Edukasi Mekanisme Kelola Stres Jadi Kunci Cegah Adiksi Zat Psikoaktif


Penulis: Basuki Eka Purnama - 17 February 2026, 10:50 WIB
Freepik

KEPALA Instalasi Napza RSJ Marzoeki Mahdi Bogor, dr. Ayie Sri Kartika, menekankan pentingnya edukasi mengenai kemampuan mekanisme pelepasan stres sebagai langkah preventif mengurangi risiko adiksi zat psikoaktif, termasuk tren penggunaan whip pink.

Menurut Ayie, cara seseorang merespons tekanan mental sangat menentukan apakah mereka akan terjatuh ke dalam jerat kecanduan atau tidak. Ia menyarankan agar setiap individu memiliki penyaluran emosi yang sehat dan sesuai dengan karakter masing-masing.

“Misalnya kalau stres, apa sih yang dilakukan? Kalau lagi kesel, apa sih yang dilakukan? Orang yang tipe agresif, ya sudah siapin aja misalnya samsak di rumah. Kalau dia lagi marah, pukul-pukulin tuh samsak, misalnya seperti itu ya,” ujar Ayie dalam sebuah webinar daring di Jakarta, dikutip Selasa (17/2).

Selain penyaluran fisik, Ayie menyebut bahwa support system atau keberadaan orang terdekat yang dapat dipercaya untuk berbagi cerita merupakan pilar penting dalam mengelola stres. 

Namun, ia menyayangkan kondisi sosial di Indonesia saat ini, ketika banyak orang merasa tidak lagi memiliki sosok pendukung di masa sulit. 

Rasa kesendirian inilah yang sering kali memicu seseorang mencari pelarian instan guna mengalihkan kesedihan, salah satunya melalui zat psikoaktif yang adiktif.

Zat seperti whip pink kerap disalahgunakan karena memberikan efek tenang, rasa senang, hingga tubuh terasa ringan. Padahal, efek tersebut hanyalah solusi semu yang membawa dampak kesehatan fatal. 

Dalam jangka pendek, pengguna akan mengalami mual, bicara pelo akibat saraf yang terblokir, hingga pingsan mendadak karena kurangnya pasokan oksigen ke otak (hipoksia).

Dampak jangka panjangnya jauh lebih mengerikan. Ayie memaparkan bahwa pengguna zat ini berisiko mengalami emosi tidak stabil, paranoid, kecemasan berat, gangguan tidur, hingga halusinasi menetap. 

Secara fisik, kekurangan vitamin B12 akibat zat ini dapat menyebabkan tremor hingga kelumpuhan.

Sebagai langkah mitigasi, Ayie mengimbau masyarakat untuk tidak ragu meminta bantuan profesional jika melihat tanda-tanda kecanduan, seperti sulit berhenti atau mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terhambat oleh stigma negatif atau rasa takut akan nama baik.

“Yang namanya orang terdekat kita, kita tidak pernah objektif. Jadi mendingan langsung deh konsultasi. Nggak usah takut aduh nanti jelek namanya dan lain sebagainya. Konsultasi saja langsung,” tegasnya.

Selain konsultasi, langkah nyata lainnya adalah segera menjauhi lingkungan yang menormalisasi pemakaian zat adiktif serta terus mengedukasi diri mengenai risiko kerusakan saraf yang ditimbulkan. (Ant/Z-1)