Dampak Konflik Timur Tengah ke Harga Rumah Hanya 3,5 Persen
GEJOLAK geopolitik global, termasuk konflik Timur Tengah antara Iran-Amerika Serikat dan Israel berdampak pada kenaikan harga energi dan logistik. Namun, hal ini dinilai tidak akan mengguncang harga rumah secara signifikan di Indonesia.
Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI), Joko Suranto, mengatakan dampak kenaikan biaya logistik terhadap sektor properti masih relatif terkendali. Menurutnya, kenaikan biaya transportasi bahan bangunan diperkirakan tidak akan melampaui 10%.
“Ketika kita berbicara biaya logistik, saya rasa kenaikannya tidak sampai 10%,” ujarnya usah kegiatan buka puasa bersama DPP REI dengan 2.000 anak yatim dari 10 yayasan di Jakarta, Kamis (5/3).
Ia menjelaskan bahwa struktur biaya pembangunan rumah membuat dampak kenaikan logistik terhadap harga jual rumah menjadi terbatas. Komponen bangunan sendiri rata-rata hanya menyumbang sekitar 35% dari harga rumah.
Dengan asumsi kenaikan logistik sebesar 10%, dampaknya terhadap keseluruhan harga rumah diperkirakan hanya sekitar 3,5%.
“Kalau harga rumah itu dipatok 35% dari biaya bangunan, lalu ada kenaikan logistik 10%, berarti dampaknya sekitar 38,5%. Artinya masih relatif terukur,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, sebagian besar bahan bangunan untuk pembangunan rumah di Indonesia juga diproduksi di dalam negeri. Industri seperti semen, keramik, hingga material konstruksi lainnya saat ini sudah banyak memiliki pabrik yang dekat dengan kawasan pertumbuhan properti.
Kondisi tersebut membuat tekanan biaya akibat fluktuasi global masih bisa dikelola oleh para pengembang.
“Pabrik-pabrik material sekarang sudah banyak berada dekat dengan kawasan pertumbuhan properti. Jadi biaya logistik masih relatif bisa dikendalikan,” katanya.
Material impor, menurutnya, umumnya hanya digunakan pada segmen rumah mewah sehingga tidak terlalu mempengaruhi harga rumah secara keseluruhan.
Karena itu, Joko menilai sektor properti masih memiliki daya tahan terhadap dinamika ekonomi global. Pengembang juga diyakini masih mampu mengelola risiko kenaikan biaya selama lonjakan harga tidak terjadi secara ekstrem.
“Selama kenaikannya tidak eksponensial, risiko itu masih bisa dikelola,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, REI berharap pemerintah tetap menjaga stabilitas kebijakan ekonomi serta mendorong realisasi berbagai program pembangunan, termasuk sektor perumahan, agar aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak.

Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Joko, sektor properti dinilai masih dapat menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Sebab, industri properti selama ini mampu memberikan kontribusi sekitar 0,5 % terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Kontribusi tersebut didorong oleh aktivitas pembangunan dan investasi yang terus bergerak. Pada 2025, investasi di sektor properti tercatat mencapai sekitar Rp140 triliun, yang turut mendorong perputaran ekonomi di berbagai sektor.
“Industri properti memiliki multiplier effect yang besar karena berkaitan dengan sekitar 185 subsektor ekonomi, mulai dari industri bahan bangunan, konstruksi, hingga sektor jasa. Ketika pembangunan properti berjalan, berbagai aktivitas ekonomi turunan juga ikut tumbuh,” kata dia.
Ia menjelaskan, pembangunan properti tidak hanya menciptakan aktivitas konstruksi, tetapi juga memicu pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor turunan. Misalnya ketika kawasan properti berkembang, maka akan muncul pusat perbelanjaan, restoran, hingga berbagai kegiatan usaha lainnya yang menyerap tenaga kerja.
Karena itu, Ia menilai sektor properti tetap memiliki daya tahan dalam menghadapi dinamika ekonomi global, termasuk ketegangan geopolitik yang saat ini mempengaruhi perekonomian dunia.
Menurutnya, selama berbagai program pemerintah di sektor ekonomi dan perumahan dapat direalisasikan dengan baik, industri properti masih dapat memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kami masih meyakini target pertumbuhan ekonomi pemerintah bisa tercapai jika program-program ekonomi berjalan dengan baik dan sektor properti tetap bergerak,” ujarnya.
Joko menilai, kontribusi sektor properti tersebut masih dapat terjaga, terutama jika program-program pemerintah di sektor ekonomi dan perumahan dapat direalisasikan dengan baik. Dengan demikian, sektor properti diharapkan tetap mampu mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,5%. (Z-10)