Senin 26 Desember 2016, 08:56 WIB

Perbaiki Interaksi Orangtua-Balita

Indriyani Astuti | Humaniora
Perbaiki Interaksi Orangtua-Balita

MI/ADAM DWI

 

KUALITAS interaksi antara orangtua dan anak yang berumur 0-4 tahun (balita) umumnya masih rendah. Padahal, orangtua berpe-ran penting dalam pengenalan nilai, norma, dan kebiasaan untuk anak-anak.

“Hasil kajian kami dengan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, masih ada keluarga yang dalam seminggu terakhir sama sekali tidak pernah melakukan aktivitas bersama anaknya yang berumur 0-4 tahun,” ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (24/12).

Data Kementerian PPPA mencatat, aktivitas balita laki-laki dan perempuan bersama orangtua/wali dalam seminggu terakhir lebih banyak didominasi untuk kegiatan makan atau belajar makan, yakni sebesar 87,04%. Sementara itu, kebersama-an orangtua/wali dengan balita berumur 0-4 tahun untuk kegiatan beribadah/berdoa hanya sekitar 23,62%. Lalu kegiatan baca buku cerita/diceritakan dongeng hanya 13,48%.

Kemudian, kegiatan menonton televisi bersama orangtua dengan balita 0-4 tahun mencapai 65,88%. Orangtua yang tidak memiliki kebersamaan dengan balita mereka selama sepekan terakhir sebesar 0,93%.

Yohana mengingatkan, lingkungan sosial yang pertama dikenal seorang anak sejak lahir ialah keluarga, yaitu ayah, ibu, dan anggota keluarga lainnya. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang secara langsung saling berhubungan. Artinya, sosialisasi anak secara intensif berlangsung dalam keluarga.

Karena itu, pengenalan nilai, norma, dan kebiasaan untuk pertama kali diterima dari keluarga. Kebiasaan-kebiasaan positif maupun negatif yang terjadi dalam lingkungan keluarga dapat tertanam secara kuat pada kepribadian anak.

Yohana menambahkan, masa-masa perkembangan anak adalah masa emas, sekaligus masa paling penting. Setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan anak senantiasa memerlukan perhatian dan pola asuh yang baik, sehingga tercapai puncak perkembangan yang optimal.

“Artinya, tanpa ada kualitas interaksi antara orangtua dan anak, akan sulit membentuk karakter anak untuk bertumbuh secara baik dan sesuai harapan. Ini menjadi tugas bersama kita, baik pemerintah maupun seluruh masyarakat Indonesia,” kata Yohana.

Pantau medsos
Sementara itu, pada peringatan Hari Ibu di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/12), Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa meng-ungkapkan bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini, yang salah satunya melahirkan media sosial, turut menyumbang munculnya persoalan sosial di masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat harus bisa menyikapinya dengan cerdas dan bertanggung jawab. Para orangtua pun harus aktif memantau anak-anaknya dalam berinteraksi dengan media sosial.

Ia mengajak para orangtua, terutama para ibu, untuk menjaga dan memperhatikan anak-anaknya di era perkembangan teknologi saat ini. “Jangan biarkan anak-anak kita terjebak dalam hal negatif perkembangan teknologi khususnya sosial media, seperti ikut menyebarluaskan ujaran kebencian dan lain sebagai-nya,” kata Khofifah. (LN/Ant/H-3)

indriyani@mediaindonesia.com

Baca Juga

MI/SUMARYANTO BRONTO

Raisa Andriana: Sibukkan Diri Selama Isolasi Diri

👤Ant/H-3 🕔Selasa 31 Maret 2020, 04:00 WIB
Sebelumnya, ia mengajak para penggemarnya untuk mengikuti konser daring tersebut melalui akun...
MI/PANCA SYURKANI

Garin Nugroho: Doa dan Harapan untuk Film Nasional

👤Ant/H-3 🕔Selasa 31 Maret 2020, 03:30 WIB
Sutradara Garin Nugroho, 58, melalui Instagram-nya, kemarin, mengungkapkan keberadaan film ialah sebagai media yang memberi inspirasi bagi...
MI/RAMDANI

Berkembang, Film Indonesia Usai Covid-19

👤Syarief Oebaidilah 🕔Selasa 31 Maret 2020, 00:20 WIB
Sebagai salah satu industri kreatif, perfilman  nasional sudah saatnya mendapat perhatian serius dari pemerintah dan insan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya