Ini Asal Mula Nama Virus Nipah Menurut Pakar, bukan Berasal dari India


Penulis: Putri Rosmalia Octaviyani - 21 February 2026, 23:16 WIB
Dok. Freepik

VIRUS Nipah kini semakin santer dibicarakan di masyarakat global, menyusul munculnya wabah virus tersebut di beberapa negara seperti India dan Banglades. Lalu bagaimana asal mula munculnya nama Nipah?

Adjunct Professor Griffith University Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Nipah merupakan kata yang berasal dari bahasa Melayu. Hal itu menjawab banyaknya spekulasi yang mengira Nipah berasal dari India.

Tjandra mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologinya secara lengkap, klaster kumpulan kasus dari virus itu sebenarnya bermula pada di akhir September 1998 di dekat kota Ipoh negara bagian Perak.

"Sesudah itu, klaster kelompok kasus kedua terjadi dekat kota Sikamat di negara bagian Negri Sembilan pada Desember 1998 dan Januari 1999. Pada waktu klaster pertama dan kedua ini penyakitnya belum dikenal, bahkan mulanya diduga sebagai sebagai penyakit Japanese Encephalitis (JE)," katanya.

Wabah di Malaysia dan Singapura

Penyakit Nipah tadinya diduga sebagai penyakit Hendra, dan ini sesuai dengan tulisan di jurnal ilmiah Morbidity Mortality Weekly Report (MMWR) berjudul Outbreak of Hendra-Like Virus-Malaysia and Singapore, 1998-1999 yang terbit pada bulan April 1999.

Sampai kemudian terjadi klaster ketiga, di mana waktu itu menjadi wabah yang paling besar, di kampung Sungai Nipah dan Bukit Pelandok dan sekitarnya, daerah Port Dickson di negara bagian Negeri Sembilan yang bermula pada bulan Desember tahun 1998.

Kampung Sungai Nipah kemudian terkena lockdown oleh pemerintah setempat. Dari data di kampung Sungai Nipah inilah kemudian dilakukan penelitian mendalam dan sampai pada kesimpulan bahwa penyakit baru ini disebabkan oleh virus baru, yang diberi nama virus Nipah.

"Buku Nipah Virus Infection terbitan WHO Southeast Asia Regional Office (SEARO) tahun 2008 juga menyebutkan bahwa penamaan virus ini menunjukkan pada desa di Malaysia di mana virus ini resmi ditemukan ," ujar Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.
(Ant/H-3)