Kamis 03 November 2016, 00:30 WIB

Meredam Kerusuhan dengan Pemahaman Nilai Budaya

Rohmad Hadiwijoyo Dalang, budayawan | Opini
Meredam Kerusuhan dengan Pemahaman Nilai Budaya

ANTARA FOTO/Agus Bebeng

PILKADA Jakarta memasuki babak 'perang kembang'. Dalam pewayangan, perang kembang digambarkan perangnya kesatria dan buto cakil. Dinamakan perang kembang karena merupakan kembangan dari sebuah cerita yang dibawakan seorang dalang setelah datangnya goro–goro. Perang kembang akan tambah ramai dan seram setelah matinya buto cakil yang 'pethakilan' dilanjutkan dengan munculnya para raksasa yang memiliki wajah menakutkan. Watak buto yakni betah buteng selalu buat kegaduhan dan onar meresahkan masyarakat. Itulah yang terjadi saat ini. Buto–buto politik bermunculan di pilkada Jakarta. Buto bermunculan di gelanggang pilkada Jakarta karena miniatur pilihan presiden mendatang.

Rencana unjuk rasa besar–besaran pada 4 November dikhawatirkan berpotensi rusuh, menimbulkan rasa waswas warga Jakarta. Pandito sepuh para tokoh politik senior turun tangan. Ada yang menenangkan suasana, ada juga yang mengompori agar terjadi demo. Tidak tanggung–tanggung Presiden Jokowi harus turun tangan untuk mengajak para tokoh agama dan tokoh–tokoh nasional ikut menurunkan tensi politik. Rapat mendadak dengan Kepala Badan Intelijen Negara, Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan Panglima TNI pun digelar untuk mengantisipasi unjuk rasa yang akan digelar ormas-ormas Islam.

Goro–goro politik DKI disebabkan para ormas Islam menuding Ahok, Basuki Tjahaja Purnama, gubernur nonaktif, telah menistakan agama dengan melecehkan Alquran saat berpidato di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu. Pergerakan politik yang begitu cepat dan mengkhawatiran hanya bisa kita sikapi dengan kepala dingin.

Minimnya pemahaman nilai–nilai luhur budaya bangsa menyebakan kita mudah marah dalam menghadapi persoalan. Perilaku andap ashor yang menjadi budaya masyarakat kita dan mengedepankan rasa kesabaran sudah tidak ada lagi di kalangan elite bangsa. Keteladanan untuk mengalah dan mengakui kesalahan sudah sirna di masyarakat sehingga kita Ibaratnya ranting kering yang mudah terbakar dan mudah diadu domba.

Dalam sejarah lahirnya seorang pemimpin akan selalu dibarengi dengan adanya peristiwa goro–goro. Unjuk rasa besar–besaran dan saling tuding untuk mencari kesalahan pihak lain merupakan ujian bagi para calon Gubernur DKI Jakarta. Para calon Gubernur DKI harus bertanya kepada dirinya, apa yang diperlukan rakyat DKI saat ini. Rakyat DKI tidak menginginkan adanya kerusuhan pada 4 November mendatang. Masyarakat menginginkan ketenangan dan rasa aman sehingga masyarakat bisa bekerja dengan tenang.

Pernyataan para pinesepuh bukan membuat tenang, tetapi malah ikut mengompori dan memperkeruh suasana. Seharusnya para pinisepuh ikut menenangkan suasana. Biarkan tiga pasang calon gubernur dan wakil gubernur terpilih bertanding secara kesatria dalam memperebutkan wahyu ratu DKI satu. Mereka insan teruji dan terpilih, hanya suratan tangan yang akan menghantarkan menjadi orang nomor satu di DKI. Ketiga calon gubernur dan calon wakil gubernur, kalau dalam tokoh pewayangan, sudah memiliki 'katuranggan' atau 'bleger' untuk jadi seorang pemimpin.

Ahok memiliki watak suka 'blak kotang terus terang' tanpa tedeng aling–aling seperti Bima. Mas Agus Yudhoyono ganteng dan sedikit kalem seperti tokoh Harjuno. Calon wakil gubernur Sandi Uno muda trengginas seperti Wisanggeni. Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Sandi uno mumpuni di bidang bisnis dan usaha kecil. Pada 1992, waktu Sandi masih di bangku kuliah MBA di George Washington University sudah ditawari pekerjaan bergengsi di perusahaan telekomunikasi terbesar Amerika waktu itu karena kecakapannya. Begitu pula Ahok, orangnya sangat detail dan pekerja keras. Ahok bekerja sepi ing pamrih rame ing gawe.

Ketiga calon gubernur dan calon wakil gubernur memiliki kapabilitas sebagai pamong sejati. Tinggal mampukah mereka melewati cobaan perang kembang ini dan mampu mengontrol dirinya sendiri. Ada pitutur luhur, "Suro diro jayaningrat, syuh brasto dening pangastuti, sopo mbibiti olo wahyuning bakal sirno." Kalau diterjemahkan artinya kekuatan dan kemenangan yang diperoleh dengan cara–cara tidak benar atau curang akan dikalahkan oleh laku adil dan kebenaran. Siapa yang memulai perilaku jelek atau jahat akan kehilangan wahyu atau kemenangannya.

Para calon Gubernur DKI Jakarta akan bertarung untuk memperebutkan suara kurang lebih 31 ribu rukun tetangga untuk wilayah DKI Jakarta. Kalau mau berhasil mengambil hati rakyat Jakarta, tirulah seperti tukang angon bebek. Ibaratnya jangan masuk kandang bebek dan membuat kegaduhan sehingga bebek-bebek itu tidak mau diatur dan bahkan akan lari tercerai berai. Kalau sudah stres dan merasa takut, bebek akan lari menjauh. Bahkan bebek-bebek tersebut tidak bisa menghasilkan telur. Bebek akan menurut dan mengikuti arahan gembalanya kalau bisa menggiring bebek-bebek tersebut masuk kandang dengan tenang, rasa damai, dan diiringi irama yang merdu. Sumonggo.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More