Dari Gigi Ngilu hingga Enamel Terkikis, Ini Pendekatan Baru Perawatan Gigi
GIGI sensitif, rasa ngilu, hingga enamel yang mudah terkikis menjadi keluhan kesehatan gigi yang umum dialami masyarakat. Kondisi ini kerap dipicu oleh menipisnya enamel akibat paparan asam dari makanan dan minuman, kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat, serta penumpukan plak. Karena itu, pendekatan perawatan gigi kini tidak lagi hanya berfokus pada pembersihan, tetapi juga pada upaya memperbaiki dan melindungi struktur gigi.
Dalam dunia kedokteran gigi, enamel berperan sebagai lapisan pelindung utama gigi. Ketika enamel kehilangan mineral alaminya, gigi menjadi lebih rentan terhadap rasa nyeri, sensitivitas, dan pembentukan lubang. Untuk menjawab tantangan ini, teknologi pasta gigi modern mulai mengadopsi bahan aktif yang mampu meniru komposisi alami enamel, salah satunya hidroksiapatit (HAP).
Hidroksiapatit merupakan mineral utama penyusun enamel gigi. Dalam formulasi pasta gigi, HAP bekerja dengan cara mengisi pori-pori mikro dan retakan halus di permukaan gigi, sehingga membantu memperbaiki enamel yang melemah. Teknologi ini dinilai efektif untuk mengurangi sensitivitas sekaligus memberikan perlindungan terhadap gigi berlubang.
Pendekatan berbasis HAP ini diaplikasikan dalam Metoo HAP Shield Toothpaste, produk perawatan gigi yang diformulasikan dengan kandungan 5% hidroksiapatit. Pasta gigi ini dirancang untuk membantu menutup dentin yang terbuka (penyebab utama gigi ngilu) serta memperkuat lapisan enamel agar lebih tahan terhadap rangsangan panas, dingin, maupun asam.
Brand Director Metoo Beauty International, Aiko Angelique, menjelaskan bahwa teknologi mineral tersebut bekerja secara bertahap dan lembut. "Kandungan hidroksiapatit membantu mengisi lubang-lubang kecil di permukaan gigi, memperbaiki enamel, menjaga gigi tetap kuat dan sehat, serta mencegah gigi berlubang," ujarnya.
Secara kesehatan, perlindungan enamel yang optimal berkontribusi besar dalam pencegahan karies. Lapisan HAP yang terbentuk pada permukaan gigi juga berfungsi sebagai perisai terhadap plak dan bakteri, sehingga risiko gigi berlubang dapat ditekan. Selain itu, kemampuan HAP dalam mengurangi sensitivitas menjadikannya pilihan bagi individu dengan gigi sensitif yang sering mengalami rasa nyeri saat makan atau minum.
Tak hanya fokus pada perlindungan, teknologi pasta gigi juga berkembang untuk mengatasi masalah estetika yang kerap berdampak pada kepercayaan diri, seperti gigi menguning. Metoo juga menghadirkan varian MW-3 Advanced Whitening Toothpaste yang memanfaatkan kombinasi bahan aktif untuk mengangkat noda secara lembut tanpa merusak enamel gigi.
Varian pemutih ini mengandung tetrasodium pyrophosphate, sodium phytate, dan hydrated silica yang membantu mengurangi noda akibat kopi, teh, atau rokok. Formulasi tersebut diperkaya vitamin C dan E untuk mendukung kesehatan gusi, serta probiotik yang membantu menekan pertumbuhan bakteri penyebab bau mulut dan plak.
Aiko menambahkan, pemilihan pasta gigi yang tepat sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan gigi tiap individu. "Untuk gigi sensitif, penting memilih pasta gigi yang bekerja memperbaiki enamel, bukan hanya memberikan efek sementara," katanya.
Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi sebagai bagian dari kualitas hidup, perawatan gigi berbasis teknologi dinilai semakin relevan. Dengan pemilihan pasta gigi yang tepat dan kebiasaan menyikat gigi secara rutin minimal dua kali sehari, risiko gangguan kesehatan gigi dapat ditekan sejak dini, sekaligus menjaga senyum tetap sehat dan nyaman dalam jangka panjang. (E-1)