Senin 23 November 2015, 00:00 WIB

Konspirasi di Balik Cessie Bank Bali

Jonggi Manihuruk | Megapolitan
Konspirasi di Balik Cessie Bank Bali
 
BANK Bali dikenal karena cessie, bukan konspirasi. Begitu cessie dibayarkan, masyarakat melupakan muatan sebenarnya yaitu konspirasi.

Pelaku melibatkan pejabat tinggi negara, petinggi Bank Indonesia, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), serta pihak asing selaku investor.

Indikasi konspirasi disampaikan pihak Bank Bali adalah perubahan status bank sehat tiba-tiba berubah menjadi bank take over.

Di era 1990-an, Bank Bali masuk daftar bank sehat.

Pada 1994 mencatatkan pendapatan sebesar Rp970 miliar.

Akhir 1995, nilai pendapatannya melonjak menjadi Rp1,17 triliun.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada 1997, sejumlah bank berguguran karena kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tidak mencukupi ratio yang ditetapkan BI di level 4%.

Ketika otoritas moneter melikuidasi tujuh bank karena tidak dapat ditolong lagi, Bank Bali justru mendapat berkah.

Masyarakat yang menarik dana simpanan secara besar-besaran (rush) dari bank-bank sakit, mengalihkannya ke tabungan dan deposito di Bank Bali.

Hal itu membuat bank tersebut memperluas jaringan dengan 280 kantor cabang di hampir seluruh provinsi di Tanah Air.

Jumlah nasabah sekitar satu juta rekening dana pihak ketiga dan dua juta debitur.

Tingkat kepercayaan masyarakat terlihat dari jumlah dana yang dihimpun mencapai Rp9 triliun.

Lembaga pemeringkat internasional seperti Goldman Sachs, Merrill Lynch, dan Moody's Investor Service, pun mengeluarkan rekomendasi bahwa Bank Bali akan selamat dari krisis.

Ketahanan manajemen Bank Bali membuat banyak investor lokal maupun asing tergiur memiliki sahamnya, tetapi tak satu pun tawaran diterima.

Tak mempan bujuk rayu, skenario pun disusun.

Pada akhir 1997, pejabat di Departemen Keuangan (sekarang Kementerian Keuangan) berkali-kali mengundang Rudy Ramli untuk ikut rapat.

Hadir dalam rapat itu Bambang Subianto dari Kementerian Keuangan dan sejumlah pejabat BI.

Para pejabat negara itu menilai Bank Bali kelebihan likuiditas dan meminta agar memberikan pinjaman ke pasar uang antarbank.

"Pemerintah akan memberikan jaminan," kata pejabat berinisial IP.

Manajemen Bank Bali termakan bujuk rayu. BDNI, BUN, dan Bank Tiara menjadi debitur terbesar.

"Itulah pintu masuk pengambilalihan saham Bank Bali," tutur sumber.

Pada 1 November 1997, masyarakat dikejutkan oleh kebijakan pemerintah. Sebanyak 16 bank ditutup, yaitu Bank Pinaesaan, Bank Anrico, Bank Andromeda, Bank Guna Internasional, Bank Umum Majapahit, Bank Kosagraha Semesta, Bank SEAB, Bank Dwipa Semesta, Bank Industri, Bank Astria Raya, Bank Harapan Sentosa, Sejahtera Bank Umum, Bank Jakarta, Bank Mataram Dhanarta, Bank Pacific, dan Bank Citra Dhanamanunggal.

Setelah menutup 16 bank, pada April 1998, Menteri Keuangan Fuad Bawazier mengumumkan pembekuan izin operasi Bank Kredit Asia, Bank Centris, Bank Deka, Bank Subentra, Bank Pelita, Bank Hokindo, serta Bank Surya.

Menteri Keuangan lantas mengumumkan penyerahan pengelolaan Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Bank Umum Nasional (BUN), Bank Tiara, Bank Danamon, Bank PDFCI, Bank Modern, dan Bank Exim kepada BPPN.

Tujuh bank itu dinyatakan berstatus sebagai bank take over (BTO).

Pengumuman status BTO tujuh bank awal badai Bank Bali. Tiga debitur terbesarnya, yakni BDNI, BUN, dan Bank Tiara, diambil alih BPPN.

Penagihan hutang di tiga bank itu sejak Maret 1998 hingga 11 Januari 1999 dipersulit BPPN dan BI.

Di situlah skenario mulai berjalan.

Sangat aneh
Kepala BPPN Glen Yusuf dan pejabat BI beralasan pendaftaran atas tagihan terlambat dilaporkan ketiga debitur.

Jaminan blanket guarantee yang dikeluarkan pemerintah melalui Keppres Nomor 26 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum tidak mendukung percepatan pencairan tagihan kepada Bank Bali.

"Ini sangat aneh. BPPN sebagai wakil pemerintah membayar tagihan bank-bank BTO mencari-cari alasan menghindari kewajiban," urai sumber.

Akibat kemacetan penagihan hutang di BDNI, BUN, dan Bank Tiara keuangan Bank Bali mulai goyah.

BI menunjuk auditor KPMG mengaudit dan merilis hasilnya pada 17 September 1998 bahwa CAR Bank Bali minus 8,17%.

Ketentuan BI, bank wajib memiliki CAR minimal 4% agar masuk kategori bank sehat.

Untuk mencapai CAR 4%, Bank Bali membutuhkan tambahan modal sebesar Rp1,4 triliun.

Pada 1 April 1999 Bank Bali diwakili Wakil Dirut Firman Soetjahja dan pemegang saham pengendali menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan BI terkait rekapitalisasi.

Substansi kesepakatan untuk mengatur Bank Bali mengikuti regulasi otoritas perbankan mencari tambahan modal demi pemenuhan kriteria CAR sebagai bank sehat.

Business plan Bank Bali 1999-2001 pun diserahkan kepada BI dan seluruh anggota direksi maupun dewan komisaris Bank Bali lulus fit and proper test.

Dalam upaya mencari investor baru, Bank Bali menunjuk JP Morgan sebagai konsultan dan mengundang mitra strategis.

Sebanyak 20 calon mitra menyatakan minat menanam modal.

Dari 20 calon mitra, Bank Bali memilih GE Capital.

MoU kemitraan strategis Bank Bali dan GE Capital diteken pada 12 Maret 1999.

Namun pilihan itu ditolak mentah-mentah oleh BI, BPPN, dan Departemen Keuangan.

Ketiga lembaga negara itu mengintervensi dan memaksakan Standar Chartered Bank (SCB).

Nama SCB disodorkan mendekati batas waktu penyerahan penyetoran tambahan modal 20% sehingga tidak bisa lagi mengambil ancang-ancang.

Meski keberatan, manajemen Bank Bali terpaksa menandatangani kesepakatan di atas kertas putih kosong yang kemudian diberi nama head of agreement pada 22 April 1999.

Penandatanganan head of agreement itu membuka pintu lebar-lebar pengambilalihan Bank Bali.

Pascapenandatanganan itu, SCB langsung masuk ke manajemen Bank Bali.

Group Executive Director SCB David Moir yang berkantor di Singapura mengambil inisiatif menjelaskan kepada manajemen Bank Bali tentang langkah awal SCB melalui surat tertanggal 30 April 1999.

Tim SCB yang dipimpin Douglas K Beckett mengunjungi kantor pusat Bank Bali di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, untuk pertama kalinya. Ternyata kunjungan itu terus berlanjut.

Tim SCB kemudian melakukan proses uji tuntas (due diligence).

Puncaknya pada 22 Juli 1999.

Ketika itu Rudy Ramli sedang menghadiri pelantikan Kepala Staf Angkatan Laut di Surabaya.

Wakil Dirut Bank Bali Firman Soetjahja menggantikan Rudy menghadiri undangan resepsi eksekutif SCB di Hotel Shangri-la.

Saat menyantap hidangan malam, Firman mendapat telepon dari stafnya dari kantor pusat Bank Bali.

Bagai petir di siang bolong, Firman terkejut mendengarkan penjelasan stafnya bahwa BI baru saja menelepon dan memberitahukan bank tersebut berstatus BTO.

Sejak saat itu, manajemen Bank Bali dilarang masuk kantor sekalipun untuk mengambil barang-barang pribadi.

BI ternyata telah mempersiapkan tim yang terdiri dari sembilan orang untuk mengelola manajemen Bank Bali.

Tim pengelola Bank Bali itu diketuai oleh Douglas Keith Beckett.

Terhitung 23 Juli 1999, seluruh kendali Bank Bali beralih ke tim.

Akhirnya Bank Bali dimerger dengan Bank Universal, Bank Prima Express, Bank Artamedia dan Bank Patriot menjadi Bank Permata.

Corporate Affair Bank Permata Allfianto Domy Aji menolak mengomentari adanya skenario pihak SCB bersama Menteri Keuangan dan BI dalam cessie Bank Bali.

"Saya hanya mau membenarkan SCB memiliki saham 44,5% di Bank Permata. Astra Internasional juga pemilik saham. Sisanya 10% milik publik," terangnya. (Ami/T-1)

Baca Juga

Dok. Bogorienze Resort

Bogorienze Resort Kembangkan Pasar Burung Terbesar di Kota Bogor

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 19:54 WIB
“Kami menyediakan 300 kios dan 100 ruko siap huni, dan bulan lalu telah resmi dibuka oleh Menteri Koperasi dan UMKM Bapak Teten...
MI/Andri Widiyanto

Tingkat Kesembuhan Covid-19 di Jakarta Capai 63,5%

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 19:27 WIB
Total pasien covid-19 yang dinyatakan sembuh tercatat 16.927 orang. Jumlah kasus covid-19 di Jakarta mencapai 26.664 orang,...
ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Polda Metro: Ada Poin Penting yang Disampaikan Anji

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Selasa 11 Agustus 2020, 19:20 WIB
Yusri mengatakan Anji diperiksa hampir 10 jam dan disodorkan 45 pertanyaan atas kasus...

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya