Strategi Bijak Mengelola THR: Alokasi Ideal agar tidak Sekadar Numpang Lewat


Penulis: Basuki Eka Purnama - 25 February 2026, 07:41 WIB
Dok MI

MENJELANG hari raya Lebaran, Tunjangan Hari Raya (THR) menjadi dana yang paling dinanti oleh banyak pekerja. Namun, fenomena uang THR yang habis dalam sekejap tanpa meninggalkan manfaat jangka panjang sering kali berulang. 

Edukator keuangan, Aliyah Nastasya, menekankan pentingnya disiplin dan perencanaan terstruktur agar dana tambahan sebesar satu bulan gaji tersebut tidak sekadar numpang lewat.

Aliyah menegaskan bahwa waktu adalah elemen krusial dalam investasi jangka panjang. 

Pengaturan waktu yang matang membantu mengamankan kebutuhan prioritas sejak awal. Menurutnya, kegagalan dalam mengelola THR biasanya berakar dari ketiadaan niat untuk melakukan alokasi sejak dana tersebut diterima.

"Ini (THR) sebenarnya besar karena seukuran satu bulan gaji, cuma kita kadang setelah terima, setiap lebaran habis saja, kenapa? Karena kita tidak ada niat untuk mengalokasikannya untuk hal yang penting," ujar Aliyah, dikutip Rabu (25/2).

Untuk menyiasati agar THR lebih bermanfaat, Aliyah menyarankan pembagian pos pengeluaran berdasarkan persentase yang ideal. Strategi yang ia tawarkan mencakup:

  • 20% untuk zakat fitrah, infaq, dan pelunasan utang konsumtif.
  • 20% untuk persiapan hidangan lebaran, pakaian, hingga hampers.
  • 30% untuk kebutuhan mudik dan transportasi.
  • 30% sisanya dialokasikan sebagai investasi jangka panjang.

Setelah menetapkan persentase tersebut, individu disarankan merinci pendanaan ke dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. 

Langkah ini berfungsi agar seluruh uang yang telah direncanakan tetap berada di dalam koridor peruntukannya dan tidak terpakai untuk pengeluaran impulsif.

Lebih lanjut, Aliyah menyoroti tantangan budaya di Indonesia terkait batasan atau boundaries saat berkumpul dengan keluarga. Tekanan sosial sering kali membuat seseorang sulit mengerem pengeluaran yang tidak perlu demi menghindari stigma negatif.

"Jadi yang susah di budaya Indonesia menurut aku adalah boundaries, terutama dalam masalah kekeluargaan. Kalau tidak dituruti dibilang tidak berbakti, pelit, padahal kalau kita saling menghormati hak dan kewajiban masing-masing, uang itu adalah hak dari pemilik yang menghasilkannya," jelas dia.

Sebagai penutup, Aliyah mengingatkan bahwa perencanaan keuangan adalah kunci untuk memetakan capaian hidup sesuai tenggat waktu yang ditetapkan. 

Dengan disiplin membagi porsi, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan lebaran sekaligus mengamankan masa depan finansial tanpa mengabaikan kewajiban sosial.

"Semuanya itu enggak bisa didapatkan dalam satu waktu. Ada musimnya masing-masing," pungkasnya. (Ant/Z-1)