Senin 24 Oktober 2016, 08:25 WIB

Malapraktik Pendidikan

Ahmad Baedowi (Direktur Pendidikan Yayasan Sukma Jakarta) | Opini
Malapraktik Pendidikan

Ahmad Baedowi -- MI/Adam Dwi

RIBUAN kasus mala­praktik kependidik­an terjadi di sekolah setiap hari. Guru lalai dalam memberikan peta belajar yang sesuai dengan bakat anak. Banyak sekali para guru yang bertindak seolah-olah mereka seorang dokter dan setiap hari yang dibawa kepada anak-anak mereka di sekolah ialah ribuan tablet sakit kepala seperti diskriminasi, pelabelan, kemarahan, kesewenang-wenangan, dan penilaian yang salah, hanya karena ada sebagian murid mereka di kelas yang tak paham apa yang diajarkan. Pemukulrataan peta kemampuan anak menjadi sumir dan diabaikan sehingga ada anak yang tak menyukai pelajaran tertentu tetap dipaksa belajar. Kejadian seperti ini berlangsung berulang kali di ruang-ruang kelas. Persis seperti kata Einstein, kita sangat bodoh dengan meminta seekor ikan untuk memanjat pohon.

Begitulah gambaran betapa sering dan banyaknya terjadi malapraktik pendidikan di sekolah-sekolah kita sehingga wajar jika kita harus meragukan sekolah dalam membangun watak dasar kebajikan (virtue) anak-anak. Mengapa proses belajar yang berlangsung di sekolah harus menghargai anak-anak sesuai dengan keberbakatannya? “The mind is not a vessel to be filled but a fire to be ignited,” demikian Plutarch suatu ketika berkata bahwa akal pikiran anak bukanlah tong sampah yang harus diisi dengan segala macam benda, melainkan api yang membutuhkan pemantik yang pas dan tepat. Kesalahan mendasar dalam mendesain proses belajar-mengajar di sekolah ialah lemahnya pemahaman guru terhadap gaya belajar anak.

Cara belajar
Proses belajar terjadi bila anak dihadapkan pada sesuatu yang baru dan berbeda dari apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Sesuatu yang baru tersebut dapat berupa gagasan, ide, dan konsep. Namun, yang harus selalu diingat ialah anak atau bahkan kita yang telah dewasa sekalipun selalu terangsang oleh hal-hal baru yang mengganggu pikiran kita. Persoalannya ialah dengan cara apa gagasan, ide, atau konsep ditangkap anak ketika belajar? Dalam brain based learning theory disebutkan otak kita ketika merespons gagasan, ide atau konsep selalu dalam bentuk gambar.

Ambil contoh kata ‘kuda’ dan ‘gajah’, otak kita akan menerima persepsi soal kuda dan gajah tidak dalam bentuk huruf-huruf, melainkan dalam bentuk gambar. Pastilah yang terbayang soal gajah bisa saja belalai, gading, kaki, dan sebagainya; sementara kuda yang terbayang ialah mulut, kaki, buntut dan bahkan suaranya. Karena itu penting bagi guru untuk menggunakan media belajar dalam bentuk grafis, film, gambar dan metafora agar otak anak menjadi terlatih dalam memahami, mengingat, dan sekaligus melakukan analisis terhadap suatu masalah.

Anak pada dasarnya dapat merespons sesuatu yang baru atau berbeda dengan tiga cara, yaitu penggabungan, adaptasi, dan penolakan. Penggabungan memungkinkan anak untuk mengakumulasi informasi baru dengan informasi sebelumnya. Adaptasi dilakukan otak untuk memilah dan memilih informasi berdasarkan kebutuhan intuitif anak, sedangkan penolakan terjadi jika informasi yang diterima tidak sesuai dengan atau bertolak belakang dengan gagasan yang telah diterima sebelumnya.

Karena tingkat aktivitas otak secara langsung berkaitan dengan tingkat stimulasi dari dan dalam lingkungan belajar, penggunaan media dan sarana belajar yang tepat akan membantu anak untuk belajar banyak secara baik dan konsisten. Sifat otak juga sangat responsif dan untuk itu dibutuhkan media belajar dalam bentuk grafis dan gambar yang dapat merangsang kerja otak secara maksimal. Penting juga diketahui para guru bahwa sifat rangsangan tidak terbatas dalam waktu atau tempat--mereka dapat muncul terus menerus--secara formal maupun informal.

Proses belajar yang menggunakan media belajar secara tepat dan terus-menerus inilah yang akan menghasilkan atau meningkatkan apa yang telah disebut Howard Gardner sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence). Artinya penting bagi seorang guru untuk memahami ragam talenta siswa mereka secara cerdas dan bertanggung jawab berdasarkan minat dan bakat yang dimiliki. Jika kesadaran ini tumbuh dan meluas, proses belajar mengajar tidak lagi berorientasi pada hasil, tetapi pada prosesnya itu yang membutuhkan banyak sekali kreativitas guru dalam mengajar dalam rangka menunjang ragam ta­lenta siswa.

Selain itu, penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar David Kolb (1984), yang membedakan ke dalam empat gaya belajar yang berkaitan dengan ragam talenta anak, yaitu anak berjenis pengamat (observers), pemikir (thinkers), pengambil keputusan (deciders) dan pelaku (doers). Setiap gaya belajar ini tentu saja memiliki kekuatan dan kelemahan. Namun, idenya ialah ingin menjadikan setiap guru dan siswa menjadi lebih sadar akan kekuatan mereka dalam belajar dan bekerja pada kekuatan dan kelemahan yang mereka mampu mengidentifikasinya.

Anak dengan kecenderungan seorang pengamat cenderung berfokus pada informasi faktual dan belajar banyak dari melihat kejadian, mendengarkan pengalaman orang lain dan berpikir tentang mereka, yaitu fokus pada peristiwa-peristiwa kehidupan nyata. Anak dengan gaya belajar pemikir cenderung gandrung pada penelitian hal-hal baru yang berusaha diperolehnya dengan membaca dan memikirkan hal itu untuk menemukan apa yang belum dan sudah diketahui. Pengambil keputusan biasanya memiliki insting berlebih soal teori dan peraturan apa yang sebaiknya digunakan karena mereka lebih suka struktur yang jelas dan bekerja dalam cara yang praktis. Ciri lainnya ialah mereka tidak begitu baik dalam membuat hubungan antara konsep dan teori.

Yang terakhir ialah tipe belajar pelaku. Anak biasanya senang belajar dengan membuat kesalahan dan dengan menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Mereka para risks-taker yang cenderung mau mengambil risiko untuk mengatasi dengan baik setiap perubahan dan bisa mendapatkan jawaban lebih banyak yang dituntun intuisi. Karena itu dibutuhkan peta belajar yang baik bagi guru-guru tentang wajibnya menghormati keberbakatan anak karena bakat dan minat mereka sa­ngatlah unik dan tak terhingga banyaknya. Tanpa pemahaman itu, malapraktik pendidikan kita di sekolah-sekolah akan terus terjadi dan merugikan masa depan Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More