Gempa M5,0 Guncang Kalimantan, Ahli Ingatkan Bahaya Sesar Adang
GEMPA tektonik bermagnitudo 5,0 yang mengguncang wilayah Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (13/3) dini hari menjadi pengingat bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya bebas dari aktivitas kegempaan.
Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) Daryono mengatakan gempa yang terjadi pukul 03.04 WIB tersebut diduga dipicu oleh aktivitas Sesar Adang, salah satu struktur patahan regional yang membentang di Pulau Kalimantan.
“Selama ini Kalimantan sering dipersepsikan sebagai wilayah yang hampir bebas gempa. Dibandingkan Sumatra, Jawa, dan Sulawesi yang berada di sekitar zona subduksi aktif, aktivitas kegempaan di Kalimantan memang jauh lebih rendah. Namun rendahnya frekuensi gempa tidak berarti wilayah ini sepenuhnya steril dari aktivitas tektonik,” kata Daryono, Jumat.
Gempa tersebut dirasakan di sejumlah wilayah seperti Sintang, Sanggau, Melawi, hingga Katingan di Kalimantan Tengah. Beberapa kejadian gempa sebelumnya juga pernah tercatat di kawasan ini, antara lain pada 23 Januari 2026 dengan magnitudo 4,8, serta pada 2020 dan 2019 dengan magnitudo lebih kecil.
Menurut Daryono, Sesar Adang merupakan struktur patahan yang memanjang dari pesisir timur Kalimantan hingga bagian barat laut pulau. Jalur ini diperkirakan berawal dari kawasan Teluk Adang di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, lalu menerus ke pedalaman menuju wilayah Sintang, Sekadau, hingga Sanggau.
Patahan tersebut diperkirakan berlanjut ke kawasan perbatasan di sekitar Entikong dan tersambung dengan sistem struktur geologi di wilayah Kuching, Sarawak.
Ia menjelaskan bahwa meskipun Sesar Adang diinterpretasikan sebagai sesar tua yang berkembang sejak periode Tersier dan tidak seaktif sesar-sesar Kuarter di Jawa atau Sumatra, keberadaannya tetap tercermin dari gempa-gempa kecil hingga menengah yang sesekali terjadi di Kalimantan.
“Walaupun aktivitasnya tidak seaktif sesar besar di wilayah lain Indonesia, keberadaan Sesar Adang tetap tidak boleh diabaikan karena gempa-gempa lokal di Kalimantan Barat kerap dikaitkan dengan aktivitas sesar ini,” ujarnya.
Gempa yang berasal dari sesar lokal seperti Sesar Adang umumnya memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa megathrust di zona subduksi. Namun karena sumbernya relatif dangkal di kerak bumi, guncangan yang ditimbulkan bisa terasa cukup kuat di sekitar episenter.
“Magnitudonya cenderung lebih kecil, tetapi kedalamannya dangkal sehingga potensi guncangan lokal bisa signifikan, seperti gempa tadi malam yang membuat warga terbangun dan keluar rumah,” kata Daryono.
Ia menambahkan bahwa posisi Kalimantan yang berada di bagian interior Paparan Sunda memang membuat wilayah ini relatif stabil secara tektonik karena jauh dari batas pertemuan lempeng aktif seperti di Sumatra dan Jawa.
Namun struktur patahan lama seperti Sesar Adang tetap dapat mengalami reaktivasi akibat tegasan regional yang bekerja di kerak bumi.
Daryono menilai, dengan pembangunan yang semakin pesat di Kalimantan, pemahaman terhadap sumber-sumber gempa lokal menjadi semakin penting. Infrastruktur, kawasan industri, hingga kota-kota yang berkembang di pulau tersebut tetap perlu memperhitungkan risiko gempa.
“Walaupun probabilitas gempa besar relatif kecil, prinsip kehati-hatian tetap diperlukan karena gempa kerak dangkal dapat menimbulkan dampak signifikan jika terjadi di dekat kawasan permukiman atau fasilitas vital,” katanya.