Trump dan Petro Bertemu Usai Setahun Saling Serang


Penulis:  Thalatie K Yani - 03 February 2026, 11:19 WIB
Instagram

SETELAH satu tahun diwarnai penghinaan, ancaman tarif, hingga sanksi ekonomi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro akhirnya bertemu di Washington, Selasa (3/2). Pertemuan ini menjadi upaya nyata kedua pemimpin untuk mengubur perseteruan sengit mereka selama setahun terakhir.

Langkah diplomatik ini diambil Petro setelah menerima undangan Trump bulan lalu melalui sambungan telepon yang mengejutkan publik. Pertemuan ini krusial bagi Petro; ia berambisi membuktikan kepada Washington pemerintahannya mampu mengendalikan perdagangan narkoba, sekaligus berupaya agar sanksi pribadi terhadap dirinya dicabut.

"Saya menantikan pertemuan yang baik dengan Petro," ujar Trump pada hari Senin (2/2).

Deportasi hingga Visa

Ketegangan dimulai sejak Januari 2025, saat Trump memulai masa jabatan keduanya dengan kebijakan deportasi massal. Petro sempat memblokir penerbangan deportasi karena menolak warga negaranya dipulangkan dengan tangan terborgol. Namun, ia terpaksa melunak setelah Trump mengancam akan menjatuhkan tarif ekonomi berat.

Puncaknya terjadi pada September 2025. Trump mencabut sertifikasi Kolombia sebagai mitra pemberantasan narkotika. Di saat yang sama, Petro memicu amarah Washington dengan menyebut Trump sebagai "antek genosida" di Gaza dan menyerukan tentara AS untuk tidak mematuhi presiden mereka. Akibatnya, visa diplomatik Petro dicabut oleh Departemen Luar Negeri AS.

Tuduhan Kartel dan Sanksi Ekonomi

Konflik semakin memanas pada Oktober 2025 ketika Trump menjuluki Petro sebagai "preman" dan menuduhnya bertanggung jawab atas lonjakan produksi kokain. Departemen Keuangan AS kemudian menjatuhkan sanksi kepada Petro, istrinya Verónica Alcocer, serta putra dan menterinya.

"Sejak Presiden Gustavo Petro berkuasa, produksi kokain di Kolombia meledak ke tingkat tertinggi dalam beberapa dekade," klaim Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Petro membela diri dengan tegas. "AS mendesertifikasi kami setelah puluhan polisi dan tentara gugur demi memutus jalur kokain. Sebaliknya, pemerintahan saya telah menyita lebih banyak kokain dibandingkan sejarah dunia mana pun," balasnya.

Operasi Venezuela

Ketegangan mereda secara dramatis setelah operasi militer AS di Venezuela pada 3 Januari 2026 yang menangkap Nicolás Maduro. Meskipun Petro awalnya mengkritik operasi tersebut sebagai tindakan "ilegal", Trump melihat adanya perubahan sikap dari pemimpin Kolombia itu.

"Dia (Petro) sangat kritis sebelumnya. Namun entah bagaimana setelah serangan di Venezuela, dia menjadi sangat ramah. Sikapnya berubah drastis," kata Trump.

Melalui pertemuan di Gedung Putih ini, kedua negara berharap dapat mendefinisikan kembali prioritas strategis dan memperkuat kerja sama bilateral yang sempat retak. Bagi Kolombia, ini adalah tonggak sejarah untuk memulihkan martabat diplomatik di panggung internasional. (CNN/Z-2)