Meniran hingga Temulawak: Solusi Berkelanjutan Lawan Infeksi Cacing pada Unggas
INFEKSI cacing Ascaridiosis masih menjadi momok menakutkan bagi industri perunggasan di Indonesia. Selain mengancam kesehatan ternak, serangan parasit ini berdampak langsung pada kerugian ekonomi peternak akibat penurunan produktivitas.
Di sisi lain, ketergantungan pada obat cacing kimia mulai menunjukkan titik jenuh dengan munculnya risiko resistensi parasit.
Menyikapi tantangan tersebut, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Prof drh Risa Tiuria, menawarkan perspektif baru dalam pengendalian parasit melalui penguatan sistem pertahanan mukosa dan pemanfaatan fitoterapi.
Dampak Ekonomi dan Ancaman Resistensi
Ascaridiosis dipicu oleh nematoda Ascaridia galli yang hidup di lumen usus halus dan menular melalui jalur fekal-oral.
Prof Risa menjelaskan bahwa infeksi ini secara kronis dapat menurunkan produksi ayam petelur, baik dari segi kuantitas maupun bobot telur. Hal ini terjadi karena kerusakan jaringan usus yang mengganggu penyerapan nutrisi.
"Infeksi kronis Ascaridia galli dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi bagi peternak ayam," tegas Prof Risa dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, beberapa waktu lalu.
Ia menyoroti bahwa penggunaan obat kimia secara terus-menerus berisiko memicu resistensi. Sebagai alternatif berkelanjutan, Prof Risa mengungkapkan potensi besar kekayaan tanaman obat Indonesia seperti meniran, sambiloto, temulawak, dan temuireng.
"Secara in vitro, beberapa tanaman obat Indonesia terbukti mampu menurunkan motilitas cacing. Zat aktif herbal bahkan dapat menembus kutikula cacing yang sangat tebal dan melumpuhkannya," ungkap Prof Risa.
Ia menambahkan bahwa pengembangan obat herbal ini memiliki potensi sebagai antelmintik jangka panjang yang tidak mengakibatkan resistensi.
Mekanisme Pertahanan Alami Ayam
Selain intervensi eksternal, Prof Risa menekankan pentingnya mekanisme pertahanan selaput lendir (mukosa) saluran pencernaan ayam. Dalam proses melawan infeksi, sel goblet dan sel mast memegang peranan vital.
Peningkatan produksi lendir oleh sel goblet berfungsi menghambat penempelan cacing. Sementara itu, sel mast bekerja melalui degranulasi yang melepaskan mediator kimia.
"Sementara degranulasi sel mast melepaskan mediator seperti histamin, proteoglikan, dan protease yang dapat merusak kutikula cacing dan membantu pengeluarannya dari tubuh ayam," lanjutnya.
Tantangan Vaksinasi dan Masa Depan Herbal
Dalam hal respons imun, Prof Risa memaparkan potensi antigen ekskretori–sekretori (ES) dari cacing dewasa.
Pemberian antigen dengan berat molekul 40–66 kDa diketahui mampu mempercepat pengeluaran larva dan menghambat perkembangan parasit. Namun, pengembangan vaksin cacing masih menemui jalan terjal.
"Cacing merupakan helmin metazoa dengan siklus hidup yang kompleks dan respons imun yang berbeda pada setiap stadium, sehingga vaksin sulit dikembangkan," jelasnya secara transparan.
Saat ini, penelitian mengenai efikasi herbal tersebut masih berada pada tahap in vivo dan belum diterapkan sepenuhnya sebagai terapi utama di peternakan.
Meski demikian, penggunaan herbal sebagai suplemen peningkat kesehatan saluran pencernaan sudah lazim dilakukan.
"Kelompok kurkumin sering diberikan untuk meningkatkan kekebalan, meskipun belum sampai tahap terapi," tutupnya. (Z-1)