Pendanaan Bank ke Pindar Naik Signifikan
STAGNANSI akses kredit di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan mencerminkan keterbatasan sistem keuangan formal dalam menjangkau seluruh lapisan masyarakat, khususnya segmen underbanked. Kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar/P2P lending) dinilai menjadi solusi strategis untuk memperluas akses pembiayaan secara inklusif dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech), Firlie Ganinduto, mengatakan perluasan akses kredit tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Menurutnya, pendekatan kolaboratif antara perbankan dan pindar menjadi semakin penting dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“White paper ini menegaskan bahwa perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk membuka pintu perluasan pembiayaan dan menjangkau segmen masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian dan tata kelola yang kuat,” ujar Firlie dalam peluncuran White Paper di Jakarta, belum lama ini.
Peran Bank dalam Pendanaan Pindar Terus Meningkat
Penyusunan white paper tersebut dilatarbelakangi oleh tren meningkatnya kemitraan antara perbankan dan pindar dalam beberapa tahun terakhir. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peran bank sebagai sumber pendanaan utama bagi pindar meningkat signifikan dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024. Per Januari 2025, porsi pendanaan dari perbankan bahkan mencapai 71% atau sekitar Rp46,6 triliun.
“Perkembangan ini mencerminkan peningkatan kepercayaan perbankan terhadap model bisnis pindar, sekaligus menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur, bertanggung jawab, dan berorientasi jangka panjang,” tambah Firlie.
Deputi Komisioner Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PMVL) OJK, Jasmi, menyampaikan bahwa OJK menyambut baik inisiatif konkret dalam memperkuat kolaborasi tersebut, dengan tetap mengedepankan tata kelola, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen.
Sinergi lintas lembaga keuangan ini diharapkan mampu memperluas akses pembiayaan alternatif, khususnya bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Senada, Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Kementerian PPN/Bappenas, Rosy Wediawaty, menilai optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk melalui kolaborasi lembaga keuangan konvensional dan inovatif, berperan strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, mengungkapkan peningkatan rasio kredit sangat menentukan pertumbuhan ekonomi melalui penguatan konsumsi, investasi, dan produktivitas. Namun, tantangan akses kredit di Indonesia masih besar.
Data World Bank menunjukkan sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih berstatus underbanked. Sementara itu, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70% pada 2025, yang berarti sekitar 30% orang dewasa masih berada di luar sistem keuangan formal.
Rasio kredit terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia juga relatif rendah dan stagnan di kisaran 36,4% pada periode 2024–2025. Angka ini jauh di bawah rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang mencapai 74,46% maupun negara menengah bawah sebesar 62,72%.
Menurut Manggala, kesenjangan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh kemampuan ekonomi masyarakat, melainkan juga keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional yang belum sepenuhnya mampu membaca profil masyarakat produktif yang belum memiliki rekam jejak formal.
Pindar Tumbuh Paling Cepat
White paper mencatat bahwa meskipun perbankan masih menjadi penyedia kredit terbesar, pindar merupakan kanal dengan pertumbuhan tercepat, yakni sekitar 34% per tahun pada periode 2019-2024.
Pindar dinilai memiliki dua keunggulan utama, yakni membuka akses bagi segmen yang belum tergarap optimal serta mendorong inovasi melalui underwriting digital dan pemanfaatan data alternatif untuk credit scoring.
Sejumlah studi juga menunjukkan peran pindar sebagai jembatan menuju sistem perbankan formal. Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) mencatat lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35% kemudian mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan pinjaman dari platform pindar. Survei Mandala Consulting menunjukkan hampir 50% responden mengajukan pinjaman bank setelah melunasi kewajiban pinjaman dari pindar.
Kepala Departemen P2P Lending Aftech sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menegaskan percepatan peran pindar harus diimbangi dengan kesiapan tata kelola dan kepatuhan yang sejalan dengan standar perbankan.
“Kami percaya platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi salah satu batu loncatan penting menuju inklusi keuangan yang lebih merata dan ekonomi yang lebih tangguh,” ujar Nucky.
Menurut riset IMF, penyaluran kredit, baik konsumtif maupun produktif, berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Kolaborasi bank dan pindar dinilai dapat menjadi salah satu instrumen untuk menutup kesenjangan akses kredit nasional sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (Z-10)