Jumat 04 November 2016, 00:15 WIB

Predatorisme Kedamaian Publik

Abdul Wahid Wakil Direktur I Program Pascasarjana Universitas Islam Malang,Pengurus Pusat APHTN-HAN | Opini
Predatorisme Kedamaian Publik

MI/ARYA MANGGALA

PROF JE Sahetapy (2002) pernah mempertanyakan mengapa bangsa yang katanya berbudaya, berbudi luhur, ramah, tamah, sopan, santun, religius, tolong-menolong, gotong royong, dan lainnya ini berubah menjadi bangsa atau masyarakat yang homo homini lupus. Anarkistis, brutal, dan hampir seluruh bidang kehidupan serta strata. Gugatan yang diajukan Sahetapy itu dapat terbaca dalam kasus seringnya sekelompok orang menciptakan demo atau aksi yang bercorak radikalistis. Mereka memproduksi gerakan antikedamaian dan kerukunan.

Mereka jadikan kekerasan atau disharmoni publik sebagai opsi utama. Demonstrasi yang digelar Front Pembela Islam (FPI), misalnya, merupakan demonstrasi atau gerakan masif yang paling sering terjadi, yang berpola mendestruksi kedamaian publik. Mereka membikin pola-pola predatorisme sehingga kondisi di tengah masyarakat terbentuk menjadi atmosfer hororisme. Memang faktanya, di tengah masyarakat masih demikian sering kita jumpai sepak terjang sekelompok orang atau organisasi yang suka menggunakan cara-cara keji dan tidak berkeadaban untuk 'menghakimi' orang lain.

Mereka gampang menjerumuskan diri menjadi pendestruksi atau 'predator' yang mesti mendestruksi hak-hak sesama, seperti hak-hak keselamatan dan kedamaian. Bangunan kehidupan kemasyarakatan dan kebernegaraan dikoyak oleh egoisme dan dehumanisme. Mereka bahkan potensial melakukan praktik-praktik ketidakadaban yang bersifat meluas ketika posisi orang lain semakin ditempatkan dalam kemutlakan sebagai objek yang berhak untuk 'dihabisi'. Ada suatu pesan moral dalam kitab klasik Durratun Nashihin yang ditujukan pada orang-orang yang sedang bertikai dan bermusuhan,

"Apakah kau telah berlaku baik pada mereka yang berlaku buruk padamu? Apakah kau marah pada orang-orang yang menganiayamu? Apakah kau ajak bicara orang-orang yang telah meninggalkanmu? Apakah telah kau hubungi dan memulai silaturahim orang-orang yang telah memutuskan silaturahimnya padamu?" Pesan itu menjadi kritik yang bersifat menyejukkan terhadap bangunan persaudaraan kita. Kita yang hidup di bumi pertiwi ini sepertinya sangat sering tidak menjadi 'kita', yakni gampang berseteru, hidup berhadapan, dan merasa tak berada dalam satu bangunan 'rumah' yang mengukuhkan jiwa keindonesiaan.

Mereka yang memutlakkan demontrasi dan radikalisme layak distigma gagal menikmati pelayaran sebuah 'kapal besar' yang mengiklimkan sikap saling menyayangi, memberdayakan, dan menjunjung tinggi fundamentalnya kebutuhan atas harmonisasi publik. Mereka layak digolongkan sebagai komunitas yang sedang berlayar tanpa kompas yang mengarahkan pada kiblat yang benar, menyelamatkan, dan membahagiakan. Mereka menjadi cermin dari suatu bangunan bangsa yang memiliki segolongan orang gampang marah, rentan mengalirkan darah, atau mudah tergiring dalam permusuhan yang tak kenal titik nadir. Rasa cinta sedang atau telah direduksi dan digagalkan menjadi kekuatan yang menabur cahaya bagi sesama di bumi pertiwi ini.

Etos persaudaraan terkoyak dan mendekati zona degradasi kebersamaan. Di antara mereka lebih terbius memasuki poros penahbisan keserakahan, arogansi, kekejaman, kebiadaban, atau berbagai pola predatorisme. Disharmonisasi secara masif terbentuk akibat tangan-tangan kotor yang demikian sering dipanglimakan di tengah masyarakat oleh kelompok penahbis kekerasan sebagai opsi utama. Mereka giat menghakimi mayoritas masyarakat Indonesia yang mencintai kedamaian. Mereka hanya utamakan kepentingan eksklusifisme dan bukan kepentingan makro bangsa. Mereka itu cermin kelompok yang gagal membina dan menghumanisasikan diri karena masih lekat menjatuhkan opsi egoisme sektoral dan kelompok, merasa paling bertuhan, dan mengabsahkan klaim kebenaran tanpa memberi ruang bagi yang lain untuk berbeda dan berdemokrasi.

Mereka itu mematikan atau mendegradasi apa yang disebut Anshari Thayib 'paradigma kemanusiaan' (an-naz'ah al-insaniyah). Apa yang mereka lakukan telah mengakibatkan tercerabutnya dan bisa punahnya komitmen persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaan. Jika mereka terbiarkan, bukan tidak mungkin mereka bisa semakin gigih saling menabur kebrutalan untuk sesama. Dalam doktrin Islam, sejatinya setiap hari dan momentum, kita atau mereka berkewajiban merajut persaudaraan yang terkoyak dan 'terganggu'. Allah SWT selalu menyediakan momentum bagi setiap segmen bangsa untuk menjalin dan menyejarahkan 'rumah rekonsiliasi'.

Sekat-sekat yang selama ini terbentuk akibat anyaman friksi logis berpolitik atau berideologi sekalipun harus bisa disembuhkan (dicairkan). Pencairan keadaan supaya progresif dan kondusif, serta humanistis harus kita wujudkan bersama. Kondisi chaos, ketidakadilan, dan ketidakadaban (radikalisme) terhadap elemen masyarakat harus disudahi.
Ketidakharmonisan masyarakat akibat ulah segolongan orang yang berlaku zalim secara struktural harus direstorasikan dengan cara menghentikan pola-pola anarkisme, radikalisme, atau predatorisme. Upaya tersebut dapat merekonstruksi makna persaudaraan kebangsaan tidak hanya terbatas dalam ranah individual, tetapi juga ranah sosial, kultural, dan struktural.

Berbagai dimensi ini bisa saja dimasuki setiap elemen yang menjadi subjek sejati keindonesiaan manakala mereka dan kita memang mempunyai komitmen untuk mewujudkannya. Di hadapan sahabat-sahabatnya, Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa ganjil yang akan terjadi di akhirat kelak. Katanya, "Ada serombongan orang yang pakaian dan wajahnya tampak bersinar dan bercahaya. Mereka ini mengundang rasa takjub para nabi dan pejuang yang mati sahid." "Siapakah mereka yang mendapat keistimewaan di hari perhitungan itu?" tanya sahabat-sahabatnya. "Mereka merupakan kumpulan orang-orang yang semasa di dunia telah menjalin persaudaraan yang suci, tak dijangkiti sifat dengki, amarah, dendam, sakit hati, saling menyakiti dan menzalimi yang lain dengan tangannya."

Hikayat tersebut mengajarkan agar sesama manusia tak menghalalkan sifat kedengkian, dendam, apalagi mempredatorisme sesamanya. Sifat predatorisme harus steril dari bangunan persaudaraan kebangsaan, sedang sifat-sifat mulia harus selalu dimenangkan dan diprogresifkan supaya antarsesama di republik ini bisa saling menerima dengan kebeningan nurani. Pesan kenabian itu juga mengajak setiap komponen bangsa untuk menempatkan sifat-sifat terpuji sebagai 'pakaian' yang menjaga aurat diri, sesama, dan bangsa. Sifat inilah yang dapat menghantarkan dirinya sebagai pemenang sejati (muflihun) di hadapan Allah. Kemenangan sejati ditentukan model pergaulan kemasyarakatan dan kenegaraan yang dikonstruksinya.

Itu artinya kebahagiaan (harmoni) di hadapan Tuhan nanti akan bisa ditunaikan bilamana manusia mampu mengonstruksi persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaannya dengan cinta. Cinta inilah yang dapat memediasi dan mengintegrasikan perbedaan etnik, ketaksepahaman visi, dan disparitas kepentingan golongan. Kemenangan itu tentu saja menjadi bagian dari wujud bangunan persaudaraan manusia di dunia yang telah diimplementasikan. "Tak disebut beriman di antara kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri."

Demikian penegasan Nabi Muhammad SAW yang mengajak manusia untuk selalu merajut dan membugarkan persaudaraan kemanusiaan dan kebangsaannya dengan cinta. Hadis tersebut juga menggariskan bahwa ideologi 'cinta' yang diajarkan Nabi merupakan doktrin melintas batas sekat sosial, kultural, agama, individual, struktural, dan lain sebagainya, yang berporos pada kepentingan universal. Manusia yang terikat dalam doktrin ini dibebani kewajiban untuk mengalahkan setiap pola-pola predatorisme guna mewujudkan kedamaian publik.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More