Apindo Khawatirkan Nilai Tukar Rupiah yang terus Melemah


Penulis: Naufal Zuhdi - 21 January 2026, 17:57 WIB
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/sgd

KETUA Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengaku sangat khawatir dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS yang semakin dalam pada akhir-akhir ini. Beberapa hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir mencapai Rp17.000.

“Kondisi ini sangat memprohatinkan dan memicu kekhawatiran bagi pelaku usaha karena pelemahan yang terjadi sudah berlarut-larut dan jauh lebih dalam dari yang kami perkirakan sebelumnya sehingga bisa menciptakan beban yang berlebihan terhadap kinerja usaha,” ujar Shinta saat dihubungi, Rabu (21/1).

Shinta membeberkan, dalam skenario terburuk, bila pelemahan rupiah terus berlanjut dan tidak segera dikoreksi, dunia usaha mengkhawatirkan kelancaran cash flow yang berpotensi terganggu.

Khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki struktur impor besar, sambung Shinta, kontraksi kinerja usaha, dan cost-push inflation di pasar akan membebani pertumbuhan ekonomi jangka pendek-menengah.

“Karena itu, kami berharap pemerintah lebih giat melakukan upaya stabilisasi dan penguatan nilai tukar, baik melalui intervensi moneter maupun intervensi non-moneter seperti penguatan fundamental ekonomi nasional melalui deregulasi, debirokratisasi dan reformasi struktural thd iklim usaha/investasi untuk menstimulasi penerimaan FDI & pertumbuhan ekspor,” ungkap dia.

Di sisi lain, Shinta juga meminta pemerintah melakukan perbaikan disiplin fiskal untuk memulihkan kepercayaan dan demand pasar terhadap bond pemerintah Indonesia dalam mata uang asing.

Ia menambahkan, meskipun instrumen moneter seperti suku bunga acuan dan ketentuan pergerakan modal bisa dikerahkan untuk menciptakan penguatan nilai tukar secara relatif instan, Apindo berharap kedua instrumen ini tidak kembali diperketat dalam jangka pendek-menengah. Sebab itu, kata dia, dapat menciptakan efek yang semakin negatif terhadap pertumbuhan ekonomi sektor riil (memperlambat laju pertumbuhan berbagai seltor ekonomi dan konsumsi pasar). 

“Karena itu, kami berharap instrumen-instrumen intervensi lain, khususnya yang bersifat penguatan terhadap fundamental ekonomi nasional dapat diprioritaskan dan memberikan efek konkret di lapangan,” tandasnya. (H-4)
Published By Indriyani Astuti (21/1/2026, 17.43.13)