Dermaga Logistik PSN Wanam Capai 93 Persen, Siap Beroperasi Maret 2026


Penulis: Rahmatul Fajri - 05 February 2026, 22:42 WIB
Dok istimewa

PEMBANGUNAN Dermaga Jetty Multipurpose di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan memasuki tahap penyelesaian dengan progres fisik mencapai 93%. Infrastruktur strategis berkapasitas 50.000 deadweight tonnage (DWT) ini ditargetkan mulai beroperasi secara fungsional pada pekan keempat Maret 2026.

Dermaga ini merupakan urat nadi logistik bagi Proyek Strategis Nasional (PSN) pengembangan kawasan pangan di Merauke. Perannya sangat krusial sebagai pintu masuk utama alat berat dan sarana produksi pertanian guna mendukung target cetak sawah seluas 1 juta hektare.

Anggota Tim Project Wanam, Gawang Kurniawan, menjelaskan bahwa meskipun pengerjaan secara teknis berjalan lancar, tantangan terbesar di lapangan adalah kondisi cuaca pesisir yang ekstrem dan tidak menentu.

“Alhamdulillah progres dermaga sudah di angka 93 persen. Pekerjaan tidak ada kendala berarti, hanya memang cuaca di sini sangat tidak menentu. Satu-satunya musuh kami di sini adalah cuaca,” ujar Gawang melalui keterangannya, Kamis (5/2).

Untuk menjamin kekuatan struktur dalam menahan beban ribuan ton alat berat, dermaga ini dibangun menggunakan 3.484 ton pipa baja berkualitas tinggi sebagai tiang pancang.

Sinergi dengan Masyarakat Lokal dan Swasta

Gawang menegaskan pembangunan PSN Wanam tetap mengedepankan aspek sosial dengan melibatkan masyarakat asli, khususnya pemilik hak ulayat dari marga-marga suku Malind Anim.

"Pekerja lokal pasti ada karena kami menghargai masyarakat dan marga yang ada di sini. Sinergi ini penting agar manfaat proyek dirasakan langsung oleh warga," imbuhnya. .Di sisi lain, percepatan proyek ini melibatkan kemitraan dengan sektor swasta melalui skema penugasan negara. Salah satu mitra utama adalah Jhonlin Group. Pemilik Jhonlin Group, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, menyatakan komitmennya untuk menuntaskan target pembukaan lahan tanpa mendahulukan hitung-hitungan komersial.

"Ini adalah tugas negara yang diberikan kepada saya. Bagaimana caranya agar satu juta hektare bisa terealisasi dan berhasil dalam tiga tahun tanpa berpikir untung rugi," kata Haji Isam. (E-4)