Selasa 18 Oktober 2016, 00:15 WIB

Menyoal Pendidikan Karakter

Haidar Bagir Ketua Yayasan Sekolah-Sekolah Lazuardi, Dosen Filsafat/Mistisisme Islam | Opini
Menyoal Pendidikan Karakter

ANTARA FOTO/Septianda Perdana

PERSOALAN pendidikan karakter, seperti dikatakan Prof Thomas Lickona, ialah suatu upaya yang umurnya sudah setua upaya pendidikan itu sendiri. Karena itu, tak aneh itu menjadi concern para pemimpin masyarakat kapan pun dan di mana pun. Di negeri kita, untuk melanjutkan presiden-presiden sebelumnya, Presiden Jokowi menjadikan persoalan ini sebagai sentral upaya-upaya pendidikan bangsa meski ‘menyederhanakan’ metode pendidikan karakter dilancarkan Mendikbud Muhammad Nuh dalam kurikulum 2013, bahkan Pak Anies Baswedan tak kurang-kurang menekankan soal ini dalam program-programnya. Yang paling akhir, bagi Pak Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan sekarang, pendidikan karakter malah ditampilkan nyaris sebagai alpha-omega program-programnya.

Persoalannya, tak seperti perkiraan banyak orang, urusan pendidikan karakter sama sekali tak bebas dari kontroversi. Bahkan, tak jarang kontroversinya bersifat sangat runcing dan saling berkonflik. Mari kita lihat. Istilah karakter berasal dari kata charassein (bahasa Yunani) yang bermakna mengukir, atau memahat. Selain bermakna pahatan di kayu dan berbagai bahan lain seperti batu, besi, dan sebagainya, kata charassein dapat dipakai untuk menunjuk cap yang dihasilkan dari besi panas, yang ditempelkan ke binatang ternak sebagai penanda pemiliknya. Artinya, karakter adalah sesuatu yang tetap, tak bisa (sulit) berubah, sebagaimana ukiran atau pahatan.

Dari sinilah kemudian muncul pengertian karakter sebagai ciri khusus atau pola perilaku individu yang tetap. Maka, sadar atau tidak, istilah ini sering dimaknai sebagai sikap tegas, gigih, berkepribadian kuat, dan sebagainya--kadang disingkat dengan ‘watak’. Namun, sering tanpa disadari, penggunaan kata ini tak selalu diasosiasikan dengan apa yang sering disebut sebagai akhlak mulia, yang intinya ialah sifat/sikap penuh kasih sayang dan kebaikan hati.

Istilah ‘akhlak’, berasal dari kata akhlaq, ialah bentuk jamak dari kata khuluq. Kata khuluq memiliki akar yang sama dengan khalq. Keduanya bermakna sifat/bentuk ciptaan yang selalu ada meski kadang dalam bentuk potensial dalam diri manusia. Bedanya, jika khalq dikaitkan dengan penciptaan yang terkait dengan penampilan fisik, khuluq terkait dengan ciptaan yang bersifat rohani. Dalam salah satu doanya, Nabi Muhammad SAW pernah mengajarkan: “Ya Allah, seperti telah Kau indahkan ciptaan-fisik (khalq)-ku, indahkan juga ciptaan-rohani (khuluq)-ku.”

Berdasar pembandingan kedua istilah itu sesungguhnya pemahaman tentang karakter yang disebut di atas cocok hanya dengan satu jenis karakter, yakni karakter unjuk-kerja yang menentukan kesuksesan. Sementara itu, akhlak lebih identik dengan apa yang disebut sebagai karakter moral yang menentukan keselamatan dan kebahagiaan. Kata moral atau moralitas memang sering dipakai untuk tujuan yang sama. Ia terkait dengan sifat atau nilai ‘baik-buruk’ dari suatu sikap atau tindakan dalam hubungannya dengan kebaikan hati. Ilmunya disebut sebagai etika, yang soal sopan-santun (etiket) hanyalah suatu bagian kecil darinya. Sampai di sini, sudah jelas bahwa pemahaman karakter tak boleh berhenti pada pendidikan karakter unjuk kerja saja, melainkan harus juga mencakup-- bahkan yang ini bisa jadi lebih penting--karakter moral.

Sebelumnya, istilah budi pekerti lebih sering dipakai untuk menunjuk apa yang belakangan biasa diistilahkan dengan ‘karakter’ seperti diuraikan di atas. Kata budi berarti sadar, atau yang menyadarkan, atau alat kesadaran. Pekerti berarti tingkah laku. Dalam etimologi Jawa, budi berarti nalar, pikiran atau watak. Dalam bahasa Sanskerta istilah budi berasal dari kata budh, yaitu kata kerja yang berarti sadar, bangun, bangkit (secara kejiwaan). Dengan demikian, budi dapat berarti penyadar, pembangun, pembangkit. Sementara itu, kata pekerti berasal dari akar kata kr yang berarti bekerja, berkarya, berlaku, bertindak. Maka, budi pekerti berarti watak sebagai sumber tindakan, yang dilahirkan dari kesadaran. Sampai di sini kontroversi mendasar tentang pendidikan karakter bermula.

Yang pertama terkait dengan sumber karakter. Secara umum ada perbedaan antara pandangan dunia Barat dan Timur. Dalam pandangan Barat pada umumnya, kesadaran rasional--mungkin ditambah juga kesadaran estetis dan sportivitas--yang baik sudah cukup menjadi dasar bagi tumbuh-kembang karakter yang baik. Bagi pandangan-dunia Timur, karakter yang baik adalah persoalan kebersihan hati. Jadi, sedikit-banyak terkait dengan spiritualitas, bahkan agama.

Dalam pandangan dunia ini, moralitas bersifat deontologis, bukan pragmatis atau transaksional. Sampai di sini, tampak jelas bahwa persoalan pendidikan karakter sangat terkait dengan aliran pemikiran yang dianut. Bagi aliran rasional, tak diperlukan upaya pendidikan karakter secara khusus. Jika orang sudah memiliki rasionalitas, dia akan terdorong untuk bertindak etis. Bagi kelompok yang lain, diperlukan semacam latihan spiritual khusus dalam pusat-pusat pendidikan, bahkan kerohanian agar seseorang bertindak etis.

Malah, bagi kelompok yang pertama, pendidikan karakter secara khusus justru dipandang bisa kontraproduktif dalam menghasilkan pribadi-pribadi berkarakter. Karena ada kecenderungan--sifatnya yang bisa subjektif alias bias--ia justru mendistorsi rasionalitas. Bagi yang lain, tanpa latihan-latihan spiritual sulit untuk menjadikan orang berkarakter. Sudah sejak Aristoteles, pendidikan karakter diidentikkan dengan upaya-upaya habituas pembiasaan yang akan dapat mengaktualkan potensi karakter/moral/budi pekerti itu.

Terlepas dari pro-kontra yang perlu menjadi pertimbangan semua rancangan pendidikan karakter, yang sama sekali tak boleh dilupakan, persoalan pendidikan karakter juga melibatkan pergeseran paradigma pendidikan pada penekanan atas ranah kognitif ke ranah afektif, dan utamanya, psikomotorik. Baik dalam hal proses belajar maupun dalam hal penilaian, yakni jika penilaian dalam hal ini diyakini diperlukan. (Bagi penganut mazhab rasional, di sini jugalah terletak keberatan mereka. Penilaian sering kali justru berdampak negatif karena sifatnya membuka kemungkinan subjek belajar mendapatkan label berkarakter buruk, yang pada gilirannya bisa bersifat self fulfilling prophecy). Metoda--penilaiannya pun--tak boleh hanya bersifat of learning, melainkan juga as learning dan for learning--harus bersifat autentik (terkait langsung dengan kenyataan sehari-hari) dan berbasis portofolio (bersifat kontinyu).

Pentingnya pengorientasian pendidikan karakter kepada ranah afektif dan psikomotorik, sebagai bagian proses habituasi ini, lebih terkait dengan penciptaan atmosfer lingkungan pendidikan. Termasuk role-modelling, yang kondusif dan pelibatan secara praktis dan langsung peserta didik ke dalam berbagai kegiatan praktis dan kontekstual. Lebih dari itu, bahkan bagi para penganut mazhab pendidikan karakter ini, pemuatan secara menyatu pendidikan karakter dan moralitas ke dalam sekujur kegiatan kurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler yang relevan, bukan hanya dalam pelajaran semacam agama, pendidikan kewarganegaraan (PPKn), atau bahkan budi pekerti--menjadi sangat menentukan.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More