi stabil. Komisaris Polisi Jessica Tisch memberikan pernyataan keras melalui media sosial:
"Perilaku yang digambarkan ini sangat memalukan, dan itu adalah tindakan kriminal," tulis Tisch.
Pembelaan Wali Kota Mamdani
Di sisi lain, Wali Kota Zohran Mamdani justru mencoba meredam situasi dengan menganggap insiden tersebut tidak perlu dibawa ke ranah hukum. Ia berpendapat peristiwa itu hanyalah dinamika anak muda saat bermain salju.
"Dari video yang saya lihat, itu tampak seperti anak-anak yang sedang berperang bola salju," ujar Mamdani dalam konferensi pers, Selasa.
Meski kemudian ia menghimbau warga untuk tetap menghormati petugas, Mamdani sempat berseloroh melalui media sosial, "Jika ada yang harus terkena bola salju, itu adalah saya." Ia bahkan bercanda mengajak siswa sekolah untuk melemparinya bola salju karena tetap membuka sekolah pasca-badai.
Reaksi Keras Serikat Polisi
Upaya Mamdani untuk mencairkan suasana justru memicu kemarahan serikat polisi. Presiden Police Benevolent Association (PBA), Patrick Hendry, menyebut respons wali kota sebagai kegagalan kepemimpinan.
"Wali kota telah mengirimkan pesan yang memalukan kepada setiap petugas polisi yang melayani kota ini, dan pesan berbahaya bagi siapa pun yang mungkin berniat menyerang petugas polisi di masa depan," tegas Hendry.
Senada dengan Hendry, Vincent Vallelong dari Sergeants Benevolent Association (SBA) memperingatkan, "Hari ini bola salju. Besok bisa jadi batu, botol, atau yang lebih buruk."
Sorotan Terhadap Rekam Jejak Mamdani
Konflik ini menjadi perselisihan besar pertama Mamdani dengan serikat polisi sejak menjabat. Sebelumnya, Mamdani pernah meminta maaf atas komentar masa lalunya yang menyebut NYPD "rasis". Strategi politik Mamdani yang tetap mempertahankan Jessica Tisch (pejabat dari era sebelumnya) awalnya dinilai sebagai upaya untuk menunjukkan sikap tegas terhadap kriminalitas.
Namun, pengamat politik Basil Smikle menilai Mamdani kini berada di posisi sulit. "Wali kota sedang mencoba berjalan di garis tipis agar tidak terjebak dalam narasi negatif tentang pemuda kulit berwarna di kota ini," ujarnya. Menurut Smikle, rekam jejak Mamdani yang vokal terhadap reformasi peradilan pidana membuat setiap komentarnya kini berada di bawah "mikroskop" publik dan kepolisian. (BBC/Z-2)