Kamis 27 Oktober 2016, 00:20 WIB

Saatnya Semangat Sumpah Pemuda Menantang Dunia

Bambang Iman Aryanto Staf Lemhannas RI | Opini
Saatnya Semangat Sumpah Pemuda Menantang Dunia

Dok MI

PERINGATAN Hari Sumpah Pemuda besok kembali mengingatkan kita pada semangat pemuda Indonesia pada 1928. Sumpah Pemuda lahir dari proses yang sangat panjang dan menghasilkan satu tekad dan tujuan, yakni bertumpah darah satu, tanah Indonesia, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar tersebut seakan mencambuk semangat pemuda kala itu untuk bercita-cita akan kemerdekaan dari kekangan kolonialisme selama ratusan tahun.

Hal itu juga berarti bahwa istilah Indonesia digunakan sebagai identitas nasional, yaitu tanah air Indonesia, bangsa Indonesia, dan bahasa Indonesia. Inilah yang menjadi cikal bakal dari pergerakan dan perjuangan bangsa untuk merebut kemerdekaan. Selama 17 tahun berjuang, akhirnya dengan segala upaya, diplomasi maupun angkat senjata, dilakoni seluruh bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya para pemuda.

Kini, ketika Indonesia menginjak usia kemerdekaan 71 tahun, seperti apa pemuda saat ini? Apa harapan kita kepada pemuda sebagai ujung tombak dari perjalanan sejarah bangsa ke depan? Optimistis ataukah pesimistis? Menjadi pertanyaan besar bagi kita sebagai bangsa yang ingin terus eksis dan bahkan menjadi salah satu bangsa yang disegani dunia internasional.

Harapan bangsa dan negara
Melihat catatan panjang sejarah bangsa ini, memang tidak terlepas dari peran besar para pemudanya. Selain peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan, juga telah tercatat bagaimana peran pemuda begitu penting sebagai ujung tombak yang menentukan arah tujuan kehidupan berbangsa dan bernegara ke depannya. Sebut saja pada 1966 dan 1998, bagaimana pemuda muncul menjadi kekuatan untuk meluruskan arah ketika bangsa ini mulai membelok dari tujuan dan cita–cita nasional.

Dengan demikian, begitu penting peran yang dipikul pemuda generasi penerus bangsa sehingga negara perlu memasukkan aspek pemuda ke pembangunan nasional. Melalui penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan, serta kepeloporan, pemuda diharapkan mampu berperan aktif sebagai ujung tombak menghantarkan dan mengawal bangsa dan negara yang merdeka, bersatu, dan berdaulat. Upaya pemerintah dan DPR sebagai penyelenggara negara pada 2009 telah berhasil menerbitkan UU No 40/2009 tentang Kepemudaan (UU 14/2009) yang menjadi acuan bagi pemerintah dalam memberikan pelayanan kepemudaan yang mencakup berbagai hal yang terkait dengan segala potensi, tanggung jawab, hak, dan karakter, termasuk kapasitas, aktualisasi diri dan cita-cita pemuda itu sendiri.

Disebutkan pula pemuda juga berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional. Pemuda juga bertanggung jawab dalam pembangunan untuk menjaga Pancasila sebagai ideologi negara, menjaga tetap tegak dan utuhnya NKRI, memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, melaksanakan konstitusi, demokrasi. Demi tegaknya hukum, meningkatkan kecerdasan, kesejahteraan masyarakat, meningkatkan ketahanan budaya nasional, daya saing serta kemandirian ekonomi bangsa.

Bonus demografi dan permasalahan
Pemuda, meski sempat menjadi diskusi panjang terkait dengan batasan usianya, dalam UU 14/2009 disebutkan sebagai warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun. Terkait dengan hal itu, dengan diprediksinya bangsa ini akan mendapatkan peluang bonus demografi pada 5 hingga 15 tahun ke depan, kita sebagai bangsa harus cerdas menyikapinya. Pemuda saat ini adalah bonus demografi bangsa ini.

Dalam artikel 'Negara Harus Siap Bonus Demografi' (Media Indonesia, 22/8) disebutkan bahwa bonus demografi ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja. Apabila tidak mampu menghadapi kehadiran bonus demografi, yang terjadi ialah ledakan pengangguran usia produktif yang memicu berbagai persoalan, seperti meningkatnya kriminalitas, meningkatnya beban pemerintah dalam hal kesejahteraan dan sosial, terjadi disparitas pendapatan yang tajam antara yang terampil dan tidak terampil. Selain itu, meningkatnya persaingan dalam penguasaan SDA baik rakyat dengan pemerintah, pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, dan sebagainya.

Melihat peluang bonus demografi itu, kita tidak boleh berdiam diri dan harus mencermati kondisi kehidupan pemuda Indonesia saat ini. Kita menyadari sepenuhnya bahwa kini arus globalisasi, demokrasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membius sebagian pemuda hingga terlena oleh karakter dan budaya asing yang melunturkan kearifan lokal.

Tidak bisa dimungkiri, banyak pemuda terlibat tawuran, narkoba, kekerasan seksual, seks bebas, dan kejahatan lainnya. Pemuda juga dinilai banyak mengalami krisis identitas dan krisis kepemimpinan. Di sisi lain pun, masalah akses pendidikan dan kesehatan, infrastruktur, kemiskinan dan pengangguran juga menjadi persoalan yang turut memengaruhi semangat, jiwa, dan mental pemuda Indonesia.

Bangkit menatap dunia
Dengan berbagai permasalahan yang ada saat ini, tidak sedikit pula pemuda bangsa kita yang memiliki karya dan prestasi yang dapat dibanggakan baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Dalam bidang pendidikan Indonesia pantas berbangga. Pada 10-17 Juli 2016 lalu, satu dari lima wakil Indonesia meraih emas di International Physics Olympiad (IPhO) yang digelar di Zurich, Swiss. Selain satu emas, empat wakil lainnya meraih perak (Media Indonesia, 16/8).

Dalam bidang olahraga, atlet ganda campuran bulu tangkis Tontowi Ahmad-Liliyana Natsir berhasil meraih medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro Brasil 2016. Medali perak juga diraih dari cabang angkat besi oleh Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan. Masih segar dalam ingatan kita pula ketika Nara Masista Rakhmatia, diplomat muda yang mewakili Indonesia dalam sidang umum PBB di New York. Dia mencuri perhatian publik dengan mendebat argumentasi dari delegasi enam negara Pasifik mengenai pelanggaran HAM di Papua Barat.

Sesuai dengan tema besar yang diangkat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, yaitu Pemuda Indonesia menatap dunia, setiap pemuda Indonesia perlu mempunyai kualitas integritas yang tinggi, kapasitas keahlian dan intelektual yang mumpuni, serta karakter kepemimpinan yang peduli dan profesional. Dengan peran pemuda yang sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki, sangat perlu bila seluruh pemuda mampu memaknai semangat dan jiwa Sumpah Pemuda 1928.

Meski berbeda suasana kebatinan dulu dan kini, dengan memetik nilai-nilai yang membungkus peristiwa Sumpah Pemuda itu, pemuda harus berkomitmen dan berpedoman pada nilai-nilai nasionalisme dan kebangsaan melalui sebuah manifestasi pola pikir serta pola sikap dan pola tindaknya untuk menjawab berbagai peluang dan tantangan bangsa Indonesia saat ini dan masa depan. Sudah saatnya semangat 'Sumpah Pemuda' menantang dunia!

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More