Gastrodia bambu, Anggrek Hantu Langka Ditemukan di Lereng Gunung Merapi
DI kaki hutan yang lembap dan minim cahaya di lereng Gunung Merapi, tumbuh satu anggrek yang nyaris tak terlihat. Tidak punya daun. Tidak berwarna mencolok. Bahkan sebagian besar hidupnya tersembunyi di bawah permukaan tanah. Peneliti menyebut spesies ini Gastrodia bambu, anggrek unik yang pertama kali dideskripsikan secara ilmiah dalam jurnal Phytotaxa.
Julukan “anggrek hantu” muncul bukan tanpa alasan. Tanaman ini tidak berfotosintesis karena tidak memiliki klorofil. Ia sepenuhnya bergantung pada jamur mikoriza di dalam tanah untuk mendapatkan nutrisi.
Secara visual, ia lebih mirip batang pucat yang muncul tiba-tiba dari tanah hutan, lalu menghilang lagi setelah fase berbunga selesai. Siklus hidupnya singkat di atas permukaan, selebihnya tersembunyi.
Hidup Tanpa Cahaya Matahari
Sebagian besar anggrek dikenal sebagai tanaman epifit yang menempel di batang pohon dan membutuhkan cahaya. Gastrodia bambu berbeda total. Ia tumbuh langsung di tanah hutan, terutama di sekitar rumpun bambu. Hubungannya dengan jamur bersifat obligat. Tanpa jaringan jamur tertentu, ia tidak bisa bertahan hidup.
Model hidup seperti ini tergolong langka dan sangat sensitif terhadap perubahan ekosistem. Gangguan pada struktur tanah, kelembapan, atau komunitas jamur bisa langsung berdampak pada kelangsungan spesiesnya. Itu sebabnya keberadaan anggrek ini menjadi indikator penting kesehatan hutan.
Bukan Ghost Orchid Versi Amerika
Dalam publikasi botani, istilah ghost orchid biasanya merujuk pada Dendrophylax lindenii yang tumbuh di rawa subtropis Florida dan Kuba. Spesies tersebut epifit dan tampak melayang di batang pohon.
Gastrodia bambu bukan spesies yang sama. Secara taksonomi dan habitat berbeda jauh. Namun, keduanya punya kesamaan: minim daun, sulit ditemukan, dan muncul dalam kondisi lingkungan yang sangat spesifik. Di Merapi, kesan hantu muncul karena ia benar-benar bersembunyi di kegelapan lantai hutan.
Alarm Sunyi dari Lereng Vulkanik
Penemuan dan publikasi spesies ini menegaskan bahwa kawasan Merapi masih menyimpan biodiversitas yang belum sepenuhnya terpetakan. Di tengah tekanan aktivitas manusia dan perubahan iklim, spesies seperti ini berada di posisi rentan.
Anggrek hantu Merapi bukan sekadar cerita eksotis. Ia contoh nyata bagaimana ekosistem mikro bekerja dalam senyap. Di hutan yang terlihat biasa saja, ada jaringan kehidupan kompleks yang bergantung satu sama lain. Dan ketika satu elemen terganggu, seluruh sistem bisa ikut runtuh. (National Geographic/Biotaxa/Z-2)