Seif al-Islam Kadhafi Tewas Dieksekusi Komando di Zintan, Ini Kronologinya


Penulis:  Thalatie K Yani - 04 February 2026, 06:45 WIB
Media Sosial X

SEIF al-Islam Kadhafi, putra mendiang penguasa lama Libya, Muammar Kadhafi, dilaporkan tewas pada Selasa (3/2) waktu setempat. Ia tewas setelah sekelompok pria bersenjata menyerbu kediamannya di Zintan, wilayah barat Libya.

Kabar duka ini dikonfirmasi pengacara Prancis-nya, Marcel Ceccaldi. "Dia terbunuh hari ini pukul 14.00 (12.00 GMT)... di Zintan di rumahnya oleh empat orang komando," ujar Ceccaldi kepada AFP.

Penasihat Seif al-Islam, Abdullah Othman Abdurrahim, mengungkapkan detail mengerikan dalam wawancara dengan saluran televisi Al-Ahrar Libya. Ia menyebutkan empat pria tak dikenal menyerbu rumah tersebut, "melumpuhkan kamera pengawas, lalu mengeksekusinya." Hingga kini, identitas maupun motif para pelaku masih menjadi misteri.

Menolak Bantuan Keamanan

Ceccaldi mengungkapkan masalah keamanan sebenarnya sudah tercium beberapa hari sebelumnya. Seorang rekan dekat sempat memperingatkan adanya ancaman terhadap nyawa Seif al-Islam.

"Sedemikian rupa sehingga kepala suku (Kadhafi) telah menelepon Seif dan memberitahunya 'Saya akan mengirimkan orang untuk memastikan keamananmu'. Namun, Seif menolak," ungkap Ceccaldi. Selama ini, Seif al-Islam memang dikenal sering berpindah tempat untuk menjaga kerahasiaan lokasinya.

Sosok Reformis yang Kontroversial

Seif al-Islam, 53, sempat dipandang sebagai calon penerus ayahnya. Meski tidak memiliki posisi resmi di pemerintahan, ia kerap disebut sebagai perdana menteri de facto Libya yang mempromosikan citra moderat dan reformis sebelum revolusi Arab Spring 2011. Namun, reputasi tersebut hancur ketika ia menjanjikan "sungai darah" untuk menumpas pemberontakan kala itu.

Pasca-jatuhnya rezim ayahnya, ia menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan. Meskipun sempat dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Tripoli pada 2015, ia kemudian mendapatkan amnesti. Pada 2021, ia kembali muncul ke panggung politik dengan mencalonkan diri sebagai presiden, meski pemilu tersebut akhirnya ditunda tanpa batas waktu.

Dampak bagi Masa Depan Libia

Kematian Seif al-Islam diprediksi akan mengubah dinamika politik di negara yang masih terbagi antara pemerintah dukungan PBB di Tripoli dan administrasi timur pimpinan Haftar. Pakar Libia, Emadeddin Badi, menyebut kematian ini kemungkinan akan menjadikan Seif sebagai "martir" bagi sebagian penduduk.

"Pencalonannya dan potensi keberhasilannya telah menjadi titik perdebatan utama," tulis Badi di platform X.

Mantan juru bicara Muammar Kadhafi, Moussa Ibrahim, turut menyampaikan duka mendalam. "Mereka membunuhnya dengan khianat. Dia menginginkan Libia yang bersatu, berdaulat, dan aman bagi seluruh rakyatnya. Saya berbicara dengannya dua hari lalu. Dia tidak membicarakan apa pun kecuali Libia yang damai dan keselamatan rakyatnya," tulisnya. (AFP/Z-2)