Harga Minyak Dunia Tembus US$100, Imbas Ketegangan Perang di Iran
PASAR energi global terguncang hebat pada Minggu (8/3) seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap gangguan pasokan minyak di Timur Tengah akibat perang di Iran. Untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, harga minyak mentah dunia kini resmi menembus angka psikologis US$100 (Sekitar Rp1,7 juta) per barel.
Minyak mentah berjangka AS melonjak signifikan sebesar 14,7%. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi tolok ukur global naik 12,63% ke level US$104 per barel. Lonjakan ini memicu kekhawatiran bahwa gangguan di pasar energi akan semakin memicu inflasi global.
Pasar Saham Tertekan, Harga BBM AS Melambung
Kenaikan harga minyak langsung berdampak pada bursa saham. Dow futures merosot 851,6 poin atau sekitar 2%, diikuti oleh penurunan pada S&P 500 dan Nasdaq. Di sektor riil, rata-rata harga bensin di Amerika Serikat mencapai US$3,45 per galon pada Minggu, naik 16% dibandingkan pekan sebelumnya menurut data AAA.
Kondisi ini menempatkan Presiden Donald Trump dan Partai Republik dalam posisi politik yang sulit menjelang pemilihan paruh waktu tahun ini. Meski demikian, pemerintahan Trump mencoba meredam kekhawatiran publik mengenai dampak jangka panjang kampanye militer AS-Israel di Iran terhadap harga bahan bakar.
Kepada ABC News, Presiden Trump menyebut lonjakan harga bensin saat ini hanyalah sebuah "gangguan kecil" dan menganggap kenaikan cepat tersebut sebagai "jalan memutar" yang sudah diperkirakan. Senada dengan itu, Menteri Energi Chris Wright menegaskan bahwa AS tidak berencana menyerang industri minyak Iran atau situs infrastruktur energi lainnya.
Ancaman Blokade Selat Hormuz
Di sisi lain, Teheran memperingatkan bahwa konflik telah memasuki "fase baru" setelah serangan Israel. Seorang pejabat senior Iran memberi sinyal adanya kemungkinan serangan balasan terhadap infrastruktur energi regional dalam beberapa hari ke depan.
Salah satu ancaman paling serius adalah penutupan Selat Hormuz, jalur perairan sempit yang dikendalikan Iran di mana 20% pasokan minyak dunia melintas.
"Iran tidak akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz sampai mencapai hasil yang diinginkan," tegas pejabat tersebut.
Iran mengancam akan menyerang tanker minyak mana pun yang melintasi jalur tersebut, yang secara efektif dapat menghentikan lalu lintas pengiriman global. Situasi ini membuat produsen minyak tidak memiliki ruang lagi untuk menyimpan minyak hasil pompa mereka, sehingga banyak produsen mulai mengurangi tingkat produksi mereka.
Dunia kini menanti apakah ketegangan ini akan berlanjut pada krisis energi yang lebih dalam atau diplomasi mampu meredam gejolak harga sebelum inflasi kian tak terkendali. (CNN/Z-2)