Peta Risiko Virus Nipah: Mengapa Asia Tenggara Harus Waspada Pandemi Berikutnya
ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi memasukkan virus Nipah (NiV) ke dalam daftar patogen prioritas yang berpotensi memicu pandemi berikutnya. Peringatan ini muncul setelah laporan kematian pasien di Distrik Naogaon, Bangladesh pada akhir Januari 2026, serta temuan klaster infeksi pada tenaga medis di West Bengal, India.
Mengenal Jalur Merah 'Nipah Belt'
Istilah Nipah Belt merujuk pada bentangan wilayah di Asia Selatan hingga Asia Tenggara yang menjadi habitat alami kelelawar buah genus Pteropus. Kawasan ini mencakup Bangladesh, India, Tailan, Malaysia, Singapura, Filipina, hingga Indonesia. Berdasarkan data epidemiologi 2026, risiko spillover atau loncatan virus dari hewan ke manusia meningkat akibat perubahan penggunaan lahan yang ekstrem.
Fakta Virus Nipah 2026:
- Tingkat Kematian: Mencapai 40% hingga 75% dari total kasus.
- Inang Alami: Kelelawar buah (Flying Foxes).
- Cara Penularan: Konsumsi makanan terkontaminasi liur/urin kelelawar, kontak dengan hewan ternak (babi), dan kontak erat antarmanusia.
- Vaksin: Hingga Februari 2026, belum ada vaksin atau obat spesifik yang disetujui secara global.
Respons Pemerintah Indonesia
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah menerbitkan Surat Edaran kewaspadaan dini penyebaran virus nipah bagi seluruh Dinas Kesehatan dan otoritas bandara. Pengawasan di pintu masuk negara kini diperketat dengan penggunaan kembali pemindai suhu tubuh (thermal scanner) dan integrasi data melalui aplikasi Satu Sehat Health Pass.
"Kewaspadaan yang dilakukan pemerintah saat ini merupakan langkah pencegahan yang proporsional. Ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memastikan sistem kesehatan kita siap menghadapi risiko," ujar Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher.
| Wilayah Risiko | Status (Februari 2026) | Tindakan Utama |
|---|---|---|
| Bangladesh (Rajshahi) | Wabah Aktif | Karantina wilayah & pelarangan nira mentah. |
| India (West Bengal) | Klaster Medis | Pelacakan kontak erat (>190 orang). |
| Indonesia | Siaga Dini | Skrining suhu di bandara internasional. |
| Thailand | Siaga Dini | Distribusi Health Beware Card di Phuket & Bangkok. |
Gejala yang Harus Diwaspadai
Masyarakat diimbau untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala berikut setelah melakukan perjalanan dari wilayah terdampak:
- Demam mendadak dan sakit kepala hebat.
- Nyeri otot dan muntah.
- Gangguan pernapasan akut.
- Penurunan kesadaran atau tanda-tanda ensefalitis (peradangan otak).
Hingga saat ini, Kemenkes memastikan bahwa laboratorium rujukan nasional telah disiagakan untuk melakukan uji PCR virus nipah terhadap sampel yang mencurigakan. Masyarakat diminta tetap tenang dan selalu mencuci buah-buahan hingga bersih sebelum dikonsumsi. (H-3)