Selasa 25 Oktober 2016, 00:05 WIB

Perang Mosul dan Dampaknya

Smith Alhadar Penasihat The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES), Direktur Eksekutif Institute for Democracy Education (IDE) | Opini
Perang Mosul dan Dampaknya

AFP PHOTO / BULENT KILIC

PERANG Mosul telah dimulai sejak 17 Oktober. Islamic State yang bercokol di kota terbesar kedua Irak itu kini sedang dikepung dari berbagai sisi. Pasukan reguler pemerintah Irak menyerang dari selatan Mosul, milisi Syiah Hashed al-Shaabi mengepung dari tenggara, sementara pasukan Kurdi (Peshmerga) bergerak dari timur dan timur laut, serta milisi Sunni yang dilatih Turki menyerang dari utara. Mereka dibantu serangan udara pasukan koalisi pimpinan AS.

Melihat besarnya pasukan ini (sekitar 40 ribu personel) jika dibandingkan dengan pasukan Islamic State (IS) yang hanya sekitar 8.000-10 ribu personel, perang itu akan dimenangi kekuatan koalisi. Namun, perang itu agaknya akan berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan. Ini terjadi karena, pertama, IS telah memasang perangkap dan ranjau di puluhan desa di sekeliling Mosul yang akan menghambat gerak maju kekuatan koalisi. Kedua, IS berhasil memecah konsentrasi kekuatan koalisi dengan melakukan penyerangan ke Kota Kirkuk di tenggara dan kota Rutba di selatan Mosul.

Hal ini membuat kekuatan koalisi terpaksa menarik sebagian pasukan dari pinggiran Mosul untuk menghadapi IS di Kirkuk dan Rutba. Ketiga, IS menerapkan taktik bumi hangus dengan membakar pabrik belerang dan instalasi minyak di selatan Mosul yang mengganggu pernapasan dan pandangan kekuatan koalisi. Dikhawatirkan, IS akan menggunakan senjata kimia yang tentu saja akan menahan gerak maju kekuatan koalisi. Kelima, IS ditengarai akan menggunakan penduduk sipil sebagai perisai. Ini akan membatasi keleluasaan serangan udara pasukan koalisi terhadap titik-titik strategis IS di Mosul.

Terlepas dari relatif lamanya perang ini, perang Mosul akan membawa dampak yang tidak diinginkan. Kendati semua pasukan koalisi berkomitmen mengusir IS dari Mosul, tujuan mereka berbeda-beda. Pascapenaklukan IS, Peshmerga hendak menganeksasi Mosul ke dalam wilayah kekuasaan Kurdi. Mosul, kota minyak yang terletak di utara Irak yang dekat dengan perbatasan wilayah Kurdi, memang merupakan kota strategis yang penting bagi ekonomi Kurdi.

Kendati fakta bahwa 75% penduduk Mosul ialah warga Arab Sunni dan 25% warga Arab Syiah, Peshmerga bertekad akan menjadikannya sebagai kota Kurdi. Pasukan reguler pemerintah Irak yang mayoritasnya adalah kelompok Syiah, bersama dengan milisi Hashed al-Shaabi yang setia pada Iran, bertekad menguasai Mosul untuk meningkatkan kapasitas ekonomi pemerintah dan menjaga kepentingan Syiah di kota bersejarah itu.

Turki, dengan 2.000 pasukan bersama dengan milisi Arab Sunni, tak ingin Mosul jatuh dalam genggaman Kurdi atau Syiah. Turki ingin Mosul tetap berada dalam genggaman Arab Sunni agar pengaruh Turki di kota ini tetap lestari. Karena itu, kendati ditentang keras oleh pemerintah Irak atas keterlibatan Turki dalam perang ini, Ankara tetap ngotot. Arab Saudi yang pro-Sunni mendukung posisi Turki. Sementara itu, AS, Inggris, dan Prancis, ingin menanamkan pengaruh mereka di Irak melalui perang Mosul.

Akibat tali-temali kepentingan antara pemerintah Irak, Kurdi, kekuatan regional dan internasional, mudah dibayangkan akan terjadi konflik bersenjata di antara kekuatan-kekuatan pascapenaklukan Mosul. Mosul ialah kota terakhir IS di Irak. Penaklukannya seharusnya menjadi momentum bagi kembalinya Irak menjadi negara yang utuh untuk dimulai pembangunan kembali Irak dari konflik, kekacauan, dan keterpurukan ekonomi sejak Perang Teluk 1991. Nyatanya, harapan itu belum akan terwujud pascapengusiran IS dari Mosul. Dampak lain, kemungkinan meningkatnya terorisme global. Para teroris IS yang keluar dari Mosul akan menyebar ke berbagai negara.

Bersama dengan simpatisan IS lokal, mereka akan menyebar teror di mana-mana sebagai balas dendam atas kekalahan mereka di Mosul. Yang tak kalah penting ialah kekalahan di Irak akan meningkatkan kekuatan IS di Suriah. Ini mengherankan bahwa kekuatan koalisi mengepung Mosul dari berbagai sisi, tetapi membiarkan sisi barat terbuka. Ini akan membuat pasukan IS yang terpukul di Mosul akan bergerak ke Raqqa, Suriah, yang terletak di sebelah barat Mosul. Mungkin sisi barat Mosul sengaja dibiarkan terbuka agar memungkinkan IS keluar dari Mosul tanpa melakukan perang hidup mati di Mosul yang akan menghancurkan secara fisik kota itu, dan meminta korban sipil yang lebih banyak.

Atau barangkali ini sengaja dibuat demikian untuk meningkatkan kekuatan IS di Suriah yang akan kian melemahkan pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad dan merepotkan Rusia, sekutu rezim Assad yang terlibat perang di Suriah. Tak mengherankan, Rusia mencak-mencak atas dibiarkannya sisi barat Mosul terbuka. Mengalirnya pasukan IS ke Suriah, bersama tank dan kendaraan tempur lainnya, pasti akan mendorong mereka meluaskan wilayah di Suriah. Kalau mengusir pasukan oposisi di Aleppo timur saja pasukan rezim Assad bersama Rusia sudah kewalahan, tentu mereka akan kian kedodoran bila harus juga menghadapi pasukan IS.

Dengan begitu, Rusia akan terperangkap dalam rawa-rawa perang Suriah. Karena itu, Rusia dihadapkan pada dua pilihan: mundur dari Suriah sebagaimana yang diharapkan AS dan koalisinya atau menambah kekuatan militer di Suriah. Karena Suriah begitu penting bagi Rusia--di Tartus, Suriah, terdapat pangkalan angkatan laut Rusia, yang merupakan satu-satunya pangkalan Rusia di Timur Tengah dan Laut Tengah—amat mungkin Moskow akan meningkatkan kekuatan militer di Suriah untuk menghadapi realitas militer baru di negara itu. Kalau demikian, perang di Suriah semakin panjang dan tragedi kemanusiaan semakin menjadi-jadi.

Untuk menghindari dampak yang tak diinginkan, semua kekuatan yang terlibat dalam perang Mosul harus duduk bersama dengan mengikutsertakan Rusia guna membicarakan perang Mosul dan solusi pasca penaklukannya. Sisi barat Mosul juga harus dikepung untuk mencegah IS mengalir ke Suriah atau membiarkan anggotanya pulang ke negara asal untuk menciptakan teror global.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More