IHSG Diproyeksi Tertahan di 8.300, Peluang Penguatan masih Terbuka


Penulis: Insi Nantika Jelita - 17 February 2026, 18:20 WIB
Dok. Antara

EQUITY Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah memperkirakan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) masih akan tertahan di area resistance 8.300 pada perdagangan pasca libur Tahun Baru Imlek. Kondisi ini terjadi seiring pelaku pasar yang cenderung menunggu katalis baru.

Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka. Hari menegaskan, pada periode 18–20 Februari 2026 pasca libur Imlek, pergerakan IHSG akan sangat dipengaruhi oleh sentimen fundamental dari rilis laporan keuangan tahunan 2025 yang berpotensi menjadi katalis positif, terutama bagi emiten dengan pertumbuhan laba solid dan margin yang terjaga.

Selain itu, sentimen kebijakan suku bunga juga menjadi faktor penting karena berpotensi menggerakkan sektor perbankan dan properti, seiring ekspektasi stabilitas likuiditas serta permintaan kredit. 

Investor juga diminta mencermati perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia yang dinilai progresnya cukup konstruktif dan dapat memperkuat kepercayaan pasar dalam jangka menengah.

"Secara teknikal, IHSG saat ini berpotensi bergerak konsolidasi setelah belum berhasil menembus area resistance 8.300, dengan level support berada di kisaran 8.120," kata Hari dalam keterangan resmi, Selasa (17/2).

Ia menambahkan, selama resistance tersebut belum terlewati, pergerakan indeks cenderung sideways atau tidak banyak berubah dengan volatilitas terbatas.

Pihaknya mencatat dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat menguat 3,49% dan menjadi sinyal awal pemulihan pasca tekanan Morgan Stanley Capital International (MSCI), meskipun tekanan eksternal masih membayangi. 

Moody’s memangkas outlook terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk empat bank besar nasional, yang sempat memicu kekhawatiran investor.

Di sisi lain, FTSE Russell memutuskan menunda perubahan komposisi indeks terkait Indonesia karena masih menunggu hasil reformasi pasar yang tengah dijalankan bursa dan akan melakukan peninjauan kembali pada Mei mendatang. Penundaan tersebut ditegaskan tidak berkaitan dengan country classification atau klasifikasi negara
seperti yang terjadi pada MSCI.

Hari menjelaskan, di tengah sentimen campuran, IHSG tetap mampu menguat ditopang saham-saham konglomerasi. Namun, lanjutnya, tekanan jual asing masih terjadi, terutama pada saham PT Bank Central Asia Tbk dengan outflow mencapai Rp3,8 triliun dalam sepekan terakhir sehingga terkoreksi 6,19 persen. Secara keseluruhan, IHSG juga mengalami outflow Rp6,1 triliun dalam periode yang sama. 

"Kondisi ini mencerminkan rotasi dan selektivitas investor di tengah dinamika sentimen global dan domestik," ungkap Hari.

Dari eksternal, pergerakan indeks Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih dipengaruhi kombinasi rilis data ekonomi serta dinamika laporan kinerja emiten. Di akhir pekan, perhatian tertuju pada rilis estimasi pertumbuhan ekonomi serta data belanja dan pendapatan konsumen sebagai indikator utama daya tahan ekonomi Amerika Serikat.

"Ketakutan investor terhadap dampak negatif kecerdasan buatan atau AI juga berpotensi membuat volatilitas Wall Street tetap tinggi, meski bias pergerakan cenderung konstruktif selama data ekonomi menunjukkan stabilitas pertumbuhan," tutur Hari.

Sementara itu, pasar domestik diproyeksikan bergerak dinamis dengan fokus utama pada pengumuman suku bunga Bank Indonesia pada Kamis (19/2), yang menjadi sentimen kunci penggerak pasar. 

"Ekspektasi stabilisasi suku bunga sekaligus sinyal arah kebijakan moneter ke depan dinilai turut memengaruhi risiko aset lokal," kata Hari.

Ia menilai perkembangan reformasi Bursa Efek Indonesia yang mencakup peningkatan transparansi dan tata kelola pasar turut memberikan harapan bagi investor terhadap daya tarik pasar modal dalam jangka menengah hingga panjang, khususnya untuk menarik partisipasi investor asing.

Investor juga diminta memerhatikan rilis data inflasi domestik, update neraca perdagangan, serta sentimen korporasi dari laporan keuangan emiten kuartal IV/2025 yang dapat memberikan arahan lanjutan terhadap arah IHSG.  (H-3)