Senin 17 Oktober 2016, 07:45 WIB

Filsafat Pendidikan Sukma Bangsa

Marthunis, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh | Opini
Filsafat Pendidikan Sukma Bangsa

MI/Duta

"AJARKANLAH anak-anak untuk pernah merasa gagal karena kegagalan juga bagian dari hidup."

Begitulah kira-kira sepenggal pesan yang diucapkan Pak Baedowi, salah seorang penggagas Sekolah Sukma Bangsa, di hadapan tenaga didik Sekolah Sukma Bangsa Aceh dalam sebuah seminar persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN) 2013 silam.

Pesan itu mengingatkan saya pada sebuah kutipan yang diucapkan Mary Tyler Moore, seorang aktris komedi situasi Amerika yang membintangi The Mary Tyler Moore Show, "Take chances, make mistakes. That's how you grow. Pain nourishes your courage. You have to fail in order to practice being brave."

Kegagalan sering kali menjadi momok menakutkan. Padahal, hampir tidak ada kisah sukses para pesohor yang tidak melewati fase gagal dalam hidupnya. Bill Gates, salah satu orang terkaya di dunia saat ini, pernah dikeluarkan dari Harvard dan gagal total saat menjalankan bisnis pertama bernama Traf-O-Data.

Harland David Sanders atau lebih dikenal dengan Colonel Sanders sempat ditolak 1.009 kali oleh berbagai restoran sebelum akhirnya KFC menjadi salah satu usaha waralaba paling digemari di seluruh dunia dengan jumlah gerai mencapai 18.875.

Oprah Winfrey, salah satu ikon wajah televisi dunia saat ini, pernah dipecat dari reporter karena dianggap tidak cocok untuk dunia pertelevisian.

Di Indonesia, ada Chairul Tanjung (CT). Di saat usaha koran ayahnya gulung tikar yang menyebabkan ekonomi keluarganya terpuruk, ia pun memulai usahanya dengan menawarkan jasa fotokopi di area kampus tempat ia belajar. Saat ini CT telah memiliki tiga bisnis utama yang bergerak di bidang perkebunan, media, asuransi, dan jasa keuangan dengan menaungi lebih dari 100 ribu karyawan.

Kegagalan dan kesuksesan sering kali hanya dibatasi sekat yang begitu tipis. Terkadang wujud kesuksesan hanya berada beberapa jengkal dari kegagalan itu sendiri. Menjadi sukses tanpa pernah merasakan kegagalan tentu terdengar absurd.

Namun, amat disayangkan ketika dunia pendidikan Indonesia hanya menuntut siswa untuk sukses. Apakah itu kesuksesan memperoleh nilai tinggi dalam mata pelajaran tertentu, memenangi Olimpiade atau aneka kompetisi yang digelar, hingga lulus dengan nilai tinggi saat ujian nasional (UN). Kesuksesan dalam ranah pendidikan kita hari ini hanya diterjemahkan hasil.

Episode gagal dalam praktik pendidikan kita sama sekali tidak mendapat tempat untuk diapresiasi. Karena itu, tidak mengherankan ketika UN digelar setiap tahunnya, selalu saja ada kasus kecurangan yang terjadi dengan berbagai macam modus operandi.

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013/2014 menunjukkan total jumlah SMP dan SMA di 34 provinsi di bawah supervisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ialah 35.488 dan 12.409. Namun, dari jumlah itu, hanya 503 sekolah dari seluruh Indonesia yang dinilai memiliki indeks integritas tinggi saat pelaksanaan UN, beberapa waktu lalu.

Potret itu setidaknya menampilkan mayoritas lembaga pendidikan di negeri ini masih saja sibuk 'memperjuangkan' hasil dengan cara yang tidak semestinya. Hanya segelintir lembaga pendidikan yang masih cukup 'waras' dengan memberikan ruang apresiasi terhadap proses, termasuk kegagalan.

Mengelola sekolah ala Sukma
Sebagai salah satu perintis berdirinya tiga sekolah Sukma Bangsa di Aceh (Pidie, Bireuen, Lhokseumawe), Pak Baedowi telah menempatkan penghargaan terhadap proses sebagai pilar utama dalam prakiek pendidikan dan pengajaran di sekolahnya.

Hasil yang memuaskan dalam bentuk prestasi hanyalah bonus dari rangkaian proses yang telah dilakukan dengan benar. <>A guts to fail ialah nilai lain yang berusaha ia tanamkan kepada seluruh siswa dan guru-gurunya. Bahkan, jika ada guru atau siswa yang berusaha mencederai proses, ia tidak segan-segan memecatnya.

Masih segar dalam ingatan saya saat 11 siswa SMA Sekolah Sukma Bangsa Pidie yang sedang mengikuti ujian nasional dipecat karena terindikasi membawa contekan (Serambi Indonesia, 17/4/2012).

Banyak pro-kontra yang terjadi saat itu, bahkan tidak sedikit pihak yang menengarai kebijakan tersebut sebagai bentuk kebijakan yang kejam. Namun, sedari awal Pak Baedowi telah menegaskan dan meletakkan penghargaan terhadap proses sebagai roh untuk membentuk generasi-generasi Aceh yang memiliki integritas.

Jauh sebelum mantan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia, Anies Baswedan, mencanangkan program penilaian indeks integritas sekolah, guru Baedowi telah lebih dulu mencantumkannya secara jelas dalam <>blue print dan statuta sekolah Sukma Bangsa.

Kini, setelah 10 tahun berkiprah, Sekolah Sukma Bangsa telah mampu melahirkan alumni yang memiliki integritas serta keberanian untuk tidak takut gagal. Salah satunya Arsyad. Dia merupakan salah satu generasi pertama Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe yang tidak lulus UN pada 2009.

Namun, fondasi nilai yang ditanamkan guru Baedowi membuat Arsyad tidak putus asa. Kegagalan baginya hanyalah satu langkah mundur untuk melompat jauh beberapa langkah untuk menuju mimpi dan cita-citanya. Hanya berselang tujuh tahun pascaketidaklulusannya kala itu, ia baru saja menyelesaikan studi S-2-nya di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Rasanya, tidak berlebihan jika saya menyebut guru Baedowi sebagai salah satu pembaharu dalam dunia pendidikan Aceh. Jika pun masih banyak masyarakat Aceh yang tidak terlalu mengenal guru Baedowi, itu hanya disebabkan 'dakwah' pendidikan yang dilakukannya berada di jalan sunyi dan jauh hari ingar-bingar publikasi.

Namun, kontribusinya sangat signifikan serta dirasa nyata bagi banyak generasi-generasi Aceh. Anak-anak Aceh yang mimpi dan cita-cita mereka sempat hancur berantakan direnggut konflik dan disapu tsunami kini telah bangkit, bahkan mereka telah menikmati mimpi yang diidam-idamkan yang dulu mungkin hanya sebatas utopia.

Bentuk kontribusi nyata lain yang digagas guru Baedowi bersama jajaran Yayasan Sukma ialah kerja sama beasiswa pendidikan S-2 dengan Tampere University, Finlandia, bagi 30 guru terpilih Sekolah Sukma Bangsa.

Kesempatan merasakan langsung atmosfer pendidikan di negara yang saat ini menjadi kiblat pendidikan dunia merupakan salah satu proyek jangka panjang untuk memperbaiki kualitas guru di Negeri Serambi Mekkah ini.

Mayoritas guru yang terpilih dalam program itu ialah putra-putri Aceh yang diproyeksikan mampu menjadi motor serta roh untuk meningkatkan mutu pendidikan generasi Aceh agar menjadi lebih baik di masa mendatang.

Guru Baedowi, terima kasih telah mengajarkan proses sebagai sesuatu untuk dinikmati. Itu ibarat kupu-kupu yang harus melewati fase menjadi kepompong sebelum ia bermetamorfosis menjadi indah menawan. The metamorphosis of your life begins with your mental appreciation for the cocoon stage of your journey. The adversities, the struggles, the perils of life are what either destroy your motivation or encourage your transformation to become what you were truly born to be A Winner! (DeWayne Owens).

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More