Selasa 14 Maret 2017, 18:59 WIB

Polresta Yogyakarta Tangkap Tujuh Pelaku Pembacokan Pelajar

Ardi Teristi Hardi | Nusantara
Polresta Yogyakarta Tangkap Tujuh Pelaku Pembacokan Pelajar

MI/AGUS UTANTORO

 

KEPOLISIAN Resor Kota Yogyakarta hari ini berhasil menangkap tujuh pelaku pembacokan yang menyebabkan korban meninggal dunia, atas nama Ilham Bayu Fajar, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Piri 1 Yogyakarta. Pembacokan terjadi pada Minggu (12/3) dini hari di Jalan Kenari, Kota Yogyakarta.

Selain itu, polisi mengamankan pula empat buah senjata tajam, dua celurit, dan dua parang, serta tiga sepeda motor yang digunakan oleh pelaku.

Menurut Kapolda DIY, Brigjen Achmad Dhofiri, dari pengakuan pelaku, kawanan pelaku dini hari itu berjumlah sembilan orang. Namun, saat ini baru tujuh pelaku yang diamankan. Pihaknya masih memburu dua pelaku lainnya untuk mengetahui sejauh mana keterlibatan masing-masing.

Achmad menegaskan, walau para pelaku berusia di bawah 17 tahun, mereka tetap akan diproses. Pelaku disangkakan dengan Pasal 338 dan 354 KUHP dengan ancaman pidana lebih dari 7 tahun.

Atas beberapa peristiwa pembacokan oleh pelajar (biasa disebut klitih), Kapolda juga meminta agar guru-guru di sekolah bisa mengidentifikasi siswa-siswa yang malas-malasan agar bisa dideteksi.

"Yang penting, kerja sama semua pihak sekolah. Kami sudah membentuk tim untuk penanganan pelajar dan anak-anak sekolah," kata dia.

Dengan aksi kekerasan oleh pelajar (klitih) di wilayah DIY belakangan, lanjut dia, pihaknya akan mengintensifkan patroli dan razia. Masyarakat juga diminta tetap tenang dan tetap dapat menikmati Kota Jogja.

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Tommy Wibisono, menambahkan, saat kejadian kelompok korban dan kelompok pelaku berpapasan di simpang empat timur Stadion Mandala Krida. Saat berpapasan, korban yang berboncengan dengan kakaknya meneriaki kelompok pelaku dengan kata 'bajingan'.

"Pelaku kemudian berbalik arah dan mengejar kelompok korban. Eksekutor langsung satu kali sabetan. Tidak ada pengaruh obat-obat terlarang. Ini murni tersinggung, sama-sama muda," ujarnya.

Ketujuh pelaku yang sudah diamankan, yaitu AA, 18, pelajar SMA home schooling, FF alias SR, 16, pelajar SMA swasta di Kota Yogyakarta, TP, 14, pelajar SMP swasta di Bantul, JR, 15, pelajar SMP Swasta di Bantul, MK, 15, pelajar SMP home schooling, RB, 19, juru parkir Pasar Pujokusuman, dan NSP, 21, juru parkir Pasar Pujikusuman.

Sebelumnya, Gubernur DIY Sri Sultan HB X menyampaikan, fenomena klitih di anak remaja harus dilihat dari latar belakang keluarganya, apakah berasal dari keluarga baik-baik atau tidak (broken home).

"Anak-anak remaja itu mentalitas moralnya masih labil, ingin membangun identitas, emosinya besar. Kalau lepas dari pengawasan orangtua sudah pasti terjadi (klitih)," pungkas dia. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More