Senin 24 Oktober 2016, 08:15 WIB

Mengoptimalkan Prestasi Nonakademik

Khoiruddin Bashori (Psikolog Pendidikan) | Opini
Mengoptimalkan Prestasi Nonakademik

Grafis/Seno

PADA suatu pagi, penulis berkesempatan berbagi pengalaman dalam sebuah forum parenting salah satu sekolah unggul di Yogyakarta. Sebelum sampai pada giliran penulis, sekolah membagikan selembar kertas dengan serta-merta semua orangtua ‘memelototi’ kertas itu dengan sangat antusias. Sudah dapat diduga, kertas yang dibagikan ialah laporan perkembangan nilai akademik siswa sampai saat itu.

Yang menggelitik penulis ialah, akankah orangtua dan guru memiliki kepedulian yang sama terhadap prestasi-prestasi nonakademik siswa? Apakah orangtua dan guru terganggu jika anaknya tidak dapat bernyanyi dan berolahraga dengan baik? Apakah orangtua dan guru memberi porsi perhatian yang cukup pada perkembangan keterampilan sosial anak didik? Nampaknya terdapat perbedaan yang sangat jelas, bagaimana orangtua dan guru memandang prestasi akademik dan nonakademik. Masa depan anak seolah-olah disamakan dengan prestasi akademik saat ini, sementara prestasi nonakademik dinomorduakan. Ada semacam kesalahan anggapan orangtua dan guru, bahwa prestasi akademik ialah penentu utama masa depan anak.

Ragam kecerdasan
Setiap orangtua dan guru tentu ingin sekali anak didik mereka memiliki masa depan gemilang, dan salah satu yang dianggap berperan penting dalam hal ini ialah kecerdasan. Jika pilihan karier ke depan dapat disesuaikan dengan kecerdasan utama anak, diharapkan keberhasilan mereka menjadi lebih optimal. Persoalannya, tidak sedikit pendidik yang merasa kesulitan mengenali apa sebenarnya kecerdasan anak-anak mereka sejak dini. Sebenarnya tidak mudah mengenali kecerdasan anak, mengapa? kecerdasan ini sering kali masih tersembunyi, dan dengan sentuhan pendidikan yang benar dapat berubah menjadi aktivitas teratur yang dihargai masyarakat dan dapat dinilai berdasakan tingkat keahliannya. Misalnya, seorang dengan kecerdasan musikal belum begitu terlihat sebelum yang bersangkutan banyak melakukan aktivitas bernyanyi sehingga dapat dihargai masyarakat, seperti kesempatan mengikuti kompetisi idol atau hasil album lagunya laku di pasaran. Dengan demikian, orang baru akan yakin dengan kecerdasan anak yang sebenarnya ketika kecerdasan itu telah teraktulisasi menjadi suatu aktivitas yang dihargai masyarakat.

Jika merujuk pada teori Howard Gardner (1983), profesor pendidikan di Universitas Harvard, Amerika Serikat, kecerdasan manusia dapat dibedakan menjadi delapan kategori utama, yakni 1) kecerdasan linguistik atau bahasa, kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata–kata secara efektif baik secara oral maupun tertulis, 2) kecerdasan matematis-logis, kemampuan yang berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika, nalar kritis orang ini dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat, 3) kecerdasan spasial, kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat, orang dengan kemampuan ini dapat mengenal bentuk dan benda secara tepat serta punya daya imajinasi tinggi berkaitan dengan itu, 4) kecerdasan gerak tubuh, kemampuan hebat dalam menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengeks­presikan gagasan dan perasaan, 5) kecerdasan musikal, kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan, dan menikmati aneka bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi, serta mampu memainkan alat musik, 6) kecerdasan interpersonal, kemampuan untuk mengerti dan peka terhadap pera­saan, intensi, motivasi, wa­tak, dan temperamen orang lain. Orang dengan kemampuan ini menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi dengan berbagai pihak, 7) kecerdasan intrapersonal, kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi, memiliki kesadaran tinggi akan berbagai gagasan. Orang dengan kecerdasan ini mudah berkonsentrasi dengan baik, suka bekerja sendiri, dan cenderung pendiam, 8) kecerdasan naturalis, kemampuan untuk mengerti flora dan fauna secara baik, dapat menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik.

Di kemudian hari, Gardner memperkaya teorinya dengan satu kategori baru- kecerdasan eksistensial, yaitu menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang dalam menjawab persoalan–persoalan terdalam, berkaitan dengan keberadaan atau eksistensi manusia. Sebuah kecerdasan yang berhubungan dengan spiritualitas seseorang karena sudah menyangkut makna dan nilai-nilai dasar kehidupan.

Gardner dengan sangat baik telah memberi porsi yang relatif seimbang antara kemampuan yang bersifat akademik dan nonakademik. Dengan demikian, sebenarnya tidak salah jika dikatakan, kecerdasan anak itu sangat beragam. Bekal menggapai masa depan gemilang sesungguhnya bukan semata prestasi akademik. Prestasi akademik memang penting, tetapi bukan berarti prestasi nonakademik tidak penting. Dalam banyak kasus, karier nonakademik justru nampak lebih menjanjikan.

Cara sederhana
Lalu, bagaimana caranya? Mendampingi anak bermain merupakan salah satu cara sederhana mengenali kecerdasan anak. Terdapat banyak hal yang dapat menjadi petunjuk kecerdasan anak dari tingkah polahnya saat bermain. Dari pilihan permainan, kita dapat mengenali apakah anak lebih menyukai permainan perorangan atau berkelompok. Apakah anak kita lebih cenderung pendiam atau lebih suka berlari ke sana ke mari bersama teman-teman dalam aktivitas kelompok? Atau, saat pertama kali anak memasuki ruang bermain, permainan apa yang segera diliriknya? Sepeda, bola sepak, perlengkapan menggambar, atau justru peralatan memasak? Hasil pengamatan semacam ini dapat memberikan gambaran seperti apa pribadi anak kita, dan kecerdasan apa yang dimilikinya. Memberi kesempatan anak bermain aktif dalam komunitas lebih baik bagi perkembangan kecerdasan anak, bila dibandingkan dengan terus-menerus bersanding dengan gawai.

Di lapangan, tidak sedikit orangtua-guru kurang memberi cukup kesempatan anak untuk menentukan pilihan, berlatih mengambil keputusan. Hampir semua keputusan datang dari orangtua. Perlu introspeksi, apakah sebagai orangtua kita sering bertanya, sebenarnya bidang apa yang paling diminati anak? Jangan-jangan, setelah selama ini kita membayar mahal untuk biaya bimbingan belajar, si kecil malah lebih tertarik untuk les sepak bola atau melukis. Perlu diperhatikan, anak bukanlah versi kecil dari diri kita, melainkan pribadi mandiri yang memiliki pemikiran dan kese­nangan yang bisa jadi berbeda dari kedua orangtuanya. Oleh karena itu, memberi kesempatan anak memilih sendiri aktivitas yang ingin dijalaninya merupakan langkah bijak orangtua. Beri anak ruang untuk mengeksplorasi banyak hal, dan dari sana nanti kita akan dapat mengetahui aktivitas apa yang paling anak sukai. Bisa jadi pilihan mereka keliru dan mengecewakan. Namun, kita tidak perlu terlalu khawatir, biarkan anak belajar bangkit dari kesalahannya sendiri. Pengalaman jatuh bangun di lapangan kehidupan seperti ini, jika disikapi secara positif, justru akan menguatkan daya juang anak dalam mengembangkan kecerdasannya.

Langkah lain yang perlu dilakukan orangtua dan guru dalam menumbuhkan kecerdasan anak ialah memberikan fasilitas pendukung. Sudah menjadi tugas orangtua dan guru memfasilitasi pilihan kegiatan anak yang positif, sesuai dengan kecenderungan kecerdasan dan potensinya masing-masing. Pada akhirnya, dukungan orangtua terhadap pengembangan kecerdasan anak perlu diwujudkan dalam bentuk pendampingan terhadap pilihan ekspresi aktivitas positif anak yang akan menjadi pilihan identitas diri mereka di masa depan. Orangtua dan guru perlu menunjukkan pengembangan kecerdasan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi tumpuan pilihan karier anak ke depan. Kerelaan dan kesabaran orangtua dan guru dalam mendukung pengembangan diri anak sesuai dengan potensi dan kecerdasannya masing-masing menyebabkan anak lebih sukses dan berbahagia. Mereka merasa optimalisasi pengembangan berprestasi ini tidak saja direstui, tetapi juga didukung penuh oleh guru dan kedua orangtuanya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More