Minggu 13 September 2015, 00:00 WIB

Saudi Harus Bertanggung Jawab

MI/YANURISA ANANTA | Internasional
Saudi Harus Bertanggung Jawab

AFP/STR

 
PEMERINTAH Arab Saudi dituntut bertanggung jawab atas ambruknya crane di Masjidil Haram, Mekah, Jumat (11/9), yang mengakibatkan sedikitnya 107 jemaah haji meninggal dan 238 lainnya luka-luka.

Insiden itu terjadi ketika jemaah sedang menunggu salat magrib. Badai dan hujan sangat lebat tiba-tiba menjungkalkan salah satu crane yang berada di seputar masjid dan menimpa para jemaah.

Ada sekitar 15 crane untuk pengerjaan proyek perluasan area masjid hingga 400 ribu meter persegi agar nantinya bisa menampung 2,2 juta jemaah haji sekaligus. Proyek yang dikerjakan Grup Bin Laden itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun dan ditargetkan selesai sebelum puncak ibadah haji tahun ini.

Di antara korban meninggal, 2 dari Indonesia, yakni Isti Rasti Darmini, 57, asal Bandung Barat, dan Masnauli Sijuadil Hasibuan, 59, asal Medan. Jemaah Indonesia yang luka-luka sebanyak 42 orang. Konjen RI di Jeddah, Dharmakirty S Putra, sempat memperkirakan empat jemaah Indonesia tewas, tetapi data itu belum dikonfirmasi pihak rumah sakit. Insiden tersebut merupakan yang terburuk dalam penyelenggaraan ibadah haji setelah 2006. Ketika itu, lebih dari 360 jemaah wafat karena terinjak-injak saat lempar jamrah.

Pendiri Islamic Heritage Research Foundation yang berbasis di Mekah, Irfan al-Alawi, menyatakan otoritas Saudi telah melakukan kelalaian. Semestinya, crane-crane tersebut disingkirkan ketika umat Islam dari seluruh dunia memadati Masjidil Haram pada musim haji. "Mereka tak peduli terhadap warisan (sejarah) dan mereka tidak peduli pada kesehatan dan keselamatan (jemaah haji). Saudi harus memikirkan kembali strategi keselamatan," cetusnya.

Ketua Komisi VIII DPR Saleh Daulay memaklumi pemerintah Saudi ingin mengejar target penyelesaian proyek perluasan Masjidil Haram, tetapi bukan lantas mengabaikan keselamatan jemaah. "Crane-crane itu harus dipindahkan menjauh dari lokasi sekitar jemaah, paling tidak sebelum haji berakhir dua sampai tiga minggu ke depan.

''Pemerintah Arab Saudi itu kan sudah mengklaim sebagai khodimul haramayn, yang artinya pelayan dua Tanah Suci. Itu artinya siap untuk melayani tamu Allah, seharusnya mereka bertanggung jawab memberikan pelayanan yang terbaik," imbuh Saleh.

Wakil Ketua Komisi VIII Ledia Hanifa yakin pemerintah Saudi akan maksimal menangani korban. Namun, ia juga meminta Indonesia serius meminta Saudi memperhatikan keselamatan jemaah haji.

Otoritas Arab Saudi lewat Gubernur Mekah, Pangeran Khaled al-Faisal, telah membentuk tim untuk menginvestigasi peristiwa itu. Sulayman bin Abdullah al-Amr dari Pertahanan Sipil Arab Saudi memastikan ambruknya crane itu murni akibat badai.

Kembali normal
Presiden Joko Widodo yang saat kejadian tengah berada di Jeddah langsung menginstruksikan Menag Lukman Hakim Saifuddin di Mekah untuk memberikan bantuan kepada jemaah Indonesia yang menjadi korban. "Dalam kesempatan ini, saya sampaikan dukacita kepada keluarga korban termasuk dari Indonesia, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan.''

Ucapan duka juga mengalir dari para pemimpin dunia, termasuk PM Inggris David Cameron dan PM India Narendra Modi. Aktivitas di Masjidil Haram, mulai kemarin pagi, sudah kembali normal dan ribuan jemaah melakukan tawaf dan sai. ''Seperti tidak ada kejadian apa-apa," kata Sularno, jemaah asal Jambi. Ia meminta keluarga dan kerabat jemaah di Tanah Air tak perlu terlalu khawatir. (Mut/DG/AFP/X-9)

Baca Juga

Medcom

Serangan terhadap Sekolah di Kamerun, 8 Siswa Tewas

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:24 WIB
PBB mengatakan serangan itu merupakan salah satu yang terburuk di wilayah tersebut hingga saat...
Dok : Reuters/Medcom.id

Kasus Covid-19 Prancis Lampaui 1 Juta

👤Nur/AFP/I-1 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:10 WIB
Pada Kamis, Prancis melaporkan rekor harian kasus baru sebanyak 41.622 dan jumlah pasien dalam perawatan intensif berada pada level...
AFP/Medcom.id

Jika Terpilih, Biden Janjikan Vaksin Covid-19 Gratis di AS

👤Nur/AFP/I-1 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:03 WIB
Lonjakan kasus terjadi kurang dari dua minggu sebelum pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 3 November. Virus menghantam sejumlah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya