Minggu 23 Oktober 2016, 01:46 WIB

Mengepaskan Kata

Suprianto Annaf | Opini
Mengepaskan Kata

MI/Rommy Pujianto

SELALU saja ada usaha untuk membuat bahasa Indonesia berdaya. Selain menyerap dan memadankan, langkah kreatif itu dilakukan dengan cara mengepaskan kata. Walau terkesan tak sengaja, pengepasan kata itu secara makna memang berterima. Unik dan menggelitik. Sebagai contoh, automated teller machine dengan tepat dipaskan dengan anjungan tunai mandiri. Jumlah dan urutan hurufnya sama sehingga keduanya dapat disingkat ATM. Pemaknaannya pun relatif sebanding. Automated teller machine dimaksudkan bahwa penarikan uang dapat dilakukan secara otomatis melalui kasir-mesin khusus yang sudah disiapkan. Proses cepat dan tanpa bantuan orang yang disebut kasir. Sebaliknya, anjungan tunai mandiri.

Pemaknaannya ialah ruang atau bilik kecil yang menyiapkan fasilitas untuk mengambil uang secara mandiri. Ya, tentu saja tanpa kehadiran kasir. Dari pengepasan gabungan kata ATM ini, yang membedakan ialah automated teller machine tidak menyertakan bentuk ruang, tetapi sekadar kepraktisan. Sementara itu, anjungan tunai mandiri mengesankan bahwa kepraktisan mengambil uang itu di dalam bilik atau ruang kecil. Realitas itu dapat dilihat bahwa ATM kebanyakan berada di ruang yang berupa bilik. Hal lain yang menarik perihal pengepasan kata ialah MRT. Dalam versi asing, MRT menjadi singkatan mass rapid transit, sedangkan dalam sesi kreatif bahasa Indonesia ialah moda raya terpadu. Dari keduanya ditemukan perbedaan.

Mass rapid transit dimaknai sebagai angkutan massa yang cepat, sedangkan dalam moda raya terpadu lebih menyentuh aspek pelayanan yang terintegrasi dengan jalur angkutan lain sehingga disebut terpadu. Hanya saja, keduanya memiliki jumlah penumpang yang dikesankan banyak. Walaupun sedikit berbeda, pengepasan kata juga terjadi dalam kata curhat dan U-19 (kelompok umur dalam sepak bola). Selama ini kata curhat merupakan akronim dari curahan hati, yakni aktivitas karib yang membahas hal yang biasanya bersifat pribadi. Namun, rupanya kata itu merupakan proses penerimaan bahasa karena bunyi yang terdengar.

Kata curhat diindikasikan berasal dari kata Inggris cure heart (hati yang terluka). Dalam waktu yang lama kata itu terdengar cur hat, yang akhirnya dipaskan dengan curahan hati. Bentuk penghilangan kata asli oleh penutur baru seperti cure heart menjadi curhat memang sudah lazim terjadi dalam interaksi berbahasa. Kata dongkrak misalnya. Kata ini terserap karena interaksi bahasa secara lisan tanpa mengenali bentuk tulisnya. Jelas-jelas kata dongkrak berasal dari kata Belanda, dommekracht. Hampir tidak dikenali asal muasalnya, kan? Coba saja bandingkan bila pengambilan bahasa asing itu dengan mengenali bentuk tulisannya! Kita mengambil kata system menjadi sistem, analysis menjadi analisis, atau kata response menjadi respons. Kata sistem, analisis, dan respons lebih gampang dikenali karena diserap dengan aturan kebakuan: adaptasi fonologi dan visualitas. Pengepasan kata lain, yakni U-19.

Huruf U (under) dalam U-19 berarti kelompok umur dalam sepak bola yang pemain berumur di bawah 19 tahun. Akan tetapi, penutur Indonesia melabeli huruf U sebagai usia 19 tahun. Kedua terkesan sama, tetapi secara makna berbeda. Bahwa usia 19 tahun tentu saja berbeda dengan berusia di bawah 19 tahun, bukan? Dari uraian itu dapat dikatakan bahwa interaksi bahasa secara lisan akan menghilangkan identitas bahasa penutur asal. Oleh karena itu, penyertaan ragam tulis dalam interaksi tersebut akan lebih memudahkan dalam mengenali asal muasal kata.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More