Rabu 02 November 2016, 00:30 WIB

Harga Mahal dari Perpecahan

Charles Honoris Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan | Opini
Harga Mahal dari Perpecahan

AFP PHOTO / BULENT KILIC

SEMINGGU lalu saya berjumpa dengan seorang ibu berkebangsaan Suriah. Wajahnya memang selalu tersenyum, tapi duka di matanya tak pernah sirna. Dia mengenalkan diri sebagai Marwa. Sudah empat tahun dia meninggalkan Distrik Palmyra, Provinsi Homs, Suriah. Bersama tiga anaknya, dia kini tinggal di pinggiran Kota Amman, Yordania. Di Amman, Marwa me­nempati kamar sewa di dalam gedung kumuh yang luasnya hanya 2x3 meter. Biaya sewanya 100 dinar Yordania atau setara Rp1,9 juta per bulan dengan kurs sekarang.

Bantuan dari Badan Pengungsi PBB (UNHCR) ialah satu-satunya sumber pemenuhan segala kebutuhan untuk bertahan hidup. Setiap bulan Marwa mendapat bantuan untuk dirinya sebanyak 160 dinar, dan 100 dinar untuk ketiga anaknya. Angka itu tentu jauh dari cukup karena Yordania merupakan negara berbiaya hidup sangat tinggi. Marwa dan ketiga anaknya harus berpisah dengan Zakwan, suami dan juga ayah dari anak-anaknya. Belakangan melalui kabar di media sosial, dia tahu bahwa sang suami sudah meninggal dibantai milisi propemerintah. Wilayah Homs selama ini memang merupakan basis pejuang oposisi yang berupaya menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad. Sementara suami Marwa dianggap pendukung oposisi sehingga harus meringkuk di penjara dan kemudian dieksekusi secara brutal oleh milisi.

Tanpa masa depan
Melalui penerjemah dari UNHRC, saya menanyakan kepada Marwa, apa harapan masa depan yang diharapkannya. Ia hanya menjawab dengan suara lirih dan mata menerawang, “Masa depan saya sudah mati. Saya tidak lagi memiliki laki-laki dalam hidup saya. Saya hanya menginginkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak saya.” Peristiwa yang bermula dari konflik politik antara penguasa dan oposisi berbuah perpecahan yang kompleks dengan lahirnya sejumlah kelompok militan seperti Al-Qaeda, Al-Nusra, dan IS.

Kelompok-kelompok itu punya paham dan misi yang berbeda dan mereka pun saling serang satu sama lain. Buah pertempuran itu pun menimbulkan tragedi kemanusiaan yang sangat mengoyak rasa. Jutaan orang terpaksa angkat kaki dari tanah air mereka. Yang tak kalah menyedihkan banyak warga tidak berdosa tewas terbantai dan teraniaya. Dalam waktu kunjungan yang tak lama, saya juga sempat mendatangi salah satu kamp pengungsian di Azraq, Yordania, yang dibangun UNHCR. Di sana saya melihat banyak anak yang bernasib sangat menyedihkan.

Ketika bertanya kepada mereka tentang harapan, tidak ada memori yang berarti mengenai kampung halaman karena mereka sudah dibawa lari ketika masih balita. Bahkan, tak sedikit yang lahir dalam pengungsian. Namun, pada umumnya mereka ingin kembali ke Suriah, tanah air mereka. Mereka rindu bersekolah, bermain, dan menonton televisi layaknya anak-anak lain. Di pengungsian, jangankan menonton televisi, untuk menikmati terang di malam hari pun hanya mereka dapatkan 5 jam dalam sehari.

Lokasi pengungsian berdiri di tanah kosong berbatu. Pe­nerangan untuk tenda peng­ungsi yang berjumlah ribuan unit hanya mengan­dalkan aliran listrik dari pembangkit listrik tenaga surya yang disumbangkan salah satu perusahaan multinasional. Kapasitasnya pun bukan tergolong besar. Kebutuhan listrik hanya diprio­ritaskan untuk layanan kesehatan, sekolah, kantor UNHCR, serta mesin penyedot air untuk kebutuhan pengungsi. Terlalu banyak kisah sedih dan penderitaan yang menimpa pengungsi asal Suriah di Yordania.

Meski demikian, dari kunjungan singkat itu ada dua hal yang bisa saya renungkan. Selain rasa duka melihat penderitaan yang dialami warga Suriah, terutama anak-anak, ada perasaan syukur bahwa saya adalah orang Indonesia. Saya yang lahir dan besar di bumi yang subur dan berasas Pancasila dan kebinekaan. Jangan hadirkan kon­flik seperti itu di negeri yang kita cintai ini. Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk sebuah perpecahan.

Saya pun berharap kondisi masyarakat Indonesia yang dihiasi penghargaan atas keberagaman ini terus berjalan sepanjang masa. Jangan sampai upaya pecah belah dan politisasi isu SARA memicu kehancuran di Tanah Air yang kita cintai. Seperti yang disampaikan Bung Karno, “Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai persaudaraan.” Hal itu telah diteladani Presiden Jokowi melalui ‘politik berkuda’ dengan Prabowo Subianto beberapa hari lalu.

Ada semangat membangun Indonesia yang damai dan penuh persaudaraan. Panjang umur keberagam­an. Hidupkan selalu penghargaan atas kebersamaan pada setiap jiwa anak bangsa. Perpecahan di antara anak bangsa hanya akan menimbulkan kerugian bagi rakyat. Perbedaan adalah hal yang harus dihargai dan dipahami sebaik-baiknya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More