Pemerintah Percepat Pengembangan Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi


Penulis:  Media Indonesia - 14 March 2026, 12:16 WIB
MI/HO

PENGEMBANGAN industri baterai kendaraan listrik di Indonesia terus bergerak menuju ekosistem yang semakin terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku mineral, produksi komponen baterai, hingga pengelolaan limbah baterai melalui proses daur ulang yang berkelanjutan. Dalam ekosistem tersebut, program kolaborasi Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP), Entrev, turut berperan mendukung kesiapan Indonesia dalam menghadapi transisi kendaraan listrik, khususnya melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan standar kompetensi di sektor ketenagalistrikan yang menjadi fondasi penting bagi industri kendaraan listrik nasional.

Pengembangan industri baterai kendaraan listrik saat ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam mendorong hilirisasi sumber daya mineral, khususnya nikel, yang dimiliki Indonesia dalam jumlah besar. Kolaborasi antara Grup Mind Id, PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan konsorsium Huayou (HYD) diharapkan mampu mempercepat terbentuknya rantai pasok baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen membangun rantai industri baterai kendaraan listrik secara menyeluruh mulai dari sektor hulu hingga hilir. Hal ini mencakup proses pertambangan nikel, pengolahan melalui smelter, fasilitas high pressure acid leaching (HPAL), produksi prekursor dan katoda, hingga manufaktur sel baterai.

"Kita ingin proyek ini memberikan nilai tambah maksimal bagi bangsa. Hilirisasi harus menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat industri strategis di dalam negeri," ujar Bahlil.

Ia menambahkan, pengembangan industri baterai kendaraan listrik tidak hanya memberikan nilai tambah bagi komoditas mineral, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang luas bagi daerah, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan energi nasional dalam menghadapi transisi menuju energi bersih. Itu disampaikannya dalam Pelatihan dan Sertifikasi Standar Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan Subbidang Pengoperasian Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM bersama Entrev pada 3-5 Maret 2026 di Kantor UP3 PT PLN, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Sejalan dengan langkah tersebut, Entrev National Project Manager, Nasrullah Salim, menyampaikan bahwa percepatan pembangunan ekosistem kendaraan listrik membutuhkan dukungan ekosistem yang utuh, mulai dari kebijakan, investasi industri, hingga kesiapan sumber daya manusia yang kompeten.

"Pengembangan industri baterai kendaraan listrik akan memberikan dampak besar bagi transformasi energi nasional. Namun keberhasilan ekosistem ini juga sangat bergantung pada kesiapan tenaga kerja yang memiliki kompetensi teknis di sektor ketenagalistrikan dan infrastruktur kendaraan listrik," ujar Nasrullah Salim.

Melalui berbagai kegiatan penguatan kapasitas seperti pelatihan dan sertifikasi teknisi kelistrikan yang dilaksanakan bersama Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, pihaknya berupaya mendukung terciptanya tenaga kerja terampil yang siap menghadapi perkembangan teknologi kendaraan listrik. "Kami percaya bahwa penguatan kompetensi SDM menjadi salah satu kunci utama agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga mampu menjadi pusat industri dan inovasi kendaraan listrik di kawasan," tutup Nasrullah Salim. (I-2)