Guru Besar IPB University Tanggapi Polemik Cukup Aku Aja yang WNI dari Penerima LPDP


Penulis:  Dede Susianti - 27 February 2026, 11:18 WIB
Dede Susianti/MI

PERNYATAAN penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP yang mengatakan cukup dirinya jadi WNI, anaknya jangan menuai respons dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Profesor Hermanto Siregar mengatakan ada hikmah penting bagi publik. Kejadian itu menurutnya refleksi diri, khususnya bagi generasi muda dan penerima beasiswa.

Setidaknya ada empat butir refleksi yang menekankan kesadaran kebangsaan, etika bermedia sosial, serta tujuan strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Pertama, Prof Hermanto menilai ungkapan “cukup aku aja yang WNI” menunjukkan minimnya kesadaran orang tersebut bahwa beasiswa yang dia peroleh berasal dari ‘uang rakyat’. 

“Kurangnya kesadaran itu menyebabkan kurangnya rasa berterima kasih kepada negara dan bangsa Indonesia, sehingga rasa ingin ‘membalas’ beasiswa itu dalam bentuk bekerja sebaik-baiknya membangun Indonesia tipis sekali atau mungkin tidak ada,”ungkapnya melalui siaran persnya yang diterima Kamis (27/2) malam. 

Kedua, Prof Hermanto juga mengamati adanya masalah etika dan norma pada banyak (meski tidak semua) anak muda saat ini. 

“Kalaupun kondisi di kampung halaman memang buruk, tentu tidak etis untuk membuka kekurangan tersebut di media sosial, yang dengan cepat menyebar ke audiens di negara-negara jiran bahkan lebih luas.” 

“Postingan menjadi viral, sebab yang menyatakan kekurangan itu adalah pihak yang sepatutnya berterima kasih kepada negara asalnya,”imbuhnya. 

Ketiga, secara substansi, beasiswa LPDP adalah salah satu strategi pemerintah yang bertujuan mengembangkan SDM Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. 

Di dalam negeri, generasi muda diberi beasiswa LPDP menimba ilmu di perguruan-perguruan tinggi nasional bereputasi internasional. Sementara di luar negeri, penerima beasiswa dikirim belajar pada perguruan tinggi ternama yang memiliki ranking 100 terbaik dunia.

“Dengan pengalaman tersebut, mereka diharapkan menjadi penggerak atau pemimpin pembangunan masa mendatang. Polemik ini mengingatkan kembali semua pihak pada tujuan mulia strategi pemerintah membangun SDM,” ujar Prof Hermanto.

Terakhir, Prof Hermanto juga mengingatkan seluruh pengguna media sosial agar lebih berhati-hati sebelum mengunggah sesuatu kepada publik. 

“Sebelum melakukan posting, pikirkan dua-tiga kali apa dampak yang mungkin timbul,”tutupnya. (H-4)