Taliban Nyatakan Siap Dukung Iran jika Diserang Amerika Serikat
TALIBAN akan membantu dan mendukung Republik Islam Iran jika terjadi serangan AS terhadap negara tersebut. Demikian disampaikan juru bicara kelompok tersebut, Zabihullah Mujahid, kepada layanan berbahasa Pashto Radio Iran pada Minggu (15/2).
Mujahid menjelaskan rakyat Afghanistan akan menunjukkan simpati dan mungkin bekerja sama dengan Iran jika diminta. Ia mencatat bahwa hal ini tidak secara otomatis akan menarik kelompok Suni tersebut untuk bergabung dalam perang balasan melawan AS.
Selain itu, pesan Taliban yaitu mereka tidak menginginkan konflik antara AS dan Iran dan lebih memilih untuk menempuh jalur diplomatik serta melanjutkan negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Lebih lanjut, Mujahid menegaskan Iran memenangkan perang 12 hari dengan Israel dan AS pada Juni dan akan menang lagi jika AS menyerang.
"Iran akan mampu menang lagi karena memiliki kemampuan, berada di pihak yang benar, dan memiliki hak untuk membela diri," katanya.
Pada saat itu, Taliban mengutuk serangan Israel terhadap fasilitas pengayaan nuklir rezim Islam, kepemimpinan militer, dan lokasi strategis lain.
Hubungan Iran dan Taliban tetap tegang
Ketegangan telah ada antara rezim Islam Iran dan Afghanistan. Ini sebagian besar karena perbedaan pandangan antara Syiah dan Suni. Iran menganut Syiah Dua Belas Imam dan Taliban menganut bentuk Suni militan.
Namun, kedua pemerintah bekerja sama sejak Taliban merebut kembali kepemimpinan atas negara tersebut.
Pada Januari 2025, Menteri Luar Negeri Taliban, Mawlawi Amir Khan Muttaqi, menerima delegasi di Kabul yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi untuk membahas berbagai isu, termasuk sumber daya air, migran Afghanistan, dan keamanan perbatasan bersama.
Araghchi juga bertemu dengan kepala pemerintahan Taliban, Mohammad Hassan Akhund, selama kunjungannya.
Meskipun demikian, Iran menampung beberapa juta pengungsi Afghanistan yang melarikan diri selama 25 tahun terakhir, terutama sejak Taliban merebut kembali kendali pada Agustus 2021.
Beberapa di antaranya dituduh sebagai mata-mata Israel. Teheran menuduh bahwa mereka membantu Mossad dalam mengumpulkan informasi untuk operasi Israel pada Juni. (The Jerusalem Post/I-2)