Sabtu 22 Oktober 2016, 13:41 WIB

Pertarungan Opini di Pilkada DKI

Gun Gun Heryanto, Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute dan dosen Komunikasi Politik UIN Jakarta | Opini
Pertarungan Opini di Pilkada DKI

MI/PATA AREADI

PERTARUNGAN opini di pilkada DKI kian masif dan eksesif. Di tengah baragam strategi persuasi yang dijalankan ketiga pasangan kandidat, bermunculan propaganda membahayakan yang dilakukan beragam kelompok. Hampir setiap saat kita menjumpai propaganda hitam beredar di media sosial, lewat smartphone, bahkan tak jarang menyeruak lewat media arus utama seperti di media cetak maupun elektronika.

Butuh kemampuan literasi politik agar adu strategi untuk penetrasi ke simpul pemilih tak sekadar melegitimasi diri atau mendelegitimasi pihak lain, tetapi menjadi ajang dialektika gagasan dan program ke depan.

Attacking campaign
Dalam perspektif komunikasi politik, ada kampanye positif (positive campaign) dan kampanye menyerang (attacking campaign). Kampanye positif berfokus pada upaya memengaruhi pemilih dengan mengaitkan persepsi dan emosi khalayak pada hal-hal positif yang terhubung dengan kandidat. Tujuannya, tentu untuk menaikkan tingkat popularitas, keterpilihan, kesukaan, dan penerimaan pemilih.

Menurut Michael dan Roxanne Parrot dalam buku Persuasive Communication Campaign (1993), kampanye didefinisikan sebagai proses yang dirancang secara sadar, bertahap dan berkelanjutan, serta dilaksanakan pada rentang waktu tertentu dengan tujuan memengaruhi khalayak sasaran yang telah ditetapkan.

Hal senada juga dikemukakan Roger dan Storey dalam Communication Campaign (1987) yang juga mendefinisikan kampanye sebagai serangkaian tindakan komunikasi terencana yang bertujuan menciptakan efek tertentu pada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu.

Dengan demikian, inti kegiatan kampanye tentu saja persuasi. Berbagai hal biasanya dilakukan para kandidat, mulai iklan di media lini atas (above the line media), media lini bawah (below the line media), hingga lobi dan negosiasi yang langsung penetratif ke simpul-simpul pemilih. Kampanye yang baik tentu saja ialah kampanye berkonsep dan tepat pada target yang dibidik.

Kampanye modern yang positif tersebut lebih banyak menyosialisasikan sekaligus membuka ruang pertarungan gagasan dan program. Kampanye menyerang merupakan varian strategi yang fokus untuk melemahkan lawan. Ada dua jenis kampanye menyerang yang sangat biasa digunakan, yakni kampanye negatif dan kampaye hitam. Kampanye negatif menyerang pihak lain dengan data atau fakta yang bisa diverifikasi.

Artinya, seluruh data atau fakta yang diangkat ke permukaan untuk mendelegitimasi lawan, memungkinkan untuk diperdebatkan, dikritisi, dikoreksi, bahkan dipersoalkan di wilayah hukum. Misalnya saja beragam serangan pada kinerja kandidat petahana. Tentu, sebagai gubernur yang menjabat, belum semua program dan janji direalisasikan. Serangan bisa saja disampaikan kepada petahana dengan basis data pun demikian bisa dialami kedua kandidat lainnya dengan masalah berbeda-beda.

Sementara itu, kampanye hitam menyerang pihak lain dengan gosip atau rumor yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Sumber penyebar pesan kampanye tidak jelas, samar, bahkan sering kali secara sengaja bergerak dalam operasi gelap dan tak tersentuh oleh proses dialektika. Beberapa teknik kampanye hitam yang sering dipakai dalam perang opini di masyarakat lazimnya menggunakan teknik-teknik propaganda.

Pertama, teknik name calling. Artinya pemberian label buruk pada lawan. Misalnya melabeli ketiga kandidat dengan sebutan dan stigma sangat buruk.

Kedua, teknik card stacking, yakni dengan mengeluarkan pernyataan yang memiliki efek domino di masyarakat. Misalnya, pernyataan seputar bahayanya jika memilih pasangan Ahok-Djarot, Anies-Sandi, dan Agus-Sylvi dengan model menyebar rumor. Gosip yang dikonstruksi biasanya sensitif seperti agama atau ras dan cenderung mengipas-ngipasi kebencian terhadap salah satu kandidat.

Ketiga teknik transfer, yakni menyebarkan kampanye hitam lewat lambang-lambang otoritatif. Misalnya menyodorkan ayat suci, lambang-lambang adat, etnik, agama, politik yang diberi penafsiran berbeda dengan konteks sesungguhnya.

Keempat, teknik testimonial dengan cara mengutip dan menyebarkan pernyataan orang-orang yang dikenal luas oleh khalayak. Kerap kali pernyataan tokoh tersebut juga sudah diberi polesan menyesatkan dengan tujuan membangun persepsi buruk.

Model Ostergaard
Saatnya ketiga pasangan kandidat di pilkada DKI melakukan kampanye produktif. Dalam pandangan Leon Ostergaard, sebagaimana dikutip Klingemann (2002), paling tidak ada tiga tahapan dalam kampanye. Pertama, mengidentifikasi masalah faktual yang dirasakan. Syarat kampanye sukses ialah harus berorientasi pada isu/program (issue/program-oriented), bukan semata berorientasi pada citra (image-oriented).

Kampanye merupakan momentum tepat untuk menunjukkan bahwa kandidat memahami benar berbagai persoalan nyata, faktual, elementer, dan membutuhkan penanganan di masyarakat. Sudah bukan zamannya lagi kampanye hanya menawarkan solusi imajiner yang abstrak, tidak memiliki basis pemecahan masalah (problem solving).

Kedua, pengelolaan kampanye yang dimulai dari perancangan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dalam tahap ini, lagi-lagi riset perlu dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik khalayak sasaran agar dapat merumuskan pesan, aktor kampanye, saluran, hingga teknik pelaksanaaan kampanye yang sesuai.

Pada tahap pengolalaan ini, seluruh isi program kampanye (campaign content) diarahkan untuk membekali dan memengaruhi aspek pengetahuan, sikap, serta keterampilan khalayak sasaran. Aspek ini dalam literatur ilmiah dipercaya menjadi prasyarat terjadinya perubahan perilaku (voting behavior).

Kampanye tak cukup hanya bertumpu pada retorika sloganistik. Pemilih kekinian tak lagi cukup hanya mendengarkan slogan, tetapi butuh indiktor-indikator yang bisa diraba sekaligus diadu pada level gagasan dan program.

Kampanye harus diterjemahkan dari tema besar yang serbaelitis ke real world indicators sehingga berbagai rincian program itu dapat menarik dan menjadi bagian utuh kesadaran pemilih atau apa yang Walter Lippmann tulis sebagai the world outside and pictures in our head. Ketiga ialah tahap evaluasi pada penanggulangan masalah (reduced problem).

Dalam hal ini, evaluasi diarahkan pada efektivitas kampanye dalam menghilangkan atau mengurangi masalah sebagaimana yang telah diidentifikasi pada tahap prakampanye.

Kampanye dengan demikian bukanlah sebuah mekanisme janji palsu atau pembohongan publik, melainkan sebuah deklarasi komitmen untuk melakukan hal-hal terbaik yang bisa dilakukan sekaligus meyakinkan berbagai pihak bahwa para kandidat memiliki berbagai solusi jangka pendek, menengah, dan panjang sebagai formula mengurangi masalah yang ada di masyarakat. Saat pasangan capres dan cawapres mampu menunjukkan platform dan solusi berbagai persoalan negeri ini, bukan tidak mungkin akan muncul dukungan pemilih yang meluas.

Kampanye transformasional bisa mewujud dalam penanda kata, konstruksi gagasan, konseptualisasi penanganan masalah, serta teknik dan strategi yang inspiratif. Kampanye jenis ini biasanya tak hanya menghipnosis pemilih dengan kata-kata, tetapi juga dapat menggerakkan minat berpartisipasi dalam politik dan menumbuhkan harapan bersama untuk maju bersama-sama. Kampanye transformasional, selain memiliki titik simpul gagasan besar, biasanya berbasis pendekatan komunitas.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More