Sabtu 22 Oktober 2016, 08:25 WIB

Penyakit akibat Tikus masih Terjadi di Jakarta

Gurit Ady Suryo | Teknologi
Penyakit akibat Tikus masih Terjadi di Jakarta

Sumber: Dinas Kesehatan DKI Jakarta/Foto: Antara/Grafis: Caksono

TIKUS merupakan binatang mamalia yang sering kita jumpai di sekitar kita.

Hewan mengerat ini identik dengan lingkungan kotor dan penyakit.

Banyak penyakit yang dapat ditularkan melalui tikus, baik melalui urine, gigitan, ataupun bahkan lewat gigitan kutu yang menempel di tubuhnya.

Jakarta, sebagai salah satu kota megapolitan yang paling tinggi populasinya dan paling tinggi beban pencemarannya, diakui kewalahan menghadapi ledakan populasi tikus got.

Tikus got disebut sebagai inang berbagai penyakit seperti leptospirosis, pes, salmonella enterica sarovar typhimurium, penyakit rat bite fever (RBF), dan hantavirus pulmonary syndrome.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengatakan,

"Penyakit disebabkan tikus yang banyak berkembang ialah pes dan leptospirosis. Dua penyakit itu yang harus diwaspadai."

Saat ini, ujar Koesmedi, kasus yang diakibatkan PES sudah tak terdengar lagi.

Berbeda dengan leptospirosis yang kasusnya masih banyak terjadi karena banyaknya permukiman padat penduduk dan musim hujan.

"Biasanya sehabis hujan, lalu banjir, kasus leptospirosis akan muncul," kata Koesmedi.

Lalu, bagaimana tikus bisa berkembang biak dengan subur di Jakarta?

Wakil Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Ali Maulana Hakim mengatakan perkembangan tikus got di Jakarta berpotensi banyak terjadi di kawasan-kawasan padat penduduk.

Selain itu, pola hidup masyarakat yang membuang sampah sembarangan menyumbang pesatnya perkembangbiakan tikus got.

Selain itu, tak ada predator alami bagi hewan pengerat itu.

Program Gerakan Basmi Tikus

Untuk mengurangi populasi tikus sekaligus mencegah penyebaran penyakit, Pemprov DKI Jakarta mencanangkan Gerakan Basmi Tikus (GBT).

Untuk setiap tikus yang ditangkap, warga nantinya akan dihadiahi Rp20 ribu per ekor.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengatakan teknik mengenai pelaksanaan program memburu tikus masih dibahas.

Mungkin, program itu dilaksanakan dengan meminta warga memburu tikus got yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka.

Nantinya tikus yang ditangkap dikumpulkan di kantor kelurahan dan dihargai Rp20 ribu per ekor. Djarot menyebut bangkai-bangkai tikus yang terkumpul nantinya akan diolah menjadi pupuk.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga mengatakan program Gerakan Basmi Tikus milik Dinas Kebersihan DKI Jakarta hanya akan dilakukan sekali karena dikhawatirkan tikus justru akan dibudidayakan warga lantaran diiming-imingi imbalan.

"Kalau itu dilakukan pun hanya sekali. Kalau terus-menerus nanti orang (justru) beranakin tikus. Malah jualan tikus nanti," kata Ahok di Balai Kota, Rabu (18/10).

(Pemprov DKI Jakarta/Dinas Kesehatan DKI Jakarta/Antara/L-1)

Baca Juga

istimewa

N-219 Nurtanio Kebangkitan Industri Pesawat Terbang Nusantara

👤Muhamad Fauzi 🕔Minggu 05 Juli 2020, 17:10 WIB
BAGI masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung, yang hidup di era 80an, pasti familiar dengan nama PT Nurtanio yang kemudian berubah...
Istimewa

Kenormalan Baru, Jasa Penerjemah Tersumpah Bisa Daring

👤Muhamad Fauzi 🕔Minggu 05 Juli 2020, 06:15 WIB
PANDEMI Covid-19 dengan penerapan protokol kesehatan mencegah penyebaran virus covid membuat kreativitas...
Dok.MI

Kecepatan Internet di Indonesia Masih di Bawah Tiga Negara ASEAN

👤Deri Dahuri 🕔Jumat 03 Juli 2020, 22:07 WIB
Berdasarkan data Steam, rata-rata kecepatan internet di Indonesia dengan 11 Mbps masih di bawah negara Singapura, Thailand, dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya