Diet Mediterania Terbukti Cegah Stroke pada Perempuan
POLA makan diet Mediterania dikaitkan dengan mencegah stroke secara signifikan pada perempuan. Studi jangka panjang yang dipublikasikan dalam Neurology Open Access pada 4 Februari 2026 menunjukkan perempuan yang paling konsisten menjalani diet ini memiliki risiko stroke jauh lebih rendah, termasuk stroke perdarahan iskemik yang selama ini relatif jarang diteliti.
Penelitian yang dilakukan American Academy of Neurology itu melibatkan 105.614 perempuan berusia rata-rata 53 tahun yang tidak memiliki riwayat stroke saat penelitian dimulai. Para partisipan dipantau selama rata-rata 21 tahun.
Hasilnya, perempuan dengan kepatuhan tertinggi terhadap diet Mediterania tercatat memiliki risiko stroke 18% lebih rendah dibandingkan mereka yang kepatuhannya paling rendah. Risiko stroke iskemik turun 16%, sementara risiko stroke hemoragik atau perdarahan menurun hingga 25%.
“Temuan ini memperkuat bukti bahwa pola makan sehat berperan penting dalam pencegahan stroke,” ujar penulis utama studi, Sophia S. Wang dari City of Hope Comprehensive Cancer Center, California.
“Yang menarik, efek protektif ini juga terlihat pada stroke perdarahan, yang selama ini jarang dikaji dalam studi berskala besar," imbuh dia.
Diet Mediterania menekankan konsumsi sayuran, buah, kacang-kacangan, serealia utuh, ikan, serta penggunaan minyak zaitun sebagai sumber lemak utama. Sebaliknya, konsumsi daging merah, produk susu, dan lemak jenuh dibatasi.
Dalam penelitian ini, kepatuhan diet diukur menggunakan skor 0–9 berdasarkan kuesioner pola makan. Sekitar 30% partisipan berada pada kelompok skor tertinggi (6–9), sementara 13% lainnya berada di kelompok skor terendah (0–2).
Selama periode pemantauan, tercatat 4.083 kasus stroke, terdiri atas 3.358 stroke iskemik dan 725 stroke hemoragik. Setelah memperhitungkan faktor risiko lain seperti merokok, aktivitas fisik, dan tekanan darah tinggi, hubungan antara diet Mediterania dan penurunan risiko stroke tetap signifikan.
Wang menilai temuan ini penting mengingat stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia. “Perbaikan pola makan berpotensi menjadi strategi pencegahan stroke yang sederhana namun sering diabaikan,” ujarnya.
Meski demikian, peneliti mencatat keterbatasan studi, antara lain data pola makan yang dilaporkan sendiri oleh partisipan, sehingga berpotensi mengandung bias ingatan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasari hubungan tersebut. (H-4)