Apa Itu Hilal? Begini Cara Melihatnya


Penulis: Reynaldi Andrian Pamungkas - 19 March 2026, 17:20 WIB
ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

PENENTUAN awal bulan dalam kalender Hijriah, khususnya untuk memulai ibadah puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri, selalu menjadi momen yang dinantikan umat Islam di Indonesia. Kunci utama dari penentuan ini adalah penampakan hilal.

Namun, apa sebenarnya hilal itu? Mengapa pencariannya sering kali memicu diskusi hangat terkait perbedaan tanggal lebaran? Berikut adalah panduan lengkap mengenai pengertian hilal, kriteria teknisnya, hingga daftar titik pemantauannya di Indonesia.

Apa Itu Hilal?

Secara etimologi, hilal berasal dari bahasa Arab yang berarti bulan sabit. Dalam dunia astronomi, hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak) antara matahari dan bulan di arah dekat matahari terbenam.

Hilal menjadi sangat krusial karena merupakan penanda masuknya bulan baru dalam kalender komariah (hijriah). Karena usianya yang masih sangat muda, hilal tampak sangat tipis dan hanya muncul dalam waktu singkat sebelum ikut tenggelam bersama matahari.

Kriteria Baru MABIMS (3-6,4)

Sejak tahun 2022, Indonesia bersama negara anggota MABIMS menerapkan kriteria baru untuk menentukan visibilitas hilal (imkanur rukyat). Kriteria ini lebih ketat dibandingkan aturan sebelumnya:

  • Tinggi Hilal: Minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam.
  • Elongasi: Jarak sudut antara matahari dan bulan minimal 6,4 derajat.

Jika posisi hilal berada di bawah angka tersebut, cahaya bulan sabit dianggap terlalu redup untuk bisa dibedakan dari cahaya syafak (senja).

Cara Melihat Hilal

Melihat hilal bukanlah perkara mudah. Ada dua metode utama yang digunakan di Indonesia:

  1. Metode Rukyat (Observasi): Pengamatan langsung di lapangan menggunakan mata telanjang atau alat bantu seperti teleskop.
  2. Metode Hisab (Perhitungan): Menggunakan rumus matematika untuk memprediksi posisi bulan secara presisi.

Titik Pantau Hilal di Indonesia 2026

Untuk tahun 2026, pemantauan dilakukan di 117 titik strategis. Berikut beberapa lokasi utamanya:

Wilayah Lokasi Utama
DKI Jakarta Gedung Kanwil Kemenag, Pulau Karya, JIC
Jawa Barat Observatorium Bosscha, POB Cibeas Sukabumi
Jawa Timur Pantai Condrodipo, Tanjung Kodok
Aceh Lhoknga, Tugu Nol Kilometer Sabang